teguhSebuah masa ketika ketoprak tobong berjaya di ranah kesenian di Tanah Air. Di Malang,  Jawa Timur, berdiri kelompok ketoprak Krido Sworo yang dimiliki pasangan suami istri Soemarmo Adji dan Lasiyem. Ketoprak yang mulai muncul pada masa penjajahan ini berpentas dari satu kota ke kota lain di seantero Jawa Timur. Seperti layaknya seniman bohemian, Krido Sworo  mengembara ke berbagai kota, berpentas untuk menghibur masyarakat.

Sang pemilik, Soemarmo Adji, juga berperan sebagai pelukis panggung ketoprak, sedangkan Lasiyem adalah artis yang andal. Soemarmo juga menggarap tata artistik panggung. Dari buah cinta Soemarmo dan Lasiyem, pada tanggal 1 Februari 1942, lahir bayi tampan yang kelak mewarnai peta jagat komik nasional. Bayi lelaki yang lahir di Desa Gondang Legi, Malang itu bernama Teguh Santosa.

Masa kecil Teguh hingga remajanya dihabiskan dari tobong ke tobong. Ia ikut   orangtuanya berkelana. Dunia tobong menjadi dunia Teguh. Ia tidur, bergaul, dan beraktivitas dengan seniman ketoprak. Dunia seni menjadi bagian dari kehidupan Teguh. Ibarat pepatah buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya, bakat seni Soemarmo menurun pada Teguh.

Sejak kecil, Teguh sudah belajar melukis dari sang ayah. Ketekunan Teguh membuatnya dengan cepat mewarisi kehebatan Soemarmo. Di masa remajanya, Teguh  pun turun tangan membantu sang ayah membuat set dekor panggung ketoprak. Bahkan, untuk ukuran kreativitas, ia sudah mampu menjadi rival ayahnya.

Persentuhan Teguh dengan dunia ketoprak terus berlanjut, meski Krido Sworo bubar. Selanjutnya, Soemarmo Adji bergabung dengan Siswo Budoyo pimpinan Siswondo. Soemarmo menjadi staf artistik Siswo Budoyo, . Kelak, Siswo Budoyo menjelma menjadi kelompok ketoprak terdepan di jagat seni ketoprak. Pentas-pentasnya selalu ditunggu-tunggu publik. Teguh pun  membantu artistik Siswo Budoyo. Latar belakang persentuhannya dengan seni tradisional ini, ikut mewarnai perjalanan Teguh sebagai komikus andal di masanya.

Selain terlibat dalam ketoprak, Teguh juga sudah menunjukkan minatnya di bidang ilustrasi. Semasa SMP, ia melihat karya ilustrasi di majalah Terang Bulan. Karya ilustrasinya pun sanggup menembus berbagai majalah seperti Gelora, Si Kuncung, dan Pos Minggu. Melangkah ke masa SMA, Teguh pernah menjajakan amplop bergambar karyanya di pinggir jalan. Goresan Teguh ini ternyata lumayan diminati.

 

Menekuni Cergam

ranggalawe    Bakatnya kian terasah setelah ia mengembara ke Yogyakarta dan berkenalan dengan seniman-seniman top masa itu. Teguh menapakkan kakinya ke Yogyakarta selepas SMA. Ia bergabung dengan Sanggar Bambu. Bakat melukis Teguh pun semakin terasah. Di sinilah ia berguru pada Kentardjo, Soenarto PR, dan sastrawan kenamaan Kirdjomulyo. Kentardjo dikenal sebagai ilustrator cerita silat Jawa karya SH Mintardja. Pertemanan Teguh dengan para seniman ini terjalin sangat akrab.

Di Yogyakarta pula Teguh berkenalan dengan dramawan sekaligus penyair kenamaan Si Burung Merak WS Rendra. Bahkan, Teguh pernah menggarap artistik dalam sebuah pementasan Rendra. Selain itu, aktivitas lain Teguh adalah membuat poster dan baliho-baliho.

dibakar    Waktu berlalu, suatu masa keresahan melanda hati Teguh. “Apa hidupku mesti nyeniman terus?” begitu pertanyaan yang muncul di benak Teguh. Sempat terbersit keinginan menekuni jalur lukis dengan menjadi seorang pelukis profesional. Namun, ia merasa sudah banyak yang menekuni jalur ini. Akhirnya, ia mantap menekuni dunia ilustrasi. Ia sempat bikin ilustrasi beberapa buku. Karya ilustrasinya berupa cergam terwujud ketika ia mengomikkan naskah karya Basuki Rahmat berjudul Ki Danurekso dan Pusaka Sunan Giri.

Proses berikutnya, Teguh mantap menapak karier menjadi cergamis. Salah satu cergam di awal kariernya berjudul Lewat Jam 12 Malam. Berbagai komik bertema perjuangan menjadi fokus perhatian Teguh. Berbagai judul ia garap seperti Sebuah Tebusan Dosa, Mutiara, Tambusa. Karya cergamnya yang kemudian banyak dikenang penggemarnya adalah trilogi Sandhora. Selanjutnya, Teguh menitikberatkan lakon cergamnya dalam jagat siluman yang memunculkan cergam mistik, baik mistik realis maupun surealis.

Ketika menjadi cergamis inilah, salah satu referensi Teguh ketika berkarya adalah seni ketoprak. Selain itu, ia juga sering mendapat ide dari film yang ditontonnya di gedung bioskop. Ia memang sangat getol nonton film. Salah satu film favoritnya adalah James Bond. Bahkan, ia pengagum berat tokoh rekaan Ian Fleming itu. Begitu getolnya nonton film, Teguh yang kemudian tinggal di Malang, bisa nonton di tiga gedung bioskop dalam sehari. Selepas mengembara dari Yogyakarta, Teguh memang pulang ke tanah asal di Malang.

 

Ibarat Lakon Tragedi

madelie     Jalan Anjamoro no 10, Kepanjen, belasan kilometer dari Malang. Di rumah warisan orang tua inilah Teguh melewati hari-harinya bersama istri tercinta, Suciati. Mereka dikaruniai empat anak.  Teguh mantap menghidupi keluarganya dengan total membuat cergam. Periode tahun 70-an yang merupakan era kejayaan cergam nasional, juga menjadi “masa kejayaan” dalam hidup Teguh.

Sebagai cergamis papan atas, Teguh termasuk deretan cergamis laris. Pernah dalam satu kurun waktu, ia menggarap beberapa judul cergam permintaan beberapa penerbit sekaligus. Antara lain  Pancar Kumala, Sastra Kumala, Maranatha. Begitu larisnya, dari hasil ngomik, semua kebutuhan keluarga tercukupi.  Rumah orang tua yang semula reot berdinding anyaman bambu, sanggup ia bangun menjadi rumah berdinding tembok yang bagus.

Posisi Teguh sebagai cergamis sangat kuat di mata penerbit. Permintaannya sering dipenuhi penerbit. “Tolong, saya dibelikan kulkas,” ujar Teguh. Kukas pun dikirim ke rumah Teguh. Dari hasil cergamnya, Teguh mampu menghidupi keluarganya. Semua anaknya ia antarkan ke bangku kuliah.  Kehidupan keluarganya benar-benar berkecukupan.

Sebagai komikus, Teguh masuk jajaran papan atas komikus Indonesia dengan produktivitas di atas rata-rata. Begitu banyak karyanya yang menjadi acuan komikus lebih muda. Ia termasuk komikus laris. Selain rajin membuat komik dalam format buku, karyanya juga tertera di berbagai majalah semisal Majalah Hai, Ananda, dan majalah berbahasa Jawa, Jayabaya.

Periode tahun 80-an industri komik nasional mulai surut. Namun, dunia cergam sudah mendarah daging dalam jiwa Teguh. Teguh tetap berusaha menawarkan karya-karyanya ke penerbit dan surat kabar. Beberapa di antaranya lolos. Karya Teguh di periode ini masih terihat di beberapa surat kabar, antara lain Surabaya Pos, Suara Karya, dan majalah berbahasa Jawa Jayabaya.

wayang-teguh Pengalamannya yang amat luas di bidang seni, membuat Teguh tak hanya menghasilkan cergam yang akan terus dikenang. Ia juga menulis bebagai artikel dan kritik film, serta menulis skenario untuk sinetron dan ludruk. Bahkan, tahun 1995 ia sempat menyutradarai ludruk sayembara Harta Karun Nyi Blorong yang ditayangkan di TVRI Surabaya. Menariknya, pengambilan gambar ludruk ini dilakukan secara out door dengan mengambil lokasi di beberapa tempat di Jawa Timur.

Teguh terus berkarya hingga kanker menyerang tangannya. Akhir perjalanan hidup Teguh ibarat sebuah lakon tragedi. Ia berkarya dengan tangannya, namun tangan yang jadi tumpuan hidupnya, kena  penyakit kanker ganas. Dalam catatan Galang Press, sebelum mengembuskan napas terakhir pada 25 Oktober 2000, Teguh masih berusaha menyelesaikan karya cergam di sebuah harian yang tinggal beberapa episode lagi. Kini, Teguh, sang maestro dari Timur, berbaring tenang di dekat pusara sang ibunda di lereng pegunungan Tengger, Desa Nongkojajar, Jawa Timur.

Teguh memang sudah tiada. Jejak karyanya terlihat dalam karya cergam yang belakangan ini rapi tersimpan di rak buku para kolektor.***

Sumber foto Teguh Santosa: FB Teguh Santosa Comics, matur nuwun pinjaman fotonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*