Komik Petruk Gareng: Dari Indri sampai Tatang

Meski tak semeledak komik bergenre silat dan superhero, di masa komik Indonesia menemani hari-hari sebagian anak Indonesia, komik jenis humor juga tampil memberi warna. Di masa itu, ada serial tentang komik  Abunawas, Nasarudin Hoya, yang ceritanya adaptasi dari luar. Namun, yang paling populer adalah komik humor dengan tokoh panakawan.

Secara karakter, kwartet panakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong (dalam khasanah Sunda dikenal dengan nama Semar, Gareng, Dawala, Cepot). memang sudah sangat terkenal. Sebelum “manggung” di dunia komik, kwartet tumaritis ini lebih dikenal sebagai tokoh panakawan dalam dunia pewayangan.

Panawakan, tidak dikenal dalam cerita Mahabarata dan Ramayana. Ia adalah karakter karya pujangga kita, yang sampai sekarang tidak ketahuan siapa penciptanya. Uniknya, dalam kisah-kisah pewayangan baik wayang kulit maupun wayang orang, panakawan muncul dalam setiap zaman. Semar, Gareng, Petruk, Gareng di kubu Pandawa dan Togog serta Bilung di kubu Kurawa. Biasanya, para panakawan ini menyertai perjalanan para ksatria, berfungsi memberi penghiburan dan nasihat pada ksatria.

Dalam wayang kulit, panakawan muncul dalam babak Goro Goro, menjelang cerita menuju klimaks. Kehadiran para panakawan seolah merupakan kritik para pujangga Nusantara terhadap cerita Mahabarata maupun Ramayana. Sebagaimana diketahui, kedua kisah asal India itu, merupakan kisah para ksatria. Tak ada ruang bagi rakyat jelata.

Ketika lakon Mahabarata dan Ramayana menjadi bagian dari masyarakat Nusantara, pujangga kita membuat tokoh carangan dengan menghadirkan sosok abdi/rakyat dengan wujud panakawan tadi. Meski sesungguhnya Semar adalah dewa, ia menyamar dalam wujud rakyat jelata.

Beberapa lakon carangan kisah wayang juga memberi tempat pada kemunculan rakyat. Salah satu lakon yang sangat populer adalah Petruk Dadi Ratu. Ketika penguasa negara melalaikan rakyatnya, maka rakyat akan bertindak. Petruk sang rakyat jelata, menjelma menjadi Raja dan berhasil mengalahkan ksatria. Petruk hanya bisa dikalahkan oleh Gareng. Dalam tafsir saya, ketika penguasa berbuat lalim, rakyat bisa berbuat apa saja untuk menuntut keadilan. Dan, rakyat tak bisa dikalahkan penguasa, rakyat hanya bisa kalah oleh rakyat.

Dugaan saya, pujangga yang membuat para panakawan ini, sekaligus ingin memberi ruang pada rakyat sekaligus juga sebagai kritik untuk penguasa. Dalam pertunjukan wayang pun, kehadiran panawakan menjadi penyegar. Kemunculan abdi yang pintar melawak ini sekaligus menjadi jeda, pergantian babak dari kisah wayang.

>>>

Kepopuleran panakawan ini menjadi inspirasi bagi komikus kita untuk menuangkannya dalam komik. Tak hanya satu komikus, tapi banyak komikus yang mengangkat kwartet tumaritis ini. Tak ada rujukan yang menyebut, siapa komikus yang pertama kali membuat komik dagelan panakawan.

Namun, dari koleksi komik saya, dilihat dari urutan terbitnya, yang paling tua adalah komik Petruk Gareng karya Indri Soedono di tahun 60-an (kalau ada teman kolektor yang memiliki komik Petruk Gareng karya komikus lain yang lebih tua, silakan meralatnya). Tahun 60-an dan 70-an itu, Indri Soedono memang paling roduktif. Ia membuat puluhan komik yang diberi label Dagelan Petruk Gareng. Sebagian besar karyanya, adalah semacam komik strip, 1-2 halaman selesai yang diterbitkan oleh CV Loka Tjipta Semarang.

Berbeda dengan sebagian besar komik silat yang bersetting Nusantara lama, setting Petruk Gareng lebih modern, situasi kekinian, yang tampaknya setting ketika komik ini dibuat. Dengan demikian, kita bisa saksikan atribut-atribut seperti mobil, sepeda motor, baca koran, main sepakbola, dan seterusnya.

Indri juga sangat fleksibel, ia bisa membuat setting perkotaan yang bisalah disebut masyarakat urban, bisa juga masuk dalam masyarakat agragris. Kelucuan yang ditampilkan dalam “komik strip’ itu pada umumnya kemalangan tokoh-tokohnya. Kemalangan yang disebabkan tidak hanya slapstick tapi juga akibat dari perbuatannya. Selain tokoh para panawakan ini, pola yang digunakan Indri, juga menampilkan tokoh-tokoh lain.

Selain itu, Indri juga membuat  Petruk Gareng dalam satu cerita utuh, misalnya Mencari Jejak Pendekar Siluman. Bahkan, Indri pernah mengadaptasi buku sastra karya W. Vandersteen dalam judul Kepala Burung Hantu. Ini menunjukkan betapa luas wilayah pengetahuan Indri pada sastra dunia. Terkadang, dalam kisahnya Indri juga mengkritik sikap hidup masyarakat.

Tak berlebihan bila saya menyebut, di genre ini, Indri Sudono adalah yang terdepan.

Satu lagi kelebihan Indri adalah gambar naturalisnya yang begitu rapi. Ia sangat telaten membuat gambar dengan arsir yang digarap apik. Gambar Indri di jalur komik humor ini, adalah yang terindah.

>>>

Sukses Indri membuat dagelan Petruk Gareng diikuti komikus lain seperti Oerip, Rini AS, Leo, Sopoiki, Tjepi, Ricky NS, dan Tatang S. Nama Tatang S, belakangan sangat tenar menggarap Petruk Gareng. Komikus yang satu ini pandai beralih rupa. Di tahun 70-an, gaya gambarnya meniru Ganes TH, sempat pula garis gambarnya mengikuti Henky, komikus yang membuat satu sindikasi komikus bernama Henky & Co.

Namun, saya menaruh hormat kepada Tatang S. Tahun 80-an, komik meredup, ia termasuk yang mencoba bertahan dengan membuat komik Petruk Gareng dengan format sederhana. Komiknya ini dijual murah dengan distribusi langsung ke SD-SD lewat penjual mainan.

Tidak perlu bicara soal kualitas. Komik dengan penerbit, kebanyakan Gultom Agency ini, dibuat tipis dengan kertas buram. Tatang pun membuat cerita sederhana, yang terkadang disesuaikan dengan tren masa itu. Misalnya saja ketika di teve banyak muncul cerita hantu-hantuan, Tatang banyak membuat cerita Petruk Gareng dengan lanskap ini. Betapa pun, Tatang sudah berjasa mengisi masa sebagian kanak-kanak di masanya.

Kini, komik dagelan Petruk gareng tinggal jadi kenangan, mungkin tersimpan rapi di rak-rak para kolektor.

Kembang Larangan, 28-3-2011

Random Posts

Comments (1)

  1. wiwied says:

    Topik menarik pak, Dari segi kualitas gambar, cerita dan produktivitas karya, saya menjagokan Indri Soedono, Leo dan Sopoiki. Sisi menarik lain dari 3 komikus ini, adalah cara mereka mendesain kover komiknya yang kreatif dengan garis garis yang tegas dan warna-warna yang terang, buat saya memandangi kovernya merupakan keasyikan tersendiri. Saya perhatikan, Indri S membuat sendiri kover untuk komiknya, Leo dan Sopoiki juga membuat sendiri kover komiknya, tapi kadang-kadang kover Leo dan Sopoiki dibuatkan orang lain, entah apa alasannya, tapi bagi saya ini agak mengganggu dan mengurangi “nilai” dari komiknya sendiri.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video