ilus-roseta

Judul komik: Roseta

Karya: Man

Cerita: Disadur dari berbagai sumber

Penerbit: Penggemar cergam dan naskah cergam Indonesia

Cetakan I: Desember 2010

Tebal: 249 halaman

Ukuran: 20 cm x 28 cm

Awal tahun 2011, penggemar komik Indonesia dibuat gembira dengan terbitnya- masih secara terbatas- komik berjudul Roseta karya pujangga komik Mansyur Daman alias Man. Komik ini dicetak kurang dari seratus eksemplar dengan edisi hardcover yang terkesan wah. Selanjutnya, Roseta akan kembali dicetak versi soft cover dengan jumlah lebih massal.

Dari berbagai segi, Roseta betul-betul memanjakan pembaca. Man yang kemampuan menggambarnya berada di puncak kematangan, membuat gambar naturalis yang begitu indah. Cerita Roseta yang berlatar sejarah Batavia abad 17 pun digarap serius dengan memanfaatkan sumber-sumber bacaan. Penerbit mencantumkan sumber-sumber itu di daftar pustaka. Dari ribuan komik Indonesia koleksi saya, baru kali ini saya menemukan sebuah komik yang mencantumkan daftar pustaka.

Roseta adalah sebuah kisah yang bersumber pada buku sastra berjudul Rossina karya H.F.R Kommer yang dicetak  Bataviaschi Snelpersdrukkerij, Kho Tjeng Bie & Co pada tahun 1910. Buku ini menuliskan, kisah Rossina benar-benar terjadi di Batavia. Kisah ini juga digubah oleh wartawan W.L Ritter. Hanya saja, Ritter menggunakan nama Roseta, yang kemudian menjadi judul komik ini.

Kommer dan Ritter sama-sama mengisahkan sebuah kejadian di Batavia abad 17, tentang seorang budak perempuan asal Bali bernama Rossina atau Roseta itu. Roseta yang berparas cantik menjadi budak dalam keluarga Belanda,  Van der Ploeg. Namun, kecantikannya membuat majikan perempuan, Maria, menjadi cemburu. Buntutnya, Maria sering menyiksa Roseta sampai di luar batas. Pusaran nasib kelam Roseta inilah yang menjadi pijakan kisah Man.

Agar lepas dari kelam, Roseta menggantungkan hidupnya pada sosok Jaya, lelaki yang dicintainya. Ternyata, Jaya bukanlah jagoan tapi seorang rampok yang mementingkan kenyamanan pribadi. Ia menjadi buron pemerintah.

 

LUKISAN POTRET

ilustrasi1

Sebagai sebuah latar kisah, Batavia sempat menjadi favorit komikus era 70-an, sebuah masa keemasan komik Indonesia. Salah satu pionernya adalah Ganes Th yang menggubah kisah Jampang  Jago Betawi yang berdasarkan cerita Zaidin Wahab. Lingkaran kisah Jampang si kumis melintang menyajikan peran jawara dan centeng di masa struktur kolonial.

Keberhasilan Jampang di khasanah komik nasional, mendorong banyak komikus lain menggarap tema-tema serupa. Tercatat nama-nama seperti Benny H yang membuat Jawer Jago Marunda, M Husni menggubah komik dari cerita Ali Shahab berjudul Si Gondrong Jago Kwitang dan Si Gobang Jago Tebet, Sofyan dengan komik bertajuk Cangklong Juara dari Karang Hantu, juga Tatang S dengan jagoan bernama Ayub.

Dengan nuansa yang agak berbeda, di masa itu Man juga pernah menelurkan kisah Tompel Garong Budiman. Kesamaan latar kisah-kisah itu adalah suasana wilayah kampung-kampung di Batavia. Nah, di era masa kini, kembali Man menampilkan Batavia dalam karya Roseta. Perbedaan mencolok dari sisi cerita dibandingkan komik Batavia masa lalu, Man mendasarkan pada sebuah kisah yang konon benar-benar ada.

Karena itulah, Man dalam Roseta benar-benar mengeksplorasi tempat-tempat yang benar-benar ada di masa lalu. Misalnya saja Balai Kota yang sekarang menjadi Museum Fatahilah, perumahan Pasar Senen, jembatan Pasar Ayam. Tidak sekadar merujuk pada buku-buku bacaan, dalam proses penggarapan Roseta, Man juga mengunjungi berbagai tempat yang menjadi latar kisahnya. Selain upaya membuat detail, Man juga ingin merasakan atmosfer dari tempat-tempat itu.

Jadilah, Man menggarap  arsitektur bangunan kota senyata mungkin. Kemampuannya mengolah gambar yang menurut Man menggunakan teknik toning ini, menjadikan lukisannya benar-benar serupa potret. Tidak hanya bentuk bangunan, aksesoris rumah  juga begitu cermat digoreskan Man. Termasuk juga gaya busana dan kebiasaan masyarakat masa itu. Tak terlalu salah bila menyebut, menikmati Roseta, pembaca seolah berkelana ke masa silam di masa Jakarta tempoe doeloe.

Yang juga menarik dari komik Roseta, Man tidak serta merta mengikuti alur dari sumbernya. Untuk memberi warna, Man juga memasukkan kebiasaan masyarakat masa itu yang gila opium. Bagaimana perilaku orang saat mengisap madat, terlihat dalam kesempurnaan gambar Man.

PESAN OPTIMISME

Dalam mengakhiri kisah, dua penggubah Rossina atau Roseta menempuh jalan berbeda. Yang satu sad ending dimana Roseta digambarkan menjadi bagian dari perusuh yang berujung pada hukuman mati. Kreator satunya lagi memilih jalur akhir bahagia, dengan menampilkan sosok Roseta sebagai pahlawan yang membantu tertumpasnya sang perampok Jaya.

Dari dua alternatif ini, Man menempuh happy ending. Roseta digambarkan berjasa pada pemerintah, sehingga ia menemukan kebebasan, lepas dari budak. Man ingin memberikan optimisme pada kisah perjuangan sosok tertindas.

Dengan pencapaian seperti ini, rasanya Roseta pantas mengisi lemari koleksi pada mereka yang mengaku mencintai komik Indonesia. Tersebab, Man memang bukan komikus biasa.

Kembang Larangan, 10-1.2011

 

 

One Comment

  1. Memang keren ini komik. Gambarnya menunjukkan bahwa Man membuatnya dengan rasa cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*