Mas Ags dalam Kenangan…

Kali ini, aku tidak akan bercerita tentang komik, tersebab rasa duka masih singgah di hati. Seorang sahabat terbaik, Ags Arya Dipayana, yang biasa disapa Aji, aku memanggilnya Mas Aji, telah dipanggil pulang, pada Selasa (2/3) sekitar pukul 22.30. Ia pergi di tengah aktivitasnya bersama 14 dalang yang tengah bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Ia rencananya memberikan semacam materi untuk para dalang di Purwakarta.

Jasadnya sudah terbaring tenang di TPU Jeruk Purut, Jakarta setelah disemayamkan di rumah duka di Kompleks P&K, Cipete. Banyak sahabat yang mengantarkan kepergian sosok yang semasa hidupnya dikenal sebagai penggiat teater ini. Meski ia juga menulis puisi indah, dalam satu kesempatan dia mengatakan, tak pantas didisebut penyair karena karya puisinya tak begitu banyak.

Beberapa tokoh hadir di pemakamannya. Antara lain Slamet Rahardjo, Putu Wijaya, Nano Riantiarno dan istri, Dwiki Darmawan, Danarto, Arswendo Atmowiloto,  Sukardi Rinakit, Jajang C Noer, Renny Jayusman, Yanusa Nugroho, Nanang Hape, Sujiwo Tejo, dan masih banyak lagi. Aku nyelip di antara ratusan pelayat, ingin ikut mengantarkan sosok seniman serba bisa ini.

>>>

Aku ingin mengenangkan perkenalanku dengan Mas Aji, yang di mataku sosok hebat. Semula, aku mengenal karya-karya yang dimuat di Majalah Hai di tahun 78-an, ketika aku SMP. Ia yang saat itu masih belia, merupakan sosok penulis produktif di Hai. Mulai puisi, cerpen, dan sesekali  cerita bersambung atau novelet. Pernah profilnya dimuat di Hai. Aku baru tahu, penulis yang kukagumi itu berambut gondrong bergelombang dengan tubuh yang kecil. Sekian lama aku hanya mengenal namanya.

Sampai suatu ketika, aku yang manusia agraris ini mesti mengadu nasib di Jakarta, menjadi seorang jurnalis sebuah tabloid.  Di keramaian Jakarta, aku merasa sunyi. Di tengah kesunyian itu, aku mencoba mencari sesuatu yang menyeimbangkan. Kala itu, aku menemukannya di dunia sastra dan teater. Bukan sebagai pemain, hanya penikmat. Tiap ada pentas teater, aku mencoba untuk selalu nonton.

Suatu ketika yang aku sudah tidak begitu ingat waktunya, aku menyaksikan pentas Teater Tetas yang disutradarai oleh Ags Arya Dipayana. Kelompok ini pentas di Teater Dalam Gang, rumah mendiang Teguh Karya, di bilangan Tanah Abang. Saat itulah (entah tahun berapa), aku memberanikan diri berkenalan dengan Mas Aji yang sudah tidak gondrong lagi.

Sama sekali aku tidak menduga, Mas Aji sosok yang amat sangat santun dan rendah hati. Aku yang anonim ini, tak canggung lagi. Setelah itu, aku dan Mas Aji sering bertemu dalam berbagai acara kesenian. Ia selalu mengabarkan bila ada pentas. Karya-karya panggungnya sering kutonton. Apalagi, Mas Aji kerap mengangkat lakon dari dunia pewayangan yang aku juga menggemarinya. Misalnya saja Bayi Aliran Sungai, Wisanggeni Berkelebat, Julung Sungsang, Raung Kuda Piatu, dan masih banyak lagi.

Terkadang, aku memberanikan diri mengkritiknya, saat ia mengubah format teaternya. Pernah memang, ia tidak lagi memanggungkan “teater narasi” tapi semacam “teater tubuh” yang mengeksplorasi gerak tubuh (minus kata-kata), seperti yang bisa dimainkan Teater Garasi, atau dulu Teater Sae dan Kubur.

Suatu ketika aku mengatakan dalam bahasa Jawa ngoko (kami memang selalu ngobrol dengan bahasa Jawa ngoko), “Mas. Mbok mempertahankan karakter teater Tetas yang masih ada narasinya.” Kala itu, aku cemas karena menurut pemahamanku yang cethek, aktor-aktor Mas Aji seperti tiba-tiba mesti bermain dengan gaya ungkap baru yang belum dikuasainya.

Dengan enteng ia menjawab, “Kowe iki koyo ngerti wae.”yang kira-kira berarti., “Kamu ini sok tahu.” Tapi, lalu kami tertawa dan dengan serius dia mengatakan, arti sebuah proses. Penonton mesti diajari juga untuk memahami simbol. Ini penting. Aku hanya membatin, “Yo wis sak karepmu, Mas.”

Pernah suatu ketika dia meledek ketika suatu saat tabloid di mediaku menggusur rubrik cerpen, “Wah, Henry bekerja di tabloid yang tidak berbudaya itu….” Tentu, ia hanya canda khasnya. Sering memang Mas Aji bercanda dan saling ledek.

Dalam pertemuan lain lagi aku menceritakan, baru bisa menulis buku tentang tokoh, bukan buku yang berisi pemikiran. “Wis apik kuwi. Teruske wae” Sudah bagus itu, teruskan saja. Begitulah caranya membesarkan hati.

>>>

Sesekali aku main di Wapres, Bulungan, tempat Mas Aji berteater dan bermarkas bersama kawan-kawan Teater Tetas. Dan, ngobrol-ngobrol di meja kecil perjamuan, Mas Aji suka sekali moci, membuat teh poci. Ia kerap menceritakan proses kreatifnya. Aku senang mendengar ceritanya, banyak pemahaman baru yang kudapat. Suatu ketika, tanpa janjian, aku bertemu Mas Aji di Solo. Waktu itu, aku ikut mangayubagya terbitnya buku Ki Slamet Gundono. Begitu ketemu Mas Slamet, dalang wayang suket itu langsung bilang, “Mas Aji wis tekan kene.”

Mas Aji ikut memeriahkan acara dengan membacakan teks dalam buku Ki Slamet Gundono. Ia memang aktor jempolan. Mas Aji termasuk sosok yang setia kawan. Ia rela menempuh perjalanan ke luar kota demi seni dan sahabat. Ia kerap memberikan workshop tentang teater dan kebudayaan ke berbagai kota.

Begitulah, meski tidak begitu sering, aku dan Mas Aji terus bersapa, sesekali ber-SMS sekadar tanya kabar. Tak terasa sudah 10 tahun lebih kami bersahabat. Ia terakhir kontak ketika menggagas acara teater di Taman Ismail Marzuki. Ia memang aktif di komisi teater Dewan Kesenian Jakarta. Sayang, karena waktu itu, sudah mulai sering tugas di luar kota, aku tidak datang ke acaranya.

Tiba-tiba saja, seorang teman mengabarkan, “Mas Adjie, sahabat kita semua, sudah dipanggil Tuhan.” Sejenak aku tertegun dan tertunduk, kemudian mengantarnya ke temapt istirahat panjangnya.

Aku ikut merasa kehilangan sosok yang begitu idealis. Ia yang pernah “mapan” kerja di biro advertising, memilih kembali hidup berkesenian. Kalau ia mau, ia dapat saja menjadi sutradara sinetron yang lebih menjanjikan dari sisi materi. Tapi, ia tidak mau. Sikap kesenian di jagat teater ini, membuat Harian Kompas pernah menulis tentangnya, “Ada Sorga tapi Kami Memilih Kelam.”

Membaca ini, Mas Aji berkomentar, “Kompas salah. Siapa bilang hidup saya kelam!”  Ah memang bukan kelam. Sosok yang menulis komposisi lagu dari puisi Sapardi  Djoko Damono ini, bahkan oleh Putu Wijaya, digambarkan mirip cahaya. Cahaya yang ikut menerangi iklim kesenian.

Puisi yang ditulisnya ini pas mengantarkan kepulangannya:

“Tutuplah pintu rumah-Mu, rapat-rapat.
Aku akan segera datang mengetuknya.”

Selamat jalan Mas Aji…

Kembang Larangan, 4 Maret 2011

Foto diambil dari FB-nya Mas Ags.

Random Posts

Comments (2)

  1. henry says:

    Benar Mas Yoss, semoga jejak sosok-sosok seperti almarhum, memberi ruang inspirasi bagi kita semua. Terima kasih atas doa, juga kunjungannya.

  2. superyoss says:

    Kita adalah ‘tokoh sejarah’, yang memiliki area dan tempat bermain masing-masing. Lewat tulisan (dan sekarang lebih meluas dengan blog-blog kita), maka semakin kuatlah ‘jejak-jejak kaki’ yang ditinggalkan para pendahulu kita, dan demikian juga jejak-jejak yang kita tinggalkan bagi generasi setelah kita…

    Walau saya kurang mengenal almarhum, saya ikut mendoakan, semoga Tuhan memberikan tempat yang layak bagi beliau!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video