djair

Jaka Sembung terkapar tak berdaya akibat pukulan dahsyat yang dilontarkan Barda Mandrawata alias Si Buta dari Goa Hantu. Ia dikisahkan mati suri. Inilah adegan terakhir dari komik karya Djair berjudul Jaka Sembung vs Si Buta dari Goa Hantu yang diterbitkan Pluz tahun 2010. Bagaimana nasib Jaka Sembung selanjutnya, Djair berencana akan mengisahkannya dalam episode Menerobos Kerajaan Iblis. Namun, hingga sekarang kelanjutannya tidak kunjung terbit.

Djair, komikus besar negeri ini, meninggal Selasa (27/9) pagi pukul 10.15 dan komik Jaka Sembung vs Si Buta adalah karya terakhirnya yang sudah diterbitkan. Itu sebabnya, meski sudah terbit enam tahun lalu, komik ini menjadi penting. Kepergian  Djair mengakhiri karakter Jaka Sembung yang sudah menjadi legenda dalam dunia komik Indonesia.

Karakter Jaka Sembung yang bernama asli Parmin itu, terbit pertama kali tahun 1968 di masa awal pertumbuhan genre silat. Ia muncul setahun setelah Ganes Th sukses melahirkan sosok Si Buta dari Goa Hantu.

Kemunculan Jaka Sembung disambut hangat pencinta komik. Selanjutnya, kisah ini muncul utuh sebagai kesatuan cerita dalam 21 judul dan diakhiri judul Wali Kesepuluh tahun 1977.  Mulai tahun 1987, Djair menggarap lagi empat judul lakon Jaka Sembung termasuk judul terakhir,

+++

Jaka Sembung adalah karakter yang hidup. Lahir di fase ketika komik Indonesia didominasi genre silat, Djair membingkai Jaka Sembung dalam latar perjuangan bangsa di abad 17. Sebagai kisah fiksi perjuangan, Jaka Sembung tampil sebagai pendekar yang melawan kolonialis Belanda.

Tokoh ini digambarkan Djair dengan istilah “pendekar yang bermasyarakat.” Ia tidak mengenakan kostum seperti baju sisik ular ala Si Buta (tokoh komik yang juga sangat populer). Ia memakai caping saat mencangkul sawah, pakai sarung saat salat, dan hidup di tengah kesengsaraan rakyat akibat terjajah. Ia juga bukan sosok pendekar sakti tak terkalahkan.

Jaka Sembung makin hidup karena Djair melatari kisahnya dengan tempat-tempat yang memang nyata di Nusantara. Besar di Cirebon, menimba ilmu di Gunung Sembung sebuah gunung yang terletak di Cirebon Utara. Episode lain Jaka Sembung hadir di Kandanghaur, sebuah kecamatan di Indramayu. Ia juga hadir dengan latar lokasi di Karawang bahkan sampai Papua.

Kepopuleran Jaka Sembung yang beberapa kali diangkat ke layar lebar ini membuatnya menjadi semacam legenda. Yang justru meresahkan Djair, Jaka Sembung dianggap tokoh yang benar-benar ada. Suatu ketika kepada penulis, Djair mengatakan, “Saya mendengar ada seorang imam masjid yang mengajak makmumnya untuk membaca shalawat bagi Jaka Sembung. Saat itu, beberapa makmumnya adalah kru Rapi Films yang bertugas membuat property untuk syuting sinetron Jaka Sembung.”

Meski kenyataan ini menegaskan betapa berhasilnya Djair merangkai kisah dalam imajinasi realis, ia justru menjadi resah.  “Secara tidak langsung, saya membuat orang menjadi musyrik,” katanya melanjutkan. Untuk menebus “rasa bersalah” ini ia secara ekstrim ingin menggugurkan realisme Jaka Sembung. Inilah yang membuatnya melahirkan kisah Jaka Sembung vs Si Buta.

Djair mengungkapkan, “Selama ini orang tahu,  Si Buta adalah tokoh fiktif. Dengan menghadirkan Si Buta, pembaca komik akan segera paham bahwa Jaka Sembung juga fiktif.” Bahkan untuk mempertegas lagi, Djair membuat dua halaman awal komik Jaka Sembung vs Si Buta, dengan menampilkan panel gambar Jaka Sembung murung. Djair juga menampilkan dirinya sembari berkomentar, “Jaka Sembung murung karena  ia dipuja secara berlebihan. Mulai sebagai tokoh legenda, tokoh sejarah, bahkan membuat sebagian orang menjadi musyrik.”

***

Djair memang ekstrim membuat fiksi dan menggugurkan kredo penciptaan Jaka Sembung yang realis. Kisah dibuka dengan adegan Barda Mandrawata teringat Marni, sang kekasih yang direbut tokoh Sapujagat. Ia juga teringat ayahnya yang dibunuh oleh Mata Malaikat (kisah dalam Si Buta dari Goa Hantu).

Seorang kiai gadungan menghasut Si Buta dengan menyebutkan sosok di balik malapetaka itu adalah Jaka Sembung, seorang pendekar yang mengaku pejuang bangsa. Amarah Si Buta pun meluap. Ia akan menuntut balas dengan menghabisi Jaka Sembung.

Perjalanan Si Buta mencari Jaka Sembung diwarnai adegan khas khayalan yang lazim dalam dunia komik. Si Buta sempat terbawa dimensi waktu ke kondisi kota besar masa kini, salah satunya nyaris tertabrak bus di jalan raya.

Ringkas cerita, Si Buta berhasil menemui Jaka Sembung. Terjadilah, sebuah pertarungan seru. Jurus pukulan Leak Hitam yang dilancarkan Si Buta, berhasil mengalahkan Jaka Sembung. Akhirnya, Si Buta menyadari kesalahannya.

Bagi penggemar komik, lakon terakhir karya Djair ini bisa disebut mengada-ada. Namun, tanggung jawab Djair sebagai kreator menjadikan komik ini penting. Sekaligus menunjukkan keresahan Djair pada dunia komk Indonesia yang tidak semarak seperti pada masa kejayaannya.

Kepada penulis, Djair pernah mengatakan, “Saya sengaja mengakhiri kisah Jaka Sembung vs Si Buta dengan adegan Jaka Sembung mati. Sebenarnya, ia mati suri. Kalau tidak ada lagi penerbit yang bersedia melanjutkan kisah ini, berarti Jaka Sembung benar-benar mati.”

Ah Pak Djair, meski bapak sudah tiada, namun karakter Jaka Sembung akan selalu hidup dalam ingatan pencinta komik Indonesia. Selamat jalan, Pak. ***

 

Koran Jakarta, 11 Oktober 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*