henrykomik.com

apresiasi komik Indonesia

Baratayuda: Pernikahan Abimanyu

Judul komik: Baratayuda 3 Pernikahan Abimanyu

Produksi: Caravan Studio

Penulis: Andik Prayogo

Gambar: Faisal Rizal & Afif Numbo

Penerbit: Unima

Cetakan Pertama: Desember 2010

Tebal: 64 halaman

Tibalah kisah Baratayuda produksi Caravan Studio yang memikat ini sampai pada episode Pernikahan Abimanyu. Dimulai dari kebahagiaan Irawan bertemu dengan ayahandanya sampai ke pernikahan agung Abimanyu dengan Putri Utari. Dalam kisah pewayangan, proses pernikahan ini sebenarnya berlatar cukup panjang. Sebuah pernikahan yang kelak akan menjadi “kutuk” bagi nasib Abimanyu di medan perang Kurusetra. Juga pernikahan yang akan menurunkan Parikesit, yang kelak bertahta menjadi raja.

Namun, Andik Prayogo sebagai penulis tampak sengaja menyunting, demi menyederhanan kisah, yang memang diperuntukkan untuk pembaca anak/remaja. Andik hanya mengisahkan tentang kedatangan Irawan, persiapan pernikahan yang sempat diganggu Lesmana Mandrakumara, si manja anak kesayangan Suyudana. Karena Lesmana mengganggu Utari, Abimanyu pun marah dan terjadi perkelahian di antara mereka. Lesmana yang kalah, sempat dibantu Jayadrata. Ini sebuah awal perkelahian, sebelum kelak mereka bertemu lagi dalam perang Barata.

Memasuki buku ke-3 Baratayuda, sudah terbayang akan ke mana cerita dibawa. Tim Caravan mencoba memasuki “alur kisah” dalam khasanah cerita wayang yang sudah ada. Tidak begitu lengkap, semacam pengantar dengan mengetengahkan peristiwa penting sampai menuju  ke peristiwa perang besar.

Agar jalinan kisah berjalan mulus, diperlukan kepiawaian penulis naskah untuk menyunting, tanpa harus kehilangan banyak aspek penting kisah. Pilihan artistik yang menonjokan gambar tapi miskin narasi, sangat memungkinkan terjadinya ‘hilangnya” aspek penting cerita itu. Minimnya narasi ini tidak memberi ruang untuk menjelaskan latar dari sebuah peristiwa. Misalnya saja, terkisah dalam wayang klasik,  pernikahan Abimanyu dengan Dewi Utari  ini adalah perkawinan yang kedua. Sebelumnya, Abimanyu pernah menikah dengan Siti Sundari, anak Kresna.

Namun, upaya menyederhanakan kisah ini bisa dipahami, mengingat komik ini ‘tampak’ hanya sebagai pengantar agar anak-anak sekarang menyukai kisah pewayangan. Bermula dari perkenalan ini, siapa tahu mereka ingin memahami kisah wayang selengkapnya.

10 Maret 2011

6 Comments

  1. Mas Andik dan mas Henry:
    wah senang rasanya bisa berbincang dengan sang komikus/penulisnya sendiri secara langsung:

    Aku sepakat dengan mas Henry, komik ini termasuk mencuri minat bacaku (eh emang hampir semua komik mencuri minat bacaku…hehehe): namun itunya benar seperti yang mas Henrry sampaikan, bahwa membuat kisah wayang agar bisa dinikmati anak-anak yang tentu plotnya harus sederhana dan menarik sangatlah susah.

    Jujur saja, Caravan berhasil melakukan itu, melewati kesulitan itu, dan keberanian pilihan menghadirkan putra-putra wangsa kuru dalam generasi mudanya sangat cerdas. Aku suka itu.

    Dan komik ini menjadi target koleksi lengkap semua jilidnya, seperti permintaan langgananku: aku sudah mendaftar sebagai pelanggan tetap komik ini, jika masih diingat ding…hehehe

    Tapi adakah survei yang sudah menemukan jawaban tentang seberapa besar minat anak-anak dalam membaca komik ini? Apakah target sasar baca CAravan telah berhasil? ini yang membuat penasaran…

    • Untuk survey dengan FGD memang belum kita lakukan.
      saat ini yang sudah kami lakukan adalah melalui target pembaca yang tgerdekat, yaitu para keponakan dan putra-putri sahabat.

      Dari survey kecil2an yang kami lakukan. Satu hal yang cukup mengejutkan adalah, usia pembaca yang bergeser, menurut kami komik ini akan disukai oleh para pembaca yang berusia 9 – 11 tahun, kenyataannya justru pembaca usia 6-8 tahun yang paling antusias.

      Jadi setiap kali bertemu, mereka yang selalu ‘menagih’, mana buku lanjutannya. Sedang kakak-kakak mereka malah santai saja. Menurut pengamatan orang tua mereka, anak-anak yang baru mulai membaca ini suka dengan komik Baratayuda ini, karena bukunya yang tidak terlalu tebal, dan dan tidak terlalu banyak bacaannya. Tapi kami sendiri menyadari bahwa buku 1-3 memang terlalu minim text, sehingga untuk buku 4 dan seterusnya hal ini menjadi perhatian bagi tim editor.

      Dari segi misi, kami merasa berhasil, karena telah dapat memperkenalkan tokoh-tokoh dalam Baratayuda kepada anak-anak. Suatu ketika saat mengajak keponakan saya ke Grand Indonesia, tiba-tiba salah seorang keponakan saya nyeletuk saat membaca ada tulisan ‘Pandawa Lobby’. Itu kan Pandawa yang di Baratayuda. Lalu ada juga cerita mengenai anak yang membaca tulisan ‘Apotek Arjuna’, si anak juga langsung nyeletuk, ‘Ma, Arjuna kan yang di Baratayuda?’.

      Hal-hal simpel seperti ini cukup membuat kami bahagia dan senang, karena salah satu tujuan kami telah terpenuhi. Tantangan selanjutnya bagi kami adalah bagaimana memperluas jalur distribusi dan promosi. Karena terus terang saja dua hal penting ini adalah kendala klasik yang selalu dialami oleh penerbit independent.

      Salam,
      Andik Prayogo

  2. Bli Dewa, Mas Andik: sangat tidak mudah memang membuat cerita untuk anak. Apalagi dengan rambu-rambu yang ketat. Menurut saya, Mas Andik dan kawan-kawan sudah mulus melampauinya.

  3. Terima kasih Mas Henry dan Mas Damuh bening atas resensinya.

    Sebelumnya mohon maaf, jika adaptasi komik Baratayuda versi Caravan Studio ini telah mengecewakan para penggemar fanatik cerita wayang.
    Karena saya juga masih dalam tahap belajar dalam mendalami cerita wayang ini.

    Sedikit bocoran mengenai alur cerita dalam serial ini:
    Komik Baratayuda versi Caravan Studio ini akan tetap mengikuti alur utama versi India, dengan penambahan beberapa karakter dan cerita dari versi wayang Jawa, (seperti kehadiran Antareja, Antasena, Wisanggeni dll)

    Karena, target utamanya adalah anak-anak, maka dari pihak Unima, selaku penerbit dan investor, telah menekankan sebuah pedoman untuk adaptasi proyek ini.

    Salah satunya adalah diberlakukannya ‘sensor’. Mana kisah yang tidak bisa ditampilkan, dan mana yang perlu dimodifikasi, lalu apa yang perlu ditambahkan, agar lebih mudah dipahami anak-anak.

    Dengan adanya sebuah batasan-batasan ini, tentunya akan ada konsekuensinya yaitu:mengecewakan pembaca dewasa penggemar fanatik kisah klasik ini. Karena adegan poligami, kekerasan, dan unsur sadisme dalam perang, seperti memenggal kepala, merobek mulut dan sebagainya akan dihilangkan.

    Dalam kasus buku ketiga: Pernikahan Abimanyu ini, jelas kisah Abimanyu memiliki 2 istri, dan berbohong mengenai statusnya kepada Putri Utari, merupakan salah satu kisah yang terkena ‘sensor’ dan penyesuaian, disamping kisah Gatotkaca yang tanpa sengaja membunuh pamannya terkait kebohongan Abimanyu ini.

    Mengenai unsur miskin narasi, pertimbangan dari tim editor adalah berdasarkan riset yang telah dilakukan kepada beberapa pembaca cilik dan juga permintaan dari sang editor cilik (Tommy) yang menghendaki agar teks jangan terlalu banyak.

    Kritik dan masukan dari Mas Hendry dan Mas Damuhbening, sungguh sangat berharga bagi saya, dan akan kami pergunakan untuk menyempurnakan serial ini, agar lebih berkenan di hati semua pembaca.

    Salam,

    Andik Prayogo

  4. Eh kelupaan:
    **Jika ingin meringkas satu cerita panjang: penulis harus paham benar plot panjangnya agar bisa mengenali elemen-elemen utama kisah itu, agar tidak hilang benang merahnya.

  5. …”Namun, upaya menyederhanakan kisah ini bisa dipahami, mengingat komik ini ‘tampak’ hanya sebagai pengantar agar anak-anak sekarang menyukai kisah pewayangan. Bermula dari perkenalan ini, siapa tahu mereka ingin memahami kisah wayang selengkapnya.”…

    –> Sangat sepakat mas, dan benar terlalu minim narasi, ada satu analisakau tentang ini:
    1. Anak-anak sekarang terbiasa dengan mangga yang memang tanpa narasi, namun banyak gambar (isitlah Sequen berhasil di Mangga)
    2. Dari banyak diskusi kemudian muncul satu kesepakatan tidak tertulis bahwa komik yang baik adalah komik dengan minim narasi (benar: namuna da catatan penting yang juga harus disertakan: bahwa Sequen harus berhasil)

    Kondisinya yang timbul adalah:
    **bahwa pakem minimalisasi jadi idola anak-anak sekarang, namun sayangnya mereka lupa satu hal yang memngikatnya: Sequen nya harus diperhatikan dengan jelas: maksudnya adalah: gambar harus benar-benar bercerita berdasarkan urutan waktu, bukan sekadar kumpulan panel tidak terjelaskan.
    **bahwa narasi harus tetap ada jika memang itu dibutuhkan, jangan peti eskan narasi, gunakan yang seefektif mungkin. Adakan jika memang harus ada.

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.