Novel Grafis Rindu Dendam

Dalam dunia puisi, kita mengenal  Jan Engelbert Tatengkeng sebagai penyair yang dikategorikan dalam Angkatan Pujangga Baru. Pria kelahiran Kalongan, Sangihe, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907 ini, oleh paus sastra Indonesia HB Jassin bahkan disetarakan dengan kepujanggaan Amir Hamzah. Sebagaimana diketahui, angkatan Pujangga Baru merupakan sebuah angkatan sastra yang muncul tahun 1933. Angkatan Pujangga Baru membawa estetika baru dibandingkan sajak-sajak sebelumnya

Kumpulan puisi terkenal JE Tatengkeng yang meninggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Makassar ini berjudul Rindu Dendam . Rindu Dendam memuat 32 sajak Tatengkeng. Kritikus sastra menempatkan puisi Tatengkeng dalam aliran yang bercorak romantik religius. Religiusitas Tatengkeng antara lain terlihat dari puisinya berjudul Katamu Tuhan, Panggilan Pagi Minggu, Hasrat Hati, atau Mengheningkan Cipta. Dalam Kata-Mu Tuhan, Tatengkeng menuliskan, “KataMu Tuhan, yang kau benamkan/ Dalam kandungan sukmaku/ O, Tuhan telah kulemaskan/ Dalam lautan dosaku.

Oleh karenanya, Maman S, Mahayana mengungkapkan, karya Tatengkeng lebih berdimesi transcendental.

Selain bicara soal ketuhanan dalam perspektif Kristiani, Tatengkeng juga banyak menuliskan puisi romantiknya tentang alam dan keluarga. Rindu Dendam yang terbit tahun 1934 itu merupakan karya penting yang menjadi salah satu tonggak kejayaan puisi Indonesia.

***

Rupanya, seorang ibu yang menggunakan nama samaran Pinkgirlgowild begitu tertarik dengan Rindu Dendam. Ketertarikannya ini ia tuangkan dalam dua cerita berjudul Rindu dan Dendam. Dua cerita ini menjadi babon dari komik menarik berjudul Rindu Dendam yang ilustrasinya digarap oleh Racky Rahman (Rindu) dan Age Airlangga (Dendam). Komik Rindu Dendam ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, November 2012.

Dalam pengantarnya, Pinkgirlgowild, “Rindu Dendam terinspirasi dari karya JE Tatengkeng yang menurut saya gabungan dua kata yang memberikan sebuah gejolak besar dan sangat menarik untuk dieksplorasi. Saya mencoba mengeksplorasi kemarahan hebat…. Saya juga mencoba menyelami sebuah kerinduan terhadap apa yang telah hilang atau atas apa yang tak akan pernah dapat dimiliki.

Pink “hanya” terinspirasi dari teks kata  ‘Rindu’ dan ‘Dendam’ tapi tidak masuk dalam puisi-puisi Tatengkeng yang terkumpul dalam kumpulan sajaknya itu. Ia tidak masuk dalam religiusitas Tatengkeng juga tidak masuk dalam puisi-puisi romantiknya. Imajinasinya liar untuk menggambarkan rasa ‘rindu’ dan ‘dendam’ itu. Jadilah sebuah kisah yang menarik, yang tertuang dalam buku dengan label novel grafis dan kumpulan puisi. Memang, Pink dalam bukunya ini juga menuliskan puisi-puisi.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu komik berjudul Rindu, puisi-puisi Pink, dan ditutup dengan komik Dendam. Berbeda dengan wujud komik pada umumnya, yang tersaji dalam novel grafis ini berupa ilustrasi dari teks yang dituliskan Pink. Tidak tersaji panel-panel komik, tidak ada balon dialog. Dan, cerita yang dituliskan Pink lebih berbentuk puisi.

Larik-larik puisi Pink lebih cenderung naratif, bukan simbolik. Pilihan ini lebih memudahkan sang illustrator untuk memindahkan bahasa teks dalam gambar. Meski tentu saja, sang juru gambar benar-benar memahami teks. Gambar yang ia tuangkan tentu saja merupakan hasil eksplorasinya.

Rindu merupakan nama seorang perempuan muda yang lahir tanpa kehadiran sosok ayah. Nasib Rindu begitu celaka karena sang ibu pun meninggal. Sejarah buruk nasib ibunya tak membuatnya trauma. Kelak ia tetap merindukan sosok pendamping. Dan ia mengejar sosok itu sampai ke Inggris dan Jepang. Dua pria ini ia akrabi lewat dunia maya

Sampai di sini, Pink tidak memberi informasi kenapa Rindu mesti merindukan seorang suami di negeri yang jauh. Sebuah lompatan cerita yang cukup mengganggu.

Di Inggris ia bertemu sang pria pujaan namun berakhir dengan kekecewaan. Lantas bagaimana di Jepang? Ia memang bertemu dengan sosok kekasihnya, berhubungan badan sampai berbadan dua, tapi sang kekasih meninggal dalam kecelakaan. Ia pulang ke Indonesia dan melahirkan anak pria. Pendulum nasibnya senada dengan kisah tragis ibunya.

Kisah komik kedua berjudul Dendam juga sama tragisnya. Silakan Anda simak sendiri jika berkenan membaca novel grafis ini.

Bagi saya, lepas dari kelemahannya, Rindu Dendam memberi warna dalam penerbitan komik kita. Kedua illustrator sanggup memindahkan narasi Pink menjadi bahasa gambar yang menarik. Apalagi sebagai “teks puisi” sebenarnya tidak mudah bagi illustrator. Namun, mereka berhasil menyajikan gambar-gambar yang imajinatif. Inilah komik puisi yang unik dan cukup menarik.

Kembang Larangan, 17-12-2012

Random Posts

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video