henrykomik.com

apresiasi komik Indonesia

Dharmaputra Winehsuka

Judul komik: Dharnaputra Winehsuka

Cerita & gambar: Alex Irzaqi

Tahun: 2010

Penerbit: PT Gramedia (m&c, koloni)

Ukuran komik: 13 cm x 20 cm

Tebal: tak tertera

Komik Dharmaputra Winehsuka karya Alex Irzaqi cukup menarik perhatian. Meski tertulis “cerita ini fiksi belaka dan tak ada hubungan dengan orang/kelompok/peristiwa tertentu” , komik ini merujuk pada babakan tertentu dalam sejarah Nusantara. Saya selalu suka dengan tema yang berakar pada budaya negeri yang kaya ini. Apalagi, tema jenis ini masih relatif tak banyak disentuh.

Alex mengambil cerita dengan merujuk pada masa Majapahit di bawah pemerintahan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit). Tentu saja, ia mesti mencari bahan-bahan rujukan. Salah satu bahan rujukannya seperti tertulis di halaman yang tidak tertera, adalah Kitab Pararaton, dimana Alex menuliskan: Jayanegara, 19 tahun masa pemerintahannya penuh dengan pengkhianatan, pemberontakan, dan perang. KEBODOHAN (saya tulis huruf besar karena di titik ini Alex melukiskan karakter Jayanegara) serta ketidakmampuannya dalam memerintah menyebabkan Majapahit lemah serta rakyat sengsara. Menjadi penyebab terbunuhnya pahlawan Negara, serta bertanggung jawab runtuhnya kerajaan Lumajang.”

Dari Kitab Pararaton inilah (hasil saya browsing) terkisah tentang Dharmaputra, yang menjadi rujukan cerita Alex.

Dharmaputra adalah sebuah jabatan yang dibentuk oleh Raden Wijaya raja pertama Kerajaan Majapahit, yang beranggotakan tujuh orang, antara lain, Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Ketujuh orang ini semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan raja kedua, yaitu Jayanegara. Adanya jabatan Dharmaputra diketahui dari naskah Pararaton. Jabatan ini tidak pernah dijumpai dalam sumber-sumber sejarah lainnya, baik itu Negarakertagama ataupun prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Majapahit. Tidak diketahui dengan pasti apa tugas dan wewenang Dharmaputra. Pararaton hanya menyebutkan bahwa para Dharmaputra disebut sebagai pengalasan wineh suka, yang artinya pegawai istimewa yang disayangi raja.”

GAMBAR LAGA YANG MEMUKAU

Alex mengisahkan tentang para Dharmaputra yang berjumlah 7 orang ini. Mereka adalah pasukan elit yang menjadi pelindung raja. Dibentuk oleh Raja Sanggramawijaya semasa hidupnya, untuk melindungi Jayanegara yang menjadi penggantinya. Para Dharmaputra bersumpah dalam “Satya Bela Bakti Prabu” Mereka bersumpah melindungi raja dengan taruhan nyawa.

Selanjutnya, Alex menggulirkan kisah ketika di masa Jayanegara terdapat tokoh Halayudha , seorang senopati yang menyimpan ambisi kekuasaan. Ia menghasut raja dengan menceritakan kabar bohong, bakal terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Nambi. Kala itu, Nambi sedang melayat ayahnya yang meninggal di wilayah Kerajaan Lumajang. Ra Semi ikut melayat sebagai perwakilan dari Dharmaputra.

Raja terpengaruh hasutan Halayudha. Ia minta Halayudha untuk memimpin penumpasan terhadap Nambi. Disertai para Dharmaputra dan Jayanegara, Halayudha memimpin pasukan. Dalam kancah pertempuran, Nambi tewas. Ra Semi yang saat itu berada dalam “wilayah konflik” juga tewas di tangan sesama anggota Dharmaputra. Atas jasanya inilah, Halayudha diangkat menjadi mahapatih Kerajaan Majapahit. Di akhir kisah, para Dharmaputra menghadiri upacara perabuan Semi. Kuti mengantarkan abu jasad Semi kepada Nyi Ranum, istri Semi.

Sebuah adegan epilog yang dilukiskan Alex, cukup menggetarkan. Yaitu saat istri Ra Semi melarung abu jasad suaminya di sebuah telaga. Di keheningan telaga itu, sosok Semi digambarkan bangkit dan istrinya bersimpuh di hadapannya, sembari berucap: Selamat datang kembali kakang Semi. Ini sebuah adegan yang begitu kreatif.

Komik ini menjadi menarik karena keberanian Alex memberi tafsir babakan dalam perjalanan Kerajaan Majapahit. Fokusnya pada lebih banyak adegan laga, tampaknya juga bentuk upaya menjadikan Dharmaputra Winehsuka lebih ringan dan disukai pembaca (yang pastinya deperuntukkan untuk remaja/muda). Keinginan Alex menghadirkan pertempuran dengan jurus-jurus ilmu Brajamusti patut mendapat apresiasi. Seolah Alex ingin mengatakan, ‘Ini lho kanuragan negeri sendiri, yang tak kalah dengan jurus-jurusnya Telapak Sakti dari negeri seberang.”

Menarik juga tafsir Alex pada gambaran karakter tokoh-tokohnya, plus tata busana plus aksesoris yang disesuaikan dengan zaman ini. Teman saya, David Siahaan, menyebutnya dengan istilaf futuristik, sebuah istilah yang begitu tepat. Ini tentu juga diniatkan untuk menarik minat pembaca.

Kemampuan gambar Alex juga prima. Ekspresif. Ada upaya menemukan “personal style”. Saya sangat menikmati berlembar-lembar adegan laga, yang memang memukau dengan beragam angle. Meski dengan kemampuan lebih seperti itu, Alex tetap rendah hati. Dalam catatan pengantarnya, ia mengungkapkan permintaan maaf bila karyanya kurang memuaskan. Bahkan, ia menunggu hujatan pembaca.

BEBERAPA CATATAN

Pasti, komik ini tidak pantas dihujat. Sebaiknya, patut mendapat pujian. Namun, sebagai bahan diskusi, saya ingin memberi catatan untuk Alex. Meski kisah ini dilabeli fiksi, tentu tak terhindar dari sejarah karena memang mengambil cerita dari sejarah dengan tokoh yang nyata ada. Apalagi, Alex mencoba berpijak pada bahan rujukan, mencoba cermat dalam tahun peristiwa sejarah ini terjadi. Oleh karenanya, idealnya Alex juga tidak main-main dalam menggambarkan tokoh-tokohnya.

Kesan “main-main” saya lihat ketika Alex begitu ekstrim menafsirkan karakter tokohnya, terutama Raja Jayanegara. Tampaknya, Alex hanya merujuk pada teks rujukan, yang tulisannya saya kutip di awal tulisan, dengan kata kunci yang saya tulis dalam huruf besar: KEBODOHAN. Dalam tafsir Alex, Jayanegara bukan hanya bodoh tapi juga dungu. Melihat pelukisan Jayanegara, pembaca memang menyaksikan bahwa ia benar-benar raja dungu. Masih tidak cukup, di halaman sekian (silakan Anda mencari sendiri karena di komik ini tidak dituliskan), saat membuat close up Jayanegara, Alex menegaskan dengan narasi, “Tapi, pada kenyataannya, di setiap masa selalu saja ada pemimpin bodoh, si dungu yang sangat beruntung menjadi raja.”

Dalam halaman-halaman lain, kedunguan, kekonyolan, kepecundangan Jayanegara ini, tampak diolah Alex untuk memancing senyum pembaca. Misalnya saja adegan Jayanegara yang keluar ingusnya disertai tulisan: hatsyi..srot. Atau ketika Jayanegara begitu konyol, ketakutan melihat adegan pertempuran.

Alex mungkin berkilah, apa yang digambarkan sah-sah saja, toh ini sebuah karya yang diniatkan fiksi, bukan cerita sejarah. Namun, lagi-lagi karena fiksi ini mengambil sebuah peristiwa sejarah yang nyata, gambaran ekstrim kedunguan Jayanegara buat saya kelewatan.

Seandainya, Alex lebih cermat membaca teks lain soal Jayanegara, bisa jadi ia tidak akan melakukan eksekusi seperti itu. Misalnya saja teks yang bersumber pada kitab Negarakertagama mengungkapkan, “yang memimpin penumpasan Nambi bukan Mahapati alias Halayudha, melainkan langsung oleh Jayanegara sendiri.” Raja yang berani terjun langsung memimpin pertempuran tentu saja bukan raja dungu yang pengecut.

Lalu, bagian lain kitab sejarah menuliskan (tidak tertuang dalam komik ini) Raja Jayanegara kelak menyadari bahwa ia sebenarnya termakan hasutan Halayudha. Ia lantas menghukum mati Halayudha. Satu lagi yang tidak menjadi fokus Alex, sebuah kitab mengungkapkan di masa Jayanegara, hubungan perdagangan Majapahit dengan Cina kembali pulih, bahkan meningkat. Beberapa teks yang saya tuliskan ini sudah cukup menggambarkan, Jayanegara bukanlah raja dungu.

Catatan berikut, sebagai sebuah kisah, komik ini belum selesai, yang mudah-mudahan kelak akan dilanjutkan Alex. Komik ini hanya menggambarkan sekelumit saja peran Dharmaputra dengan sebuah titik: perannya melindungi raja dengan slogan “setia pada raja.” Namun, babakan sejarah berikutnya, para Dharmaputra ini melakukan pemberontakan pada Jayanegara.

Kuti yang dalam komik ini masih setia pada raja, malah melakukan kudeta yang mengancam Majapahit. Ia sempat berkuasa sebelum ditumpas Mada. Saya berharap, Alex akan menuntaskan kisah para Dharmaputra ini dalam komik berikutnya.

IMPERIUM MAJAPAHIT JAN

Jauh sebelumnya yakni di tahun 1994, Elexmedia pernah menerbitkan komik Imperium Majapahit karya sang legenda Jan Mintaraga. Komik sepanjang 5 jilid dengan masing-masing jilid setebal 180-an halaman itu, di buku ketiga juga mengisahkan keberadaan para Dharmaputra. Jan mengatakan, meski kisah ini fantasi, ia berupaya tidak melenceng dari sejarah. Itu sebabnya, ia mendasari ceritanya dengan beragam bacaan seperti Kitab Negara Kertagama, Pararaton, dan berbagai kidung serta kakawin.

Dengan beragamnya sumber bacaan dan mendekatkan kisahnya dengan sejarah, Jan cermat menggambarkan tokoh-tokohnya. Termasuk ketika menggambarkan Raja Jayanegara, Jan tidak menghakiminya sebagai raja dungu. Jan menyampaikan, Raja Jayanegara naik tahta pada usia 15 tahun (sumber Alex menuliskan, Jayanegara naik tahta umur 28 tahun), sebuah usia yang sangat muda untuk menjadi pemimpin. Ketidakmatangan inilah yang dimanfaatkan Halayudha. “Anak itu baru saja meninggalkan masa kanak-kanaknya. Dia gampang sekali dipengaruhi,” ujar Halayudha sebagaimana dituliskan Jan.

Dalam Imperium Majapahit, Jan menuntaskan kisahnya mulai dari berdirinya Majapahit sampai keruntuhan kerajaan besar itu. Dan, saya berharap, Alex Irzaqi menuntaskan kisah Dharmaputra Winehsuka. Saya yakin, Alex sanggup berkarya lebih baik lagi. Sebab, ia sudah menunjukkan kemampuannya sebagai salah satu komikus berbakat. Saya tunggu karya-karya Alex berikutnya yang menggali kisah dari negeri sendiri, untuk mewarnai jagat komik Indonesia.

Kembang Larangan, 8.1.2011

4 Comments

  1. Mas Tommy/Bli Dewa: terima kasih. Saya tidak sepakat dengan gambaran Jayanegara karena di sini dia dicemooh sebagai dungu. Padahal kan sesungguhnya tidak seperti itu. Ini semacam bahasanya politisi sekarang, ‘pembunuhan karakter’ Bisa jadi referensi Alex kurang.

  2. Ternyata memeng benar cara pandang masing-masing pembaca berbeda, jujur saja, aku pribadi tidak mau mentertawakan sejarah dengan cara itu….

    Sekalian aja kalau mau buat komik Opera Van Java…hehehe

    Kalau dari segi gambar, aku sangat suka karya komik ini. namun sayang banget…sosok Jayanegara sangat mengecewakan….Jan Mintaraga jauh lebih bisa menghargai para leluhur seburuk apapun tampilannya….Kita sama-sama tidak tahu sosoknya bagaimana, namun yah untuk komik ini pada tampilan Jayanegara..aku kecewa….terlalu konyol!!!

    Untuk ending, sepakat dengan mas Henry, ending komik ini memesona…mengejutkan…tak pernah kubayangkan, tampilan tanpa kata yang penuh makna…salut.

    Dan ada yang aneh kurasa, bagaimana Ra Kuti yang dalam komik ini begitu loyal pada Negara/Raja, malah nantinya akan melakukan pemberontakan…dalam komik ini Ra Kuti begitu agung…tidak tampak ambisinya…

    Ah jadi bingung juga ngomentarin komik ini,,,hehehe

  3. Melihat tampang Jayanegara seketika saya dan keluarga tertawa terpingkal-pingkal. saya dan istri tertawa lantaran gambaran sosok jayanegara dibuat konyol, sedangkan bagi kedua anak saya yang pecinta komik pemula, tertawa dengan tingkah polahnya si jayanegara di komik itu. Intinya kami tertawa menertawakan tokoh yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
    Sepakat dengan Mas Henry.
    Alex sungguh keterlaluan dalam mengolok-olok Jayanegara hahahahahaaa. Tapi ya gak papa, sah-sah saja… Kalau nggak gitu nggak rame hehehehe

Trackbacks

  1. [Fanfic]Dharmaputra Winehsuka -- Cerita Rakryan Tanca - KAORI Nusantara - Komunitas Anime Otaku Rakyat Indonesia

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.