Cergam Kampungan: Upaya Lepas dari “Kutukan”
Ini sebuah tulisan yang saya tulis setahun silam, menyambut lahirnya Cergam Kampungan. Saya masukkan ke henrykomik.com semata pendokumentasian tulisan saya, sekaligus buat bacaan teman yang dulu, belum sempat baca:
Bertepatan dengan Hari Valentine dan Imlek, di Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (14/2), perjalanan sejarah komik Indonesia mencatat secara resmi hadirnya kumpulan cergam Kampungan. Kenduri dilakukan dengan menghadirkan diskusi dengan pembicara penyelia Ceram Kampungan Beng Rahadian dan dua kontributor komikus senior Hans Jaladara dan komikus berbakat cemerlang Aji Prasetyo dengan moderator Surjorimbo Soeroto.
Dalam kesempatan bicara dalam forum ini saya mengatakan kegembiraan sekaligus kecemasan atas hadirnya Cergam Kampungan ini. Gembira, tentu saja, sebagai pencinta komik lokal, saya senantiasa berbahagia dengan terbitnya komik lokal, apalagi sebuah media komik yang direncanakan terbit secara berkala. Kehadirannya, pastilah diharapkan memeriahkan komik Indonesia yang belakangan mulai menghangat, tapi belum panas itu. Dan, inilah cemasnya, saya sungguh tak berharap, Cergam Kampungan bernasib sama dengan pendahulunya: majalah komik atau media komik yang diniatkan terbit secara rutin itu.
SEJARAH KUTUKAN
Sejarah komik Indonesia mencatat majalah komik Eres yang hadir tahun 60-an, hanya bertahan 16 nomor (ini termasuk yang berumur panjang), kemudian tahun 80-an muncul majalah komik Dela yang hanya bertahan beberapa nomor, meski mengusung komikus legendaris semisal Wid NS (Godam, judul Setan) dan Teguh Santosa yang mengkomikkan naskah Pendekar Mata Keranjang, Kho Ping Hoo. Lalu, belum lama, Sequen hanya bertahan 4 tahun. Masih ada lagi Sinergi yang dikomandani Johan Manandin, yang sejauh ini hanya bertahan 2 nomor, lalu Sparx yang muncul di 3 edisi.
Sebagian besar komik di atas, “menyisakan dosa” kepada pembacanya karena, sebagai media yang dimaksud terbit berkala, komik pun dimuat secara bersambung yang bertujuan untuk mengikat pembaca. Masalahnya, ketika ternyata media itu tutup, tutup pula bayangan benak pembaca akan cerita komik yang masih dalam tahap awal itu. Ibarat sebuat kutukan, media komik seperti di atas, tak ditahbiskan untuk berusia panjang.
Dengan riwayat kelam seperti di atas itulah Cergam Kampungan muncul. Saya sangat tidak berharap, “kutukan” yang sama akan menimpanya. Saya berharap sungguh sekaligus percaya, penggagas Cergam Kampungan sudah menelisik riwayat kegagalan pendahulunya agar tidak bernasib sama.
Saya mencatat, ada sejumlah upaya “meruwat” Cergam Kampungan agar terbebas dari Batara Kala kegagalan. Pertama, Cergam Kampungan adalah kompilasi cerita (dalam nomor awal bertema Romansa. Selanjutnya, tiap nomor direncanakan dengan tema berbeda-beda) yang memuat 8 cerita dengan 8 komikus dan masing-masing cerita dibuat selesai, istilah Beng adalah cergam pendek. Langkah ini cerdas untuk “mengurangi dosa” andai Cergam Kampungan tak berlanjut.
Kedua, pengelola berusaha keras menyajikan kualitas, baik dari sisi cerita dan gambar dengan menampilkan dua generasi komikus. Generasi sepuh diwakili Hans Jaladara dan Pamudji MS dan generasi muda diwakili Aji Prasetyo, Jon Kobet, dll. Di sisi cerita, variasi tema dikedepankan dengan mengetengahkan “kedalaman”. Tidak cukup pencerita pandai bertutur, tapi bagaimana mengisi cerita dengan persoalan lebih serius.
Sisi gambar, saya melihat sebuah karnaval dalam Cergam Kampungan. Yang saya maksud karnaval adalah betapa masing-masing komikus memiliki karakter yang kuat. Goresan itu kemudian bisa dikenali menjadi ciri khasnya. Seperti misalnya ketika melihat gambar Hans, tanpa melihat namanya pun saya akan mengenali gambarnya. Komikus muda di Cergam Kampungan, ada potensi besar kea rah itu.
Kemudian, Cergam Kampungan menggandeng penerbit Nalar sebagai distributor. Karya bagus tanpa pemasaran bagus tentu akan menjadi sia-sia. Kombinasi inilah, yang saya harap, akan mengurangi kecemasan saya.
NUKILAN CERITA
Saya akan mencoba masuk dalam dua cerita favorit saya di Cergam Kampungan, sekaligus dua komik dari dua komikus generasi berbeda. Sejujurnya saya terkesima dengan “Kidung Malam” karya Aji Prasetyo. Ini komik yang digarap cerdas dengan referensi kuat tentang sejarah dan pengenalan budaya. Sebenarnya, cerita komik ini sederhana dan bukan sesuatu yang baru. Betapa, suami meninggalkan istri dan anak ke medan perang dalam upaya perjuangan bangsa.
Namun, cerdasnya, Aji mengisinya dengan konteks sejarah. Yaitu ia mengambil setting tahun 1827, periode Perang Diponegoro, persisnya bersetting perjuangan di Desa Semin yang dikenal sebagai salah satu basis perjuangan Diponegoro. Kidung Malam menceritakan tokoh utama Dayat, prajurit Dipinegoro.
Cerita 18 halaman selesai ini, mengalir lancar. Ibarat cerpen, gagasan komik ini meski pendek tetap sampai. Membela tanah air adalah sebuah keniscayaan dan diharu biru perasaan dan kesetiaan seorang istri. Pemahaman Aji tentang budaya dituangkan dalam adegan-adegan serupa lanskap film, yang berpuncak pada adegan peperangan yang ditimpali doa sang istri agar selamat dari marabahaya.
Aji menyitir tembang macapat masyhur karya Sunan Kalijaga, tentang Ana Kidung Rumeksa Ingi Wengi (AKRIW) yang dilantunkan istri Dayat. Ini adalah sebuah tembang yang sangat kaya filosofi, berisi semacam mantra tolak bala, yang biasa disenandungkan usai sembahyang malam.
Pengenalan Aji tentang sejarah menghindarkan ia selamat dari anakronisme. Perhatikan riwayat penciptaan AKRIW (zaman Kalijaga di abad 14) dan setting cerita di abad 18. Inilah kesan ringkas saya terhadap Kidung Malam: sebuah romansa sederhana tapi dibalut dengan kedalaman.
Pada Hans Jaladara, ia mengangkat sebuah kisah berjudul Cinta di Senja Hari, juga berdurasi 18 halaman. Hans mengangkat kembali master piece-nya Panji Tengkorak. Sebuah kisah unik tentang Panji yang sudah sepuh kembali menemukan cintanya. Kisah ini semacam filsafat cinta, yang tak pernah lekang ditelan uban.
Selanjutnya, pembaca dipaksa mengagumi karya pelukis lain yang tak kalah indahnya. Misalnya saja Pamudji MS, salah satu komikus favorit era tahun 70-an. Meski karyanya hanya beberapa tapi sangat mengesankan, misalnya saja Badai Laut Selatan dan Kembara. Pamudji dalam karyanya di Cergam Kampungan berjudul Melati Revolusi, masih tetap dengan gaya arsir yang rapi. Ada pula karya Papilon Studio dengan trio Helmi Ismail (cerita), Kusbi Antoro (gambar), Rahmi Azisa (teks). Gambar Kusbi sangat mengesankan. Gambar naturalis yang tampaknya ia menggunakan “model” untuk tokoh-tokohnya.
Satu catatan lagi buat saya, kesalahan berbahasa dan salah ketik tidak muncul atau setidaknya minim sekali.
Begitulah, kombinasi yang saya paparkan ini, setidaknya resep pengelola Cergam Kampungan dalam meruwat Cergam Kampungan agar lepas dari kutukan. Tentu saja, kutukan akan benar-benar lepas andai Anda semua dan masyarakat pembaca bersedia membeli dan mengapresiasi Cergam Kampungan.
Semoga peluncuran Cergam Kampungan yang bersamaan dengan Imlek dan Valentine mengisyaratkan makna: lembar baru penuh cinta dari sebuah peristiwa komik. Tulisan ini saya tutup dengan ungkapan Selamat Datang Cergam Kampungan: Semoga bebas dari kutukan! ***
1 Comment
Leave a Response
You must be logged in to post a comment.

Kumpulan komik ini: sangat memikat di edisi awal, mulai melemah di edisi kedua, dan sangat lemah di edisi ketiga, bagaimana dengan edisi selanjutnya?
Sampai saat ini edisi 3 tidak ku beli, sangat malas membawanya pulang, gak tahu…sekarang mulai memilih komik lokal, yang ketika awalnya membabi buta membeli apa saja yang penting komik lokal. lama kelamaan jenuh juga dengan perkembangan berikutnya.
Dengan kondisi ini, akhirnya ditetapkan satu sikap: tidak semua komik lokal harus ku beli, sudah waktunya memilih dan memilah…