ilus2Dalam bincang-bincang bertajuk  Eksistensi Komik Wayang dalam Dunia Komik Indonesia, budayawan, sastrawan, sekaligus doktor komik, Seno Gumira Ajidarma memunculkan banyak statement menarik. Tentang pentingnya komik wayang, ia mengatakan, “Di antara yang paling penting adalah membebaskan wayang dari hegemoni Jawa, Sunda, Bali. Wayang, khususnya Mahabharata dan Ramayana sebagai kesenian daerah, (awalnya) hanya dipahami dengan bahasa daerah (terutama di Jawa, Sunda, dan Bali dimana kisah ini melekat).”

Seno melanjutkan, sejak adanya komik wayang (yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional), semua tahu tentang wayang. “Orang dari Medan atau Ambon, (lewat komik wayang)  mengetahui cerita wayang tanpa lagi ada jarak. Jarak yang biasa timbul karena benturan kebudayaan. Selain itu, pendukung kebudayaan daerah yang tidak mampu menggunakan bahasa tinggi (misalnya saja dalam panggung wayang kulit atau wayang orang, banyak menggunakan bahasa Jawa kromo, atau bahasa halus), juga sanggup menikmati komik wayang,” kata Seno yang mengaku paham kisah wayang dari cerita komik.

Bagi Seno, itulah yang luar biasa dari pengisah komik wayang seperti RA Kosasih sebagai pelopor komik wayang. “Dia membuat wayang yang tadinya dikuasai hanya oleh  kebudayaan daerah menjadi Indonesia. Jadi, jasa komik wayang adalah pada proses meng-Indonesia itu.”

Menurut Seno, visualisasi RA Kosasih dari tokoh-tokoh wayang juga menarik. Kosasih menampilkannya dalam kostum tari untuk panggung. Misalnya saja tokoh-tokohnya menggunakan selendang, sumping dan seterusnya. Dan, pembaca komik menganggapnaya sebagai sebuah kewajaran.

Kehadiran persewaan komik sebagai taman bacaan, menurut pandangan Seno merupakan cara marketing yang jenius.  Kehadirannya pun sangat dibutuhkan pembaca. “Pada masa itu kan kita kekurangan hiburan. Kita baru punya satu stasiun teve yaitu TVRI, film yang beredar ketinggalan sekian tahun (itu pun tak bisa banyak diakses karena masih tergolong mewah). Jadi, komik digemari tak hanya oleh anak-anak tapi juga pembaca dewasa. Banyak mahasiswa yang suka baca komik.”

Seno menyebutkan, komik itu “baik” sebagai hiburan, materi penelitian, maupun bahan diskusi. Apalagi, di masa sekarang dimana masyarakat memasuki abad visual. “Dan komik adalah pelopornya.

Komik memang baik, tapi kata Seno, “Ada stigma, prasangka sosial yang berhasil secara keliru yaitu meremehkan, menomorduakan, dan menggampangkan komik. Seolah-olah  komik tidak baik untuk anak-anak,  bahkan berbahaya dalam  menumbuhkan minat baca. Itu menciptakan istilahnya kebutaan teoritik. Semua intelektual merasa enggak pantas membaca komik.”

Sekarang, komik Indonesia memang punya banyak pesaing dengan kehadiran media hiburan lain seperti games dan seterusnya. Agar komik bisa eksist lagi, “Ini mesti dilakukan secara bergerilya, terus menerus mengenalkan komik. Peristiwa ini seperti dunia film kita beberapa tahun lalu,” ujar Seno yang semasa mahasiswa di Jogja, pernah menyelenggarakan seminar komik. Kala itu, ia bergerilya dengan dana terbatas, salah satunya mengundang pembicara Arswendo Atmowiloto dan Permadi, SH. Seminar ini pun berhasil menarik perhatian.

Cara bergerily, kata Seno, juga pernah dilakukan Arswendo yang pada masa itu kerap menulis tentang komik di Harian Kompas. Jadi, kita mesti tak lelah bergerilya terus menggaungkan komik lewat penerbitan, diskusi, maupun menuliskannya.

ilus1Bagaimana Seno memandang Teguh Santosa yang karyanya diterbtikan dalam bahasa Inggris?  Seno menilai Teguh adalah komikus hebat. “Teguh orang pertama Indonesia yang diakui secara internasional dari segi kecanggihan teknis. Terbukti , Teguh diundang dan berhasil bekerja  untuk penerbitan besar  Marvel, AS. Sekian bulan Teguh tinggal di Amerika. Ini contoh bagus untuk memberikan bukti bahwa kita sama sekali tidak kalah dengan komikus luar. Boleh jejerin gambar Teguh dengan yang lain.”

Kehadiran komik The Pandawa Story, menurut Seno merupakan sumbangan kita untuk dunia. “Komik ini merupakan Mahabharata yang bukan India, bukan nehi-nehi, tapi Indonesia. Ini salah satu harta karun dan kekayaan budaya.”

Kembang Larangan, 19-11-2013

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*