Epos Komik Itu Bernama Jaka Sembung

“Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung bok…” ini ungkapan gaul anak zaman sekarang. Nama Jaka Sembung dibawa-bawa, meski remaja zaman sekarang itu tidak begitu kenal tokoh komik bernama Jaka Sembung. Ini menandakan tokoh Jaka Sembung memang begitu populer. Ketenarannya juga ditunjang dingkatnya kisah komik ini ke layar lebar, bahkan dalam beberapa judul.

Memang begitulah, salah satu komik paling populer dalam sejarah komik Indonesia adalah serial Jaka Sembung karya komikus kenamaan Jair Warniponakanda. Kepopulerannya terletak pada keberhasilan kisahnya  tentang perjuangan bangsa. Ia amat kaya unsur dramatika: kisah-kisah kemanusiaan, heroisme, kasih sayang, pembauran, dipadu dengan fantasi.

Saya menyebutnya sebuah epos besar perjuangan dalam babakan kisah yang kolosal. Kolosal, tidak hanya karena tokoh yang terlibat demikian banyak,  serialnya pun begitu panjang: ada 21 serial. Dalam catatan saya serial terpanjang dalam genre komik silat.

Mulai dibuat tahun 1968 lewat judul Bajing Ireng, selesai tahun 1977 dipungkasi dengan judul Wali Kesepuluh. Semua serial ini saling bertemali. Sejak awal Jair memang mendesain Jaka Sembung dalam 21 serial. Namun, saking populernya, Jair membuat beberapa seri Jaka Sembung lagi. Serial tambahan ini saya anggap pelengkap saja, bukan esensi penting sebagai bagian dari 21 serial sebelumnya. Seri tambahan ini boleh tidak ada, bahkan beberapa judul tambahan ini mengganggu kekukuhan Jaka Sembung di 21 serial. Di beberapa bagian, Jair justru mengingkari kredonya. Saya akan membahasnya nanti.

>>>

Serial Jaka Sembung dibagi dalam beberapa babak: setidaknya ada babak pengenalan tokoh,  fase pengasingan, konsolidasi, klimaks perjuangan, dan akhir perjuangan.  Dalam babak pengenalan tokoh yang tertera dalam episode awal, Jair memperkenalkan tokoh-tokoh protagonis: para pendekar pejuang bangsa. Karena kisahnya fokus pada perjuangan bangsa di masa penjajahan di abad 17, para pendekar pribumi ditempatkan sebagai sosok protagonist.

Oleh karenanya, kolonial Belanda ditempatkan sebagai antagonis.   Meski begitu, Jair tidak menempatkannya dalam posisi hitam putih. Banyak bangsa sendiri yang melakukan khianat, sebaliknya ada bangsa Belanda yang simpati pada perjuangan Nusantara. Di tengah-tengahnya, sesuai realitas masyarakat waktu itu, Jair juga melibatkan warga Cina dan Arab. Ada Cina dan Arab yang pro pribumi, ada pula yang pro Belanda.

Sentral cerita memang ada pada Jaka Sembung yang bernama asli Parmin. Namun, di judul awal, Jair lebih dulu memperkenalkan Roijah, istri Jaka Sembung. Tentu sebagai pemimpin perjuangan bangsa, Jair memberi porsi kuat pada Jaka Sembung. Judul-judul berikutnya, Jair mempekenalkan tokoh lain, saudara kandung Jaka Sembung juga rekan-rekan seperjuangannya. Antara lain Karta, Kunang, Matusea, Wori, Awom, Baureksa. Para perempuan pejuang  seperti Ranti, Mirah, lengkap juga dengan pejuang cilik Kinong, Kartaran, Mang Pii, Thomas.

Karena pada periode itu, yang paling populer adalah genre komik silat, kisah perjuangan Jaka Sembung dikemas dalam bingkai silat. Maka itu, sepanjang serial Jaka Sembung, kental adegan pertarungan selayaknya cerita-cerita silat. Kemampuan olah kanuragan ala Timur, melawan olah teknologi ala Belanda. Diperkaya dengan adegan pertempuran silat kubu Jaka Sembung melawan bangsa sendiri yang berpihak pada sang kolonial.

Dalam kisahnya, Jair berobsesi pada “persatuan bangsa” rada menyimpang dari literatur sejarah yang menyebutkan, era abad 18, fase perjuangan bangsa masih bersifat kedaerahan. Meski kurun waktu yang dipinjam Jair adalah masa-masa kerajaan, Jair tidak menempatkan Jaka Sembung bertautan langsung dengan latar sejarah yang nyata. Dengan demikian, Jaka Sembung menempati dunianya sendiri.

Dengan pilihan ini, Jair bebas berfantasi. Jaka Sembung yang berasal dari Cirebon, bisa dikisahkan dibuang sampai ke Papua. Ini strategi Jair untuk melibatkan juga tokoh-tokoh dari Timur sebagai bagian dari obsesi persatuan itu. Sekaligus ada perjalanan antropologis tokohnya ke berbagai wilayah, meski tidak sekental perjalanan Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th.

Dalam menjalin kisah, Jair cukup realistis. Meski di berbagai babak kubu Jaka Sembung meraih kemenangan, tapi di kisah Kiamat di Kandang Haur, markas Jaka Sembung berhasil disapu Belanda dengan kekuatan senjatanya.

>>>

Lewat kisah Jaka Sembung, Jair telah menanamkan bibit-bibit nasionalisme kepada pembacanya. Kisah ini melekat di benak pembacanya dalam waktu yang panjang. Yang bahkan tidak diduga Jair, sebagian masyarakat Cirebon menganggap Jaka Sembung adalah tokoh yang benar-benar ada di masa lalu. Menurut cerita Jair, “Saya pernah mendengar, masyarakat di sekitar Gunung Sembung, sampai mendoakan arwah Jaka Sembung. Ini, kan, tidak benar.”

Ada beberapa faktor yang membuat kisah ini begitu dekat dengan pembaca dan oleh karenanya dianggap sebagai sebuah kisah nyata.  Jair begitu pandai membuat latar kisah. Tempat-tempat persinggahan Jaka Sembung benar-benar nyata: Cirebon, Kandang Haur, Indramayu, dan seterusnya.

Tokoh-tokoh dan kisah dalam komik ini juga dibuat tidak terlalu mengawang-awang. Dalam kredo Jair, “Jaka Sembung adalah pendekar yang bermasyarakat.” Ia tidak berumah di angin, tapi bermasyarakat seperti kebiasaan warga pada umumnya. Kadang bertani, salat, makan-minum, mandi, dan seterusnya.

Tidak seperti pendekar karya komikus lain yang cenderung “punya kostum” (seperti Si Buta yang selalu mengenakan baju kulit ular atau Mandala karya Man yang selalu tampil bertelanjang dada), Jaka Sembung mengenakan pakaian seperti warga pada umumnya.

>>>

Lewat Jaka Sembung, Jair meneguhkan posisinya sebagai komikus dengan ciri khas perjuangan kebangsaan. Dalam karya lainnya, persoalan ini kerap dimunclkan.   Namun, tiada gading yang tak retak. Di luar kehebatannya bertutur dan merangkai kisah, ada beberapa catatan yang membuat karya Jair cacat. Ia termasuk suka mengumbar seks. Dalam panel-panelnya, ia tak segan menggambar wanita telanjang dan adegan seks.

Dari sisi gambar, Jair bukan termasuk komikus yang gambarnya indah. Ia memilih melukis dengan gaya ekspresif, tidak mementingkan detail anatomi. Bisa jadi, pilihan ini karena di masanya, Jair komikus yang sangat produktif dan karyanya dipesan beberapa penerbit.

Ketergesaan itu yang barangkali membuat Jair terpeleset pada data yang kurang akurat. Misalnya saja ketika memperkenalkan Wori (sahabat Jair). Wori disebutnya suku Maori, Australia, lengkap dengan senjata bumerang. Padahal, suku asli Australia adalah aborigin, bukan Maori yang sebenarnya suku Selandia Baru.

Petualangan Jaka Sembung yang paling gres adalah ketika tahun lalu Jair membuat Jaka Sembung vs Si Buta. Dalam satu perbincangan, Jair mengatakan, kisah ini dibuat untuk mematahkan pendapat masyarakat yang menganggap Jaka Sembung adalah kisah nyata. Itu sebabnya, Jaka Sembung dipertemukan dengan Si Buta dari Goa Hantu. Dunia komik memang mengesahkan jalan yang ditempuh Jair.

Sebenarnya, pematahan ini sudah dilakukan Jair ketika ia membuat tambahan seri Jaka Sembung, di luar 21 serial yang saya sebut di bagian awal tulisan. Yaitu ketika ia mempertemukan Jaka Sembung dengan Nyi Ratu Kidul dalam kisah Ratu Pantai Selatan dan Banjir Darah di Pantai Selatan. Tambahan-tambahan judul ini, bagi saya malah memperlemah Jaka Sembung. Sebab, ia seolah mengingkari kredonya bahwa Jaka Sembung adalah pendekar rekaan dalam realisme perjuangan bangsa.

Lepas dari kekurangannya, tak terbantahkan, Jaka Sembung termasuk komik yang berhasil dan populer dalam perjalanan sejarah komik Indonesia.

Sekuel kisah Jaka Sembung

  1. Bajing Ireng, 63 halaman, Maranatha, Januari 1968,
  2. Si Gila dari Muara Bondet, 64 hal, Maranata, Maret 1968,
  3. Bergola Ijo, 66 halaman, Maranatha, 1968
  4. Gembong Wungu, 130 hal, PT Bintang Kejora, 1968
  5. Air Mata Kasih Tertumpah di Kandang Haur,1968
  6. Si Cakar Rajawali, 63 halaman, UP Aries, Agustus 1968
  7. Pendekar Gunung Sembung, 574 hal, PT Bintang Kejora,1969
  8. Leonard Van Eisen, 133 hal, PT Bintang Kejora, 1969
  9. Badai Laut Arafuru,  252 hal, 1972
  10. Papua, 372, UP Rosita, 1972
  11. Iblis Pulau Aru, 372, 1972
  12. Wori Pendekar Bumerang, 620 hal,UP Rosita, 1973
  13. Singa Halmahera, 558 hal, UP Rosita, 1973
  14. Kinong, 558 hal, UP Rosita, 1973
  15. Dia Bajing Ireng, 744 hal, UP Rosita, 1973
  16. Dia Bangkit dari Kubur, 496, UP Rosita, 1974
  17. Kabut Ciremai, 629 hal, UP Rosita, 1975
  18. Empat Pendekar Ciremai, 528 hal,  UP Rosita, 1975
  19. Asiong, 720 hal,  UP Rosita, 1976
  20. Kiamat di Kandang Haur, 720 hal, UP Rosita, 1977
  21. Wali Kesepuluh, 720 hal, UP Rosita, 1977

Sekuel Jaka Sembung tambahan

  1. Jaka Sembung Sang Penakluk Ratu Pantai Selatan, 479, UP Rosita, 1987
  2. Banjir Darah di Pantai Selatan, 383 halaman, UP Rosita, 1988
  3. Tahta Para Bangsawan
  4. Jaka Sembung vs Si Buta, 109 hal, Pluz

Kembang larangan, 24 Juli 2011

Random Posts

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video