101 Hantu Nusantara

Judul komik: 101 Hantu Nusantara

Karya: Yudis – Broky – Pak Wawa

Penerbit: Cendana Art Media, Jakarta

Tebal: 101 +

Tahun: 2010

Dulu sekali, ada dugaan, kepercayaan pada hantu dan sebangsa makhluk halus lainnya, lebih dikenal di masyarakat agraris ketimbang perkotaan. Semacam sebuah hipotesa, makin rasional seseorang, makin enggak percaya hal-hal gituan. Mungkin ada benarnya, mungkin juga tidak. Di masa lalu, sering ada cerita tentang sebuah permainan yang memanggil roh halus, seperti nini thowok dan jailangkung. Seiring waktu, permainan ini sudah tidak lagi diakrabi. Sungguh unik sebangsa makhluk halus diajak bemain, akrab dengan manusia.

Kenyataannya, kepercayaan kepada hantu tidak hanya milik masyarakat agraris. Beberapa tahun lalu, bahkan, di metropolitan Jakarta, pernah geger dengan adanya hantu di sebuah rumah di Pondok Indah. Beredar juga cerita tentang hantu yang berdiam di mal. Hantu pun rupanya tergelitik ingin ikutan belanja. Begitulah rupanya, diam-diam makhluk halus masih menjadi bagian dari masyarakat di mana pun, termasuk di negara yang teknologinya sudah tinggi. Tentu saja, karena memang sosok makhluk halus dipercaya memang ada, seperti juga yang tertuang dalam keyakinan di agama.

Dalam jagat hiburan, hantu-hantu ini juga menjadi semacam sahabat, yang meski menakutkan, tapi juga dirindukan. Novel seram karya Abdullah Harahap atau SB Chandra di masa lalu, menyusup di ruang-ruang masyarakat pembaca yang jumlahnya tidak sedikit. Film-film tentang hantu, sejak dulu sampai sekarang terus diproduksi dan terus diminati. Termasuk juga di komik, sejak masa 70-an, ada saja kisah-kisah seram.

Bisa jadi, lantaran tema seperti ini ada pasarnya, Cendana Art Media menerbitkan komik 101 Hantu Nusantara. Hampir dalam kurun waktu sama, Indiria Maharsi (adik bungsu komikus Banu dan Nurmi) mengeluarkan karya berjudul “Penampakan Wajah Hantu Dunia Lain, 101 Sketsa Seram Makhluk Halus di Sekitar Kita.”

Lewat pengalaman spiritualnya, Indiria mengungkapkan berbagai ciri nama-nama hantu, lengkap dengan sketsa. Sebuah tulisan serius yang membedah, fenomena hantu yang selama ini dikenal dalam masyarakat. Komik 101 Hantu, juga mengungkapkan gambaran hantu-hantu yang dikenal di berbagai belahan masyarakat. Terkadang ada kesamaan ciri, hanya berbeda perwujudannya.

Secara menarik, dalam pengantar yang berwujud komik, Beng Rahadian dan fan Ismail mengungkapkan semacam latar munculnya perwujudan hantu itu. Mereka menyebutnya, kecemasan-kecemasan dalam masyarakat, akan membingkainya dalam sebuah ketakutan dan mewujud dalam sosok hantu itu. Kecemasan di masyarakat Asia dengan Eropa berbeda, yang membuat perwujudan hantu itu beda juga. Di sini dikenal pocong, di sana ada vampire.

Nah, di 101 Hantu Nusantara, meminjam pengantar mereka, betapa masyarakat kita kenal begitu banyak kecemasan. Banyaknya kecemasan ini, dalam sudut pandang sosiologis, di masa lalu memang dekat masyarakat agraris. Ketika logika tak mampu menjawab sebuah fenomena, yang muncul adalah gambaran-gambaran irasional. Mungkin begitu.

Yang menarik dari 101 Hantu Nusantara, tiga kreatornya, tidak membawa dalam wilayah yang memancing rasa takut. Sebaliknya, mereka mendekati dengan humor. Jadilah, ini sebuah komik “horor-humor”. Seram tapi lucu.

Untuk membuat ilustrasi tentang 101 hantu, para kreator tentu membuat semacam penelitian, mengumpulkan berbagai informasi tentang hantu-hantu yang dikenal di berbagai pelosok masyarakat. Mulai dari masyarakat Jawa, Sunda, Sumatera, Kalimantan, Betawi.

Dengan pendekatan komik humor tadi, dalam komik 101 Hantu, para kreator menuliskan nama hantu sekaligus ciri dan asal hantu itu. Kemudian mengeksekusinya dengan “memplesetkan” realitas hantu itu menjadi adegan dan atau dialog kocak.Jadilah, hantu suster ngesot, dipandang sebagai asisten pengepel lantai ( hal 73), hantu popo yang saat terbang tersangkat di pohon dst.

Gambaran hantu-hantu yang disodorkan para kreator mau tak mau mesti dipandang sebagai sebuah bagian kebudayaan masyarakat. Ia sebuah realitas yang pernah ada. Sebagai sebuah realitas, sebagian nama hantu itu, sekarang mulai sayup-sayup terdengar. Namanya tak lagi menggetarkan saraf takut. Ia tak perlu lagi ditakuti, tapi patut ditertawakan.

Sebagian (besar) hantu-hantu dalam komik ini memang sudah tidak lagi menakutkan. Sebab, di sekitar kita sekarang, makin banyak hantu yang jauh lebih mengerikan. Hantu itu bernama kemiskinan, kefrustrasian, ketidakpastian, korupsi dan seterusnya. Hantu ini lebih mengerikan ketika beragam kecemasan itu membuat pelakunya sampai mengakhiri hidup, seperti tersaji dalam kabar media belakangan ini. Dan, celakanya pawang hantu modern ini, manteranya sering tidak manjur. Bahkan, berdiam saja dengan anteng ketika kecemasan mulai melanda.

Untuk keluar sejenak karena memikirkan hantu modern, lebih baik sejenak tersenyum menyaksikan ulah lucu hantu tradisional se nusantara ini.

Kembang Larangan, 13-1-2011

Random Posts

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Flickr Photos

Featured Video