Komik Perjuangan (6), Eksplorasi Komik Perjuangan Moh Radjien

Sahabat, Komikus terdepan generasi 60-an yang banyak berkiprah dalam penerbitan komik di Surabaya adalah: Moh Radjien. Dari rak koleksiku yang terbatas, komik karya Moh Radjien yang terbanyak dibandingkan rekan sejawat sedaerahnya. Tarikan gaya gambarnya yang halus disertai ketelatenannya membuat latar, membuat gambar-gambarnya menarik dinikmati.

Ia banyak sekali membuat kisah-kisah panji dan babat, yang tampaknya, mewarnai di masa itu. Selain itu, sesuai tema yang kutulis beberapa hari ini, ia juga membuat karya tentang komik perjuangan. Salah satunya, ia membuat komik dokumenter berjudul Pemberontakan PETA di Blitar (diterbitkan Fa Grip Surabaya), tentang pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di era penjajahan Jepang.

Menyimak lembar buku sejarah, dalam persiapan menghadapi perang Asia Timur Raya, saudara tua Jepang merekrut pemuda-pemuda terbaik untuk menjadi militer. Para pemuda diharapkan, akan menjadi tenaga terlatih untuk membela Jepang. Akan tetapi, ibarat senjata makan tuan, anggota PETA justru muncul nasionalisme mendengar penderitaan rakyat. Pasukan PETA di Blitar di bawah sudanco Supriadi melakukan pemberontakan tanggal 14 Februari 1945. Itu sebabnya, ironis rasanya bila remaja sekarang lebih paham tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine. Padahal, tanggal ini ada sebuah peristiwa bersejarah dalam perjalanan negeri ini.

Dalam karyanya ini, Moh Radjien merekontruksi peristiwa monumental yang menunjukkan sikap kepahlawanan para pemuda PETA. Benar-benar karya yang berpegang pada alur sejarah. Itu sebabnya, aku menyebut komik dokumenterme, meminjam istilah dalam film.

Membaca Pemberontakan PETA di Blitar, kita jadi paham sungguh, ibarat membaca kronologis sejarah PETA. Mulai awal pembentukannya tanggal 3 Otober 1943, sampai kisah pemberontakannya. Betapa ide Jepang ini menarik minat pemuda dari berbagai kalangan dari petani, pedagang, pelajar, guru, bahkan politisi. Radjien juga rajin menggambarkan dengan detail saat para pemuda dilatih kemiliteran di Bogor lengkap dengan informasi materi pelatihannya.

Usai pelatihan, perwira PETA itu dikembalikan ke daerah masing-masing. Namun, ketika melihat kesewenang-wenangan Jepang yang menyengsarakan rakyat, sekelompok perwira PETA di Blitar muncul kesadaran untuk memberontak. Padahal, mereka paham sulit untuk mengalahkan Jepang yang lebih kaya pengalaman tempurnya dan didukung persenjataan yang lebih lengkap.

Kendati demikian, semangat perlawanan tak surut. Dibawah Supriadi, PETA tetap memberontak. Api perlawanan dikobarkan, meski berujung kekalahan. Dalam pemberontakan itu, Supriadi hilang. Para pejuang PETA yang tertangkap mesti menjalani pengadilan militer di Jakarta tanggal 1 April 1945. Bahkan, Radjien menuliskan keputusan pengadilan yang menghukum mereka, lengkap semua nama dan beratnya hukuman yang dijatuhkan. Ada yang dihukum mati, 15 tahun, 10 tahun, dan 2 tahun. (Betapa kuat dan lengkapnya referensi Radjien).

Radjien menutup kisahnya dengan ungkapan, “Mereka adalah pahlawan yang tidak boleh dilupakan namanya.”

Salah satu yang menarik dari komik berukuran 14 cm x 19 cm ini selain gambar dan tulisan Radjien yang begitu rapi adalah teknik panelnya. Ia membuat panel-panel yang kita kenal sekarang, multi panel yang per halamannya cukup bervariasi.

***

PETA hanya salah satu model komik perjuangan Radjien. Komik perjuangannya yang lain, memperlihatkan model yang beda lagi, yaitu Hardjotani Robinhood Indonesia. Tokoh ini tak tertera dalam kebanyakan buku sejarah. Cerita yang diangkat dari masa Surakarta Hadiningrat akhir abad 19 ini bisa jadi lebih mirip folklore. Ia serupa tokoh Pak Sakera yang namanya tak ada dalam buku sejarah, tapi sangat populer di tingkat lokal, seperti di Pasuruan dan Madura. Saking populernya di Pasuruan, tim sepakbola kota itu dijuluki Laskar Sakera.

Seperti juga kisah Pak Sakera, dulu aku mengenal tokoh Hardjotani dalam kisah ludruk atau ketoprak. Karena tidak menemukan referensi yang cukup, untuk sementara ini aku menyebutnya sebagai kisah rakyat saja. Tolong koreksi jika aku salah. Namun, dalam komiknya ini, Radjien menyebutnya kisah komik yang diterbitkan CV Warga Surabaya ini sebagai: sungguh terjadi. “Seorang sakti mandraguna yang hidup di akhir abad 19 di Surakarta Hadiningrat, yang menjadi momok pemerintah colonial Belanda,” tulis Radjien.

Radjien mengisahkan dua pemuda bernama Harjo (karena anak petani, ia dipanggil Harjotani) dan Sukamto, yang berguru olah kanuragan pada seorang guru sakti. Usai menamatkan pelajaran, untuk menguji ilmu Harjo ditugaskan ke Ponorogo untuk menghadapi para warok, sedangkan Sukamto ke wilayah Tasik, Jawa Barat untuk melawan benggolan sakti. Harjo berhasil mengalahkan warok dan pulang menghadap gurunya dengan membawa bukti barang rampasan dari warok. Sebaliknya, Sukamto mengaku pada gurunya sudah berhasil mengalahkan jawara setempat tapi tidak ada bukti. Oleh karena terbukti ilmunya ampuh, sang guru mengizinkan dua murid terkasihnya ini pulang ke kampung halaman.

Hardjotani menjadi kepala penyamun, khusus merampok orang-orang Belanda dan orang kaya pro Belanda. Hasil rampokannya dibagi-bagikan untuk masyarakat miskin. Karena mengganggu stabilitas nasional, Hardjotani diburu Belanda. Namun, saat ditangkap, Hardjo sanggup menghilang. Ketika suatu saat berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman tembak, peluru tak sanggup melukai tubuhnya. Belanda pun menugaskan Sukamto (murid seperguruan Hardjotani) untuk menghentikan ulah Hardjo.

Dua saudara yang berseberangan “haluan politik ini berhadapan. Namun, Hardjo tidak melakukan perlawanan. Ia rela berkorban demi Sukamto, demi kejayaan saudaranya. Hardjo pun tewas di tangah Sukamto. Sebelum tewas ia mengaku sudah puas berhasil mengangkat beribu-ribu orang miskin, dan berhasil merampok orang kaya pengkhianat bangsa, bahkan menghabiskan nyawanya.

Begitulah, cara Moh Radjien menggarap komik perjuangan.

(berikutnya komik perjuangan buatan pemerintah)

Kembang Larangan, 17 Agustus 2013

Random Posts

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video