triGelombang komik Indonesia di era tahun 70-an juga melahirkan nama-nama komikus dari kota kecil, salah satunya Ambarawa, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Semarang. Komikus yang (barangkali) tak terpeta dalam riwayat sejarah komik Indonesia itu adalah: Tri Hendrayana dan Ram Sanjaya. Nama mereka ibarat noktah kecil yang karyanya tidak pernah masuk dalam perbincangan.

Namun, yang menarik, gelombang besar komik Indonesia itu, riaknya sampai ke kota-kota kecil. Tri Hendrayana yang lahir tahun 1952, dalam sebuah perbincangan mengatakan, sejak kecil ia sudah suka membaca komik. Kala itu, komik yang dibacanya adalah komik wayang.

Kesukaanya berlanjut hingga ia remaja. Salah satu yang dikenangnya adalah semasa ia masuk STM di Semarang, “Saya kos di Semarang. Kebetulan, anak dari pemilik kos yang sebaya saya, suka menyewa komik. Saya masih ingat, di tahun 1968, teman saya itu menyewa komik Si Buta dari Goa Hantu,” kisahnya.

Ketika kembali ke kota kecilnya, Tri gemar menyewa komik di persewaan komik Ernest. Ia pun akrab dengan karya-karya komikus ternama masa itu seperti Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Ia paham, Jan yang semula populer dengan komik roman remaja, kemudian beralih ke kisah silat. Begitu pula dengan Teguh Santosa yang banyak menggarap komik silat dengan tema perjuangan. Ia akrab dengan karya Teguh, salah satu yang mengesankannya adalah trilogi Sandhora.

“Tidak hanya suka, saya juga mulai mencoba membuat komik, bersama teman saya Ram Sanjaya. Bahkan, saya mencoba mencari informasi tentang penerbit komik di Semarang. Saya sempat keliling Semarang dan menyambangi beberapa penerbit, tapi tidak ada yang menerbitkan komik. Saya pun kembali ke Ambarawa,” ujar Tri mengenang.

Pria berambut panjang ini mengungkapkan, ia sama sekali tidak punya informasi alamat penerbit Jakarta. Keinginannya menerbitkan komik ia sampaikan ke pemilik persewaan komik Ernest, namanya Jiang. “Koh Jiang bersedia membantu. Ia, kan, secara berkala kulakan komik di Semarang. Selain di toko buku Sutawijaya, distributor komik untuk Jawa Tengah, ia juga punya relasi, sebuah agen yang memasarkan komik terbitan Lingga Budaya, Jakarta. Nah, saat kulakan ke Semarang, ia membawa naskah komik saya,” katanya.

***

Kegembiraan Tri membuncah ketika komik pertamanya berjudul Hantu Rawa Pening berhasil terbit. “Saya mendapat kiriman 5 set nomor bukti komik karya saya. Namun, sekarang saya malah tak punya lagi. Sebab, komik saya yang sepanjang 3 jilid itu, sebagian saya kasihkan teman. Ketika tinggal satu set, itu pun dipinjam teman dan tidak dikembalikan,” ujarnya.

Sebenarnya, Tri mencantumkan nama lengkapnya Tri Hendrayana. “Menurut penerbit, namanya kepanjangan. Penerbit menyingkat menjadi Triana. Selanjutnya, nama Triana yang dipakai.”

Hantu Rawa Pening terbit sekitar tahun 1972. Tri mendapat honor Rp 2.500 untuk satu jilid. “Jumlahnya sangat kecil. Sebenarnya enggak impas dengan  tenaga dan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan komik. Saya sebulan lebih menyelesaikan satu jilid komik setebal 64 halaman.  Meski begitu, saya tetap mencoba membuat karya baru.”

candramawaSelanjutnya, Tri berhasil menyelesaikan komik berjudul Dewi Candramawa yang juga berhasil diterbitkan Lingga Budaya 1973. “Karya teman saya, Ram Sanjaya berjudul Kobra juga diterbitkan,” kata Tri yang honornya belum juga naik.

Tri masih mencoba untuk terus membuat komik. Untuk penerbit Lingga Budaya, ia membuat komik berjudul Sepasang Malaekat . “Saya tunggu beberapa lama, tapi tidak ada kabar dari penerbit.  Saya kirim surat untuk menanyakan nasib komik saya. Jawabannya, penerbit Lingga Budaya sudah tidak lagi menerbitkan komik. Saya dapat kabar, komik Sepasang Malaekat  diserahkan ke penerbit lain. Saya enggak ngerti perkembangannya,” tutur Tri dalam bahasa Jawa halus.

Sekian waktu, Tri tidak paham bagaimana nasib karyanya. Tahu-tahu, ia dapat kirman honor, masih per jilid Rp 2.500. Ia juga hanya kenal karyanya lewat iklan terbit. “Sampai sekarang saya tidak pernah melihat komik karya saya itu,” ujar Tri seraya mengatakan, Sepasang Malaekat diterbitkan Prasidha. Hanya saja, tak seperti penerbit Lingga Budaya, “Penerbit baru ini tidak mengirimkan komik tanda bukti terbit.”

nagatatmalaTri sempat melahirkan lagi komik berjudul Naga Tatmala yang diterbitkan Prasidha. Sayangnya, penerbit juga tidak mengirimkan nomor bukti. “Jadi, saya membeli komik karya saya sendiri.”

Pada akhirnya, Tri memutuskan berhenti membuat komik. Jarak komunikasi membuatnya kesulitan menembus penerbit. Sekian tahun berlalu, Tri merasa bahagia ketika Akhmad Makhfat pengelola Metha Studio bersedia menerima komik pendeknya yang kemudian terbit dalam antologi Awan. Beberapa waktu lalu, karyanya berjudul Trah juga diterbitkan Metha Studio.

Kabar teranyar, komiknya juga akan diterbitkan penerbit Jogja itu. Bahkan, “Pak Akhmad memberi saya kesempatan untuk berkarya lagi. Beliau meminta saya membuat komik tentang legenda Rawa Pening. Saya bersyukur, di usia tak muda lagi, justru bisa kembali bikin komik,” katanya saat dihubungi lewat telepon.

Dari kota kecil, seorang komikus ikut menjadi riak dalam dunia komik yang moga menjadi gelombang.

Kembang Larangan, Oktober 2016.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*