henrykomik.com

apresiasi komik Indonesia

Banu & Nurmi: KAKAK-ADIK PENCIPTA EMPAT JAGOAN

Tak banyak kakak beradik yang sama-sama jadi cergamis seperti Banu dan Nurmi. Mereka termasuk generasi komikus tahun 70-an yang ikut memperkaya perjalanan komik nasional. Mereka pun sama-sama menekuni genre superhero. Berikut ringkasan proses kreatif mereka

Kakak beradik, Banuarli Ambardi dan Nurmiadi Ambardi , masing-masing anak pertama dan kedua dari 8 bersaudara, lahir dari keluarga yang suka melukis. Ayah mereka, Ambardi, dikenal jago menggambar tokoh wayang. Sejak kecil, mereka sudah sering menyaksikan ayahnya melukis di rumah mereka di Jalan Ngeksigondo, Kotagede, Yogyakarta.

Di masa itu, dua paman mereka, Jan Mintaraga dan Harya Suraminata alias Hasmi, sudah kondang sebagai cergamis papan atas. Banu dan Nurmi sering mendengar cerita dua om-nya itu tentang dunia cergam. Bahkan, goresan-goresan Jan dan Hasmi, terekam dalam benak mereka. Secara tidak langsung, Banu dan Nurmi menyerap ilmu dari kedua pamannya.

“Saya sering menyaksikan komik-komik Om Jan dan Om Hasmi. Secara tidak langsung, saya belajar dari mereka. Saya terus berproses sampai akhirnya sanggup membuat komik,” ujar Banu.

Ya, Banu dan Nurmi di masa mudanya memang tergerak untuk menjadi cergamis. Mereka sama-sama memilih spesialis genre superhero. Banu dan Nurmi sama-sama menggubah dua superhero yang di masanya cukup dikenal.

Banu:

Herbintang dan Untara

Pada periode tahun 70-an, dunia cergam nasional begitu marak dan beragam. Begitu banyak warna mulai dongeng HCAndersen, cerita silat, humor, horor, dan fantasi. Tokoh-tokoh superhero lahir dari cergamis kita, meski sebagian besar terinspirasi sosok superhero luar yang sudah populer.

“Tahun-tahun itu memang banyak tokoh superhero. Nah, saya berusaha menciptakan tokoh superhero sendiri. Tahun 1973, saya mulai mereka-reka tokoh yang akan saya bikin,” ujar Banu.

Herbintang, dalam sosok manusia biasa, bernama Marno, seorang wartawan freelance sebuah media kriminal. Pemuda ini digambarkan patah hati. Kekasihnya direbut pemuda lain yang justru saudaranya sendiri. “Dalam keadaan patah hati, dia sering melamun dan merenung. Lalu, dia bertemu seorang tokoh sakti yang memberi penerangan-penerangan spiritual. Intinya si orang bijak itu mengajak Marno mengabdi pada kemanusiaan,” papar Banu.

Di akhir petuahnya, orang tua ini memberikan sebuah ikat pinggang sakti kepada Marno. Sabuk ini mesti dipakai Marno, sehingga bisa dipakai menjadi “alat” untuk menumpas kejahatan. Ada dua tombol di sana. Ketika tombol kanan ditekan, Marno berubah menjadi sosok superhero bernama Herbintang. Sang superhero akan berubah kembali menjadi manusia biasa bila memencet tombol kiri.

Sebagai seorang superhero, Herbintang juga digambarkan memiliki kekuatan dahsyat. Dari mulutnya bisa keluar sinar lebur yang merupakan inti tenaga matahari. Semburan apinya mampu meluluhlantakkan apa saja. Di tahun 1973 itu, Herbintang mulai muncul ke publik dan diterbitkan oleh Sastra Kumala. Judulnya Jeritan Sarang Hantu.

Perkembangan berikutnya, tokoh Herbintang diterbitkan oleh Prasidha. “Saya sempat menghasilkan beberapa judul Herbintang. Yang terakhir kalau enggak salah berjudul Matahari dari Barat dengan penerbit Prasidha,” ujarnya.

Setahun setelah kemunculan Herbintang, Banu menggarap superhero baru bernama Untara. Uniknya, sepanjang judul yang diterbitkan Maranatha Bandung ini, Banu belum membuat asal-usul Untara. “Rencananya baru akan saya buat belakangan. Ketika niat itu muncul di tahun 80-an, komik nasional sudah mengalami kemunduran,” ujar Banu seraya mengatakan tokoh preman Untara ini bernama Indiria, seorang mahasiswa senirupa. Nama ini diambil dari adik bungsu Banu, Indiria Maharsi, yang saat itu masih kanak-kanak.

Banu mengaku lebih banyak menggarap serial Untara dibanding Herbintang. Bahkan, ketika komik sudah surut, Banu tetap menghidupkan Untara. “Tokoh Untara sudah telanjur disukai masyarakat. Setelah era cergam surut, saya menggarap Untara dan diterbitkan secara bersambung di Majalah bahasa Jawa Djaka Lodhang. Judulnya Omah Setan. Di Djaka Lodhang, Untara bertahan sampai lima tahunan,” kisah bapak satu anak ini.

Menurut Banu, ketika berkarier, ia lebih fokus menggarap genre superhero. Apalagi penerbitnya memang ingin dia lebih fokus di sini. “Mau enggak mau, saya harus menuruti keinginan penerbit,” kata pria yang masih betah tinggal di Yogyakarta ini.

Setelah banjir cergam mulai surut, Banu sempat menjadi ilustrator di Jaka Lodhang, harian sore Wawasan, Semarang dari tahun 1996- 2006. Selain jadi ilustrator, ia juga sebagai wartawan desk budaya . Sekarang ia sudah pensiun.

Sepanjang kariernya, Banu mengaku sudah menghasilkan sekitar 60 judul cergam. Ketika belakangan ini cergam menggeliat, Banu kembali aktif bikin komik. Komik teranyarnya dimuat di surat kabar Harian Jogja. Ia menciptakan superhero baru bernama Megantara.

Nurmi Ambardi:

Bantala dan Elang Biru

Seperti sang kakak, Nurmi juga menggarap tokoh superhero, yaitu Bantala dan Elang Biru. “Mas Banu lebih duluan ngomik daripada saya. Kalau enggak salah, hanya selisih setahun,” ujar Nurmi yang merasa sangat beruntung karena di masa kecil sering mendengarkan cerita wayang dari ayahnya dan dongeng rakyat dari eyangnya.

Dari berbagai tokoh wayang, Nurmi sangat terkesan dengan Antareja, ksatria putra Bima dengan Nagagini. Antareja memiliki kesaktian “ambles bumi” Dengan kesaktiannya ini, Antareja bisa berkelana di bawah bumi. Nah, dari karakter Antareja inilah Nurmi membuat tokoh, namanya Bantala. Dalam bahasa Indonesia, “bantala” ini berarti tanah. “Bantala punya kesaktian amblas ke tanah. Selain itu, Bantala sanggup mengeluarkan sinar x dari matanya.”

Uniknya, Nurmi tidak begitu ingat bagaimana proses terjadinya Bantala. Yang ia ingat, nama preman Bantala adalah Adi Haryadi. “Saya juga ingat, dari sekian judul petualangan Bantala, saya tidak membuat musuh abadi Bantala. Misalnya Ghazul atau Pengkor sebagai lawan Gundala. Dalam tiap judul, musuh Bantala selalu berganti,” kenang Nurmi.

Petualangan Bantala ini mulai diterbitkan oleh Maranatha tahun 1974. Sekitar lima tahun kemudian, Nurmi membuat sosok Elang Biru yang diterbitkan oleh Prasidha. Dari sisi kepopuleran, menurut Nurmi sebenarnya lebih berhasil Bantala. “Ini terbukti dari begitu banyaknya surat yang saya terima dari penggemar. Bahkan, banyak surat yang datang dari luar Jawa.”

Namun, dari sisi kepuasan, Nurmi justru lebih sreg menggarap Elang Biru, sosok yang karakternya seperti Gundala yaitu punya semacam bulu angsa di telinganya. Semula, Nurmi melukiskan Elang Biru dengan bulu angsa yang kecil saja. “Namun, menurut penerbit, si tokoh jauh lebih gagah kalau bulu angsa di telinga itu besar seperti Thor.”

Yang Nurmi suka, Elang Biru sebenarnya manusia biasa, yang tidak punya kesaktian super. Dalam wujud manusia biasa, ia bernama Seno Hadi, pemikir yang suka teknik. “Ia suka uthak-athik apa saja. Tokoh ini saya ambil dari sosok teman saya, namanya Nanang. Nanang suka sekali bidang elektronik.

Nah, Seno Hadi juga digambarkan seperti itu, sampai akhirnya dari hasil percobaannya, ia sanggup membuat kostum Elang Biru. Ia juga bereksperimen membuat pistol yang memuntahkan semacam jaring sehingga bisa loncat dari satu gedung ke gedung lain. Selain senjata temuannya, dalam menumpas kejahatan, Elang Biru lebih mengandalkan akalnya daripada kemampuan fisik.

Menurut gambaran Nurmi, dalam wujud manusia biasa, Seno Hadi begitu naif dalam pergaulan. Begitu teknisnya “pemikirannya” ketika mau bertemu pacar pun ia memperhitungkan materi apa saja yang perlu dibicarakan. “Tapi, begitu bertemu ceweknya, dia malah tidak bisa bicara apa-apa.”

Seperti juga komikus lain, Nurmi sempat merasakan nikmatnya kejayaan komik. Kala itu di tahun 1974, ia sudah dapat penghasilan Rp 20 ribu per jilid. “Uang segitu sudah cukup untuk hidup sebulan. Waktu itu, saya memberikan uang honor untuk ibu saya. Kalau butuh peralatan gambar, barulah saya minta uang pada Ibu. Saya waktu itu, kan, masih bujang,” papar bapak dua anak yang sekarang tinggal di Bekasi ini.

Begitu terhormatnya nama cergamis di mata penerbit, ia pernah minta sepeda motor bekas pada pihak penerbit. Pihak penerbit langsung memenuhi permintaannya. “Motor bisa dibawa pulang, bayarnya belakangan. Saya cukup membayar dengan karya. Waktu itu, saya benar-benar bisa mandiri,” kata Nurmi yang sudah memproduksi puluhan judul komik.

Selanjutnya, Banu dan Nurmi sama-sama berharap, cergamis muda muncul, untuk bersama-sama membendung melubernya komik asing. Setuju Pak! * * *

Tagged as: , , , ,

13 Comments

  1. Salam kenal Mas Yoss. Koleksi kliping Mas Yos luar biasa. Terima kasih berkunjung di situs sederhana ini, terima kasih apresiasinya.

  2. Salam kenal, Mr. Henry! Terima kasih untuk kecintaan Mr. Henry bagi komik, teristimewa komik di negara kita. Saya lahir tahun 1968, dan menikmati masa kecil saya di alam komik pada masa-masa itu.

    Saya mengkoleksi gambar2 fantasy / superhero sejak tahun 1978 di dalam lembaran kertas klipping, dan sekarang terkumpul lebih dari 12500 gambar lebih.

    Mulai belajar membuat blog, dan saya minta ijin untuk mencantumkan sepenggal naskah ini, dan mencantumkan LINK ke homepage ini, di blog-blog saya : http://indonesiansuperheroes.blogspot.com/ dan http://superyoss.blogdetik.com.

    Terima kasih, sukses buat Mr. Henry!

  3. dulu saya pernah baca komiknya the bionic woman dan babat alas mentaok, eh iya.. ada yang tahu keberadaan Nono GM ? creator Tira ?

  4. wah browsing tentang karya2 terdahulu pakdhe saya. ga taunya ada yang menulis artikel tentang itu. sepertinya pakdhe saya malah ga tau kalo masih banyak sampai sekarang yang menyukai karyanya. terima kasih mas.:)

    • Ega, iya sekarang ini banyak yang mengapreasiasi komik karya komikus tahun 70-an. Karya Pak Banu dan Pak Nurmi termasuk yang dikoleksi. Terima kasih sudah mampir ke situs komik yang masih sederhana ini.

  5. Mas Panca, terima kasih sudah berkenan membaca artikel yang saya tulis.

  6. Wah baru tahu nih riwayat Banu dan Nurmi…
    Kalau karya beliau 2 komikus yang begenre Supehero hampir semua judul udah kubaca, seri Bantala dan Untara. Namun untuk komik yang ukuran kecil, kalau lebar hanya beberpa yg kubaca. Elang Biru juga kayakanya belum pernah baca… dulu agak susah nyarinya….

    Makasih mas Henry. atas informasinya.

    Pustaka Nusantara

  7. Pak Rully, terima kasih sudah berkunjung ke henrykomik. Senang, nanti ngobrol-ngobrol lagi tentang komik.

  8. Salut untuk kecintaannya terhadap komik indonesia buat teman baik saya yang satu ini, maju terus pak saya ada di belakang n kapan bisa luangkan waktu buat ketemu n ngobrol ngobrol lagi

  9. Salut untuk kecintaannya terhadap komik indonesia buat teman baik saya yang satu, maju terus pak saya ada di belakang n kapan bisa luangkan waktu buat ketemu n ngobrol ngobrol lagi

  10. Bli, tulisan ini semula pesanan Sequen. Hanya fokus ke soal komik superhero kakak-adik ini. Tapi karena keburu Sequen tidak terbit, jadilah naskah ini hanya tersimpan di laci. Karena sayang, saya coba tampilkan di sini. Datanya memang masih sangat terbatas karena waktu itu hanya wawancara via telepon. Baru ketika tugas di Jogja beberapa waktu lalu, saya bisa ngobrol panjang lebar dengan Pak Banu. Moga biografi pendek seperti saran Bli bisa saya wujudkan. Terima kasih masukannya.

  11. Komikus yang tidak pernah saya ketahu keberadaannya, bahkan karyanya belum pernah saya baca pada masa itu.

    Komikus Banu, baru saya kenar karyanya ketika membaca “Petualangan Anak Pemberani” terbitan Metha Studio, dan dari komik itu pula saya kemudian tahu kalau Banu adalah keponakan pak Jan, itupun informasi dari mama Linda Mintaraga (istri pak Jan) ketika berkunjung ke markas balicomic

    jika materinya dilengkapi lagi dengan informasi data latar belakang, maka lengkaplah sudah sebagai sebuah biografi kecil sang komikus.

Trackbacks

  1. Siapakah Untara ? Siapakah Bantala ? Siapakah Herbintang ? « Untara – Superhero Indonesia

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.