Kisah Awal Perang Diponegoro

Judul komik: Pangeran Diponegoro, Invasi Perbatasan Bantul Selatan

Karya: Hardian Reza W

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun: 2011

Tebal: 73 halaman

Episode panjang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda berlangsung selama lima tahun, sejak 1825-1830. Sejarah mencatatnya sebagai sebuah perang besar, bahkan yang terbesar di tanah Jawa. Lantas, mungkinkah  bila peristiwa sepanjang itu dibikin dalam sebuah cerita komik setebal 73 halaman? Tentu sangat sulit. Yang paling mungkin tentunya fokus ke salah satu babakan kisah.

Komik ini mencoba fokus, yaitu mengambil setting periode awal perang yakni di tahun 1826. Halaman awal terlihat Sersan Mayor Durveinne berteriak keras, “Norris!!! Di mana kau?!” Ternyata, yang dipanggil dengan nada keras itu adalah Letnan Kolonel Norris de Royce. Lalu, terjadi pertengkaran antara Durveinne dan Norris, karena Norris dianggap mengajukan proposal secara tidak benar.

Sampai  di sini tak ada informasi sedikit pun tentang siapa Durveinne, siapa Norris. Saya kurang jelas benar dengan penggambaran Hardian. Heran  karena ada militer berpangkat sersan mayor berani membentak-bentak perwira letnan kolonel. Jarak kepangkatan yang terbentang lebar, tapi seolah mereka dalam strata yang sama.

Saya simpan kejanggalan ini. Bisa jadi kreator punya dasar pijakan literatur yang memungkinkan terjadinya adegan pak sersan berani membentak-bentak letnan kolonel.

Konteks adegan itu adalah Letkol Norris mengajukan proposal dana sebesar 5 juta gulden untuk menumpas pemberontakan Belanda. Gubernur Jendral Belanda menyetujui. Pelan-pelan terkuak informasi, Norris adalah panglima yang ditugaskan meredam aksi pemberontakan. Strategi Norris, 5 juta gulden itu adalah harga buat Diponegoro. Norris juga mendatangkan bala bantuan termasuk para pendekar negeri asing.

Di sisi lain, Pangeran Diponegoro menyiapkan penyerangan ke perbatasan Bantul Selatan yang saat itu dikuasai Belanda. Cerita kemudian bergerak ke penyerbuan pasukan Diponegoro ke Bantul  Utara. Diwarnai pertempuran antara senapati pihak Diponegoro melawan para pendekar di pihak Belanda .

Diponegoro berhasil menang. Tiba-tiba saja sudah ada di ujung halaman, tertera teks: 1 Agustus 1826 penyerbuan perbatasan Bantul itu berbuah kemenangan. Lalu, di halaman terakhir Hardian memenuhi halaman dengan teks yang menjelaskan peperangan panjang itu, sampai akhirnya Sang Pangeran ditangkap Belanda.

Hanya begitu. Tak ada lagi penjelasan tentang Norris. Ada kesan terburu-buru menyelesaikan cerita. Sebenarnya, kemunculan Norris untuk mengakhiri kisah, bisa menjadi bingkai menarik.

Sayang juga, Hardian tidak konsisten dalam gambar-gambarnya. Ada halaman yang gambarnya kuat dan berkarakter seperti di halaman 9 dan 10, tapi selebihnya biasa-biasa saja, seperti terburu-buru. Sayang. Padahal, Hardian terlihat punya potensi. Pembenahan cerita dan lebih telaten lagi dalam gambar, mutlak diperlukan Hardian.

Surabaya, D’Season 24-2-2011

Random Posts

Comments (1)

  1. damuhbening says:

    Ah: komik ini: jujur saja : nama besar sang pangeranlah yang memaksaku membawanya pulang mas (dia salah satu idolaku, selain Untung Surapati)

    dan…dan..dan

    Ah: rasanya komik ini terlalu banyak hardikan dan omongan keras (melihat balok katanya)

    Ah: jujur saja aku bingung ketika memabaca komik ini, pengkarakteran tokohnya tidak jelas…

    Untuk kisah Diponegoro: aku hanya benar-benar berharap pada “Setan Kerambit” karya Aji Prasetyo yang masih belum terselesaikan sampai sekarang, penuturan, gaya gambar dan observasi yang cukup telah dilakukan oleh mas Aji…semoga segera diselesaikan untuk kemudian mencuri perhatian pembacanya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video