ilus1

Perjalanan komik Indonesia mencatat nama Djair Warni Ponakanda sebagai komikus yang sangat produktif di era 70-an. Koleksi komik saya yang tentu masih jauh dari lengkap menunjukkan, Jair bahkan paling produktif di masanya. Ia menghasilkan banyak karakter dan serial panjang. Yang paling populer adalah seri Jaka Sembung yang muncul dalam konfigurasi utuh 21 judul . Itu pun masih ada beberapa judul Jaka Sembung lagi yang tidak bertemali dengan 21 judul tadi.

Selain itu, ia membuat kisah serial Malaikat Bayangan, Penyair Sakti, Manusia Jin, Jaka Geledek, Si Toang, dan satu serial lagi yang tidak kalah legendarisnya dengan Jaka Sembung yaitu Si Tolol. Saya ingin menulis tentang Si Tolol, karakter yang betul-betul unik, sangat berbeda dengan komik lain di masa itu.

Era 70-an, diwarnai dengan kebanyakan komik silat. Si Tolol juga masuk dalam bingkai ini. Djair yang oleh pelukis Aisul Yanto (aktivis Himpunan Pelukis Jakarta) dan Aries Tanjung (illustrator Tabloid Nova) disebut bergaya ekspresif ini, membuat Si Tolol “keluar dari pakem.” Umumnya pendekar protagonis divisualisasikan dengan berwajah tampan, sakti, disukai wanita (kalau lelaki pendekar) dan seterusnya.

Si Tolol di luar arus besar itu. Bernama asli Raden Palasara dari bangsawan Sumedang, ia lahir dengan sederet cacat. Wajahnya buruk rupa, kepalanya pelontos hanya menyisakan kuncung di bagian depan rambut. Celakanya lagi, ia nyaris seperti bocah idiot. Tak mampu menangkap ilmu dengan baik. Meski sudah menjelang dewasa, kemampuan pikirnya masih seperti anak kecil. Suka capung, nangis, sangat kekanak-kanakan. Itu sebabnya, ia disapa Si Tolol.

Dalam kata pengantarnya Djair mengatakan, jiwa atau rohani manusia adalah rangkaian unsur-unsur: inspirasi, naluri, sugesti, dan rasio. Nah, Si Tolol adalah sorang anak manusia yang kehilangan unsur rasio atau akal pikiran. Otaknya tidak bisa bekerja secara normal. Namun, Si Tolol mendapat karomah dari Allah yakni inspirasi dan nalurinya yang dahsyat. “Kalau manusia biasa bermimpi atau melamun memproduksi ilusi, mimpi Si Tolol berwujud inspirasi dan naluri. Impian dan lamunan Si Tolol bisa menembus ruang waktu berabad-abad ke belakang dan berabad-abad ke depan,” tulis Djair.

>>>

ilus2

Berbekal konsep inilah Djair mengembangkan kisah Si Tolol. Untuk menajamkan segala kelemahan Si  Tolol, Djair membuat busana khas anak-anak masa itu: sebuah oto, semacam baju monyet berwarna belang-belang. Karakter semacam ini seperti memberontak pada kemapanan. Antitesa pada sebuah gaya. Namun, dari sisi kesaktian, ia belakangan memiliki ilmu dahsyat.  Djair, salah satu komikus favorit saya itu, masih berada dalam mainstream tapi dengan pendekatan berbeda.

Meminjam pendekatan sosiologi,  struktur masyarakat dalam cerita silat terbagi dalam berbagai sisi. Orang dipandang dalam posisi elite ketika ia memiliki kekayaan, kesaktian, pedang pusaka dan seterusnya. Terbelah lagi dalam posisi pendekar golongan putih dan hitam: jahat dan buruk.

Djair juga memberikan “kesaktian” pada Si Tolol untuk meneguhkan posisi terhormat dalam strata masyarakat. Juga tugas sosialnya sebagai galibnya seorang pendekar. Cara yang ditempuh Djair memberi kesaktian ini benar-benar mengagetkan. Si Tolol belajar ilmu silat lewat mimpi. Gurunya adalah Jaka Sembung.

Djair mengungkapkan, dalam keadaan normal, Si Tolol yang daya ingatnya sangat lemah, tak mungkin menerima pelajaran ilmu apa pun. Si Tolol justru cerdas di saat sedang tidur. Saya mencoba menafsir, ketika tidur, Raden Palasara berada dalam titik ning, dalam situasi kosong. Di titik nol, yang dalam bahasa Djair disebut kemampuan naluri.

Dalam kisah awal berjudul Si Tolol, Djair menggambarkan bagaimana cara Jaka Sembung mengajar Si Tolol lewat mimpinya.  Banyak adegan yang menyentuh.  Usai menerima pelajaran dari Jaka Sembung, Si Tolol menjadi sakti. Namun, ia hanya sakti ketika tidir. Saat terjaga, ia kembali seperti anak kecil lagi.  Bagaimana Si Tolol  mengatasi problem kependekarannya, menjadikan serial Si Tolol menjadi unik dan menarik. Inilah kemahiran Jair bercerita teruji.

Djair membuat kisah Si Tolol dalam setting Nusantara lama di masa kolonialisme Belanda. Setting kolonial memang kerap menjadi latar dalam kisah-kisah karya Djair. Pilihan konsep yang memungkinkan Djair memaparkan ide-ide kebangsaannya yang bagi saya, meneguhkan Djair sebagai seniman yang terlibat dalam masalah kebangsaan.

Senada dengan karya master piece Djair yakni Jaka Sembung, Si Tolol dalam perjalanan kisahnya juga sering berhadapan dengan tentara Belanda. Djair memperkayanya dengan menghadapkan Si Tolol dengan warga pribumi sendiri. Antara lain penguasa lokal, pendekar-pendekar hitam, dan seterusnya. Dengan nalurinya itu, Si Tolol berkelana dengan meminjam latar Nusantara. Dari Sumedang , Si Tolol berpetualang sampai ke Jawa Tengah, Kalimantan, juga Sumatera Barat.

Kisah Si Tolol pernah diangkat ke layar kaca dengan judul Si Toloy, kabarnya Tolol diganti Toloy karena tidak ingin melecehkan suatu kelompok masyarakat. Pemeran Toloi adalah kalau enggak salah Ozzy Syahputra. Demikian, pengantar kisah Si Tolol.

 

Petualangan Si Tolol:

  1. Si Tolol, 1970 Penerbit Meteor, 504 halaman
  2. Rahasia Patung Ratu Shima, 1972, 378 hal.
  3. Prambanan, 1973, UP Maria, 371 hal.
  4. Karang Bolong, 1974, 744 hal.
  5. Kakerlak, 1974-1976, UP Sumber Jaya, 735 hal.
  6. Kutukan Sangkuriang, 1976, UP Sumber Jaya, 720 hal.
  7. Ciliwung, 1976-1977, 719 hal.
  8. Rawe Rontek, 1977, 720 hal.
  9. Ujung Kulon, Februari 1978-September 1978, 432 hal.
  10.  Mencari Jejak Intan Biru, September 1978-Nov 1979, UP Rosita, 48 hal 15 jilid
  11.  Lembah Putri Ular, 1979, UP Rosita, 720 hal.
  12.  Tiga Pendekar Legendaris, 1988-89, UP Rosita, 480 hal.
  13.  Siluman Bukit Kembar, tahun tak tertera.

 

Kembang Larangan, 24-3-2011, jam 24.20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*