radjienMohammad Radjien. Nama cergamis ini (bisa jadi) tidak begitu dikenal penggemar komik Indonesia. Bahkan, disertasi Marcell Bonneff juga tidak menyinggung Radjien (apa boleh buat, ketika menulis tentang komik, mau enggak mau mesti menyinggung nama Bonneff, karena ia memang yang pertama kali mengkaji secara komprehensif tentang sejarah komik. Ia pula yang membuat peta perjalanan komik Indonesia. Untuk itu, para pencinta komik Indonesia berutang budi kepadanya.)

            Minimnya tulisan tentang komik membuat kita kesulitan mengenali para cergamis yang pernah punya kiprah penting. Tak heran sebenarnya bila kita juga kurang kenal dengan Moh Radjien. Itu sebabnya, satu-satunya cara untuk mengenali mereka adalah dengan cara menelisik dari karya-karyanya. Dengan referensi yang sangat terbatas dan dengan membaca karya Radjien yang  juga sangat tebatas, saya mencoba “membaca”Radjien.

            Pertama kali, saya mencoba membaca, kapan Moh Radjien berkarya. Dari 10 judul karyanya yang saya baca, tak semuanya tertera tahun penerbitan. Maling Caluring tertulis terbit tahun 1961. Lalu, di komik Sri Tandjung tertulis tahun penerbitannya yaitu tahun 1962.  Di judul komik lainnya tahun tak tertulis tapi saya tertolong dengan ketelitian pemilik komik ini yang di salah satu halaman menuliskan kapan ia mengoleksinya. Antara lain komik Timun Mas (1962), Maling Tjaluring (1962), Putri Indreswari (1963). Sedikit data ini menunjukkan bahwa Radjien berkarya di tahun 60-an.

            Kedua, saya coba menyimak karya-karyanya. Antara lain berjudul Timun Emas, Ketek Ogleng, dan Dalang Gambuh Asmara. Dalam lakon ini, Radjien mengisahkan kembali cerita Panji yang sudah sangat dikenal masyarakat. Sebagaimana diketahui, lakon Panji tumbuh di masa kerajaan di Jawa Timur dan mengisahkan tentang perjalanan asmara Panji Asmarabangun dan Galuh Candra Kirana. (sebagian komik Radjien karyanya ditulis oleh Poerwadhi Atmodihardjo)

            Cerita panji begitu menarik para peneliti untuk mengkajinya. Kisah ini buah karya pujangga asli Nusantara (bukan kisah dari India seperti Mahabharata dan Ramayana). Ia lahir di masa Majapahit. Latar kisah ini adalah seputar kerajaan Daha, Jenggala, dan seterusnya. Beberapa ahli menuliskan, kisah ini sudah ada di abad 12, dan ada juga yang menuliskan abad 14. Sebagian kisahnya tertera dalam relief di beberapa candi di Jawa Timur.

             Begitu populernya kisah panji, ia kerap hadir di cerita-cerita ketoprak. Bahkan, juga di wayang gedok. Selanjutnya, kisah panji muncul dalam berbagai versi. Kisah panji yang populer di masyarakat bisa disebut Ande-Ande Lumut, Keong Emas, dan Golek Kencana. Dari Jawa Timur, kisah panji menyebar sampai ke Bali, Kalimantan, bahkan sampai ke Thailand.

            Selain itu, karya Radjien lainnya berjudul Hardjotani. Ini juga cerita yang berdasarkan kisah yang sudah populer yaitu masa Surakarta Hadiningrat menjelang akhir abad 19. Karya berikut Keris Sakti Kyai Sengkelat, Radjien mengisahkan riwayat keris sakti yang kemudian kondang dimiliki oleh Kerajaan Demak ini. Mencermati sebagian karyanya ini, Radjien merupakan komikus yang serius menggarap lakon-lakon legenda atau babat.

            Karya-karya Radjien diterbitkan oleh Penerbit Grip, Penerbit Usaha Modern, Penerbit Warga, Penerbit Pustaka Harapan, yang semuanya dari Surabaya. Dari sini tersimpulkan, Radjien tumbuh di Surabaya atau setidaknya di Jawa Timur.

            Dengan melihat masa dia berkarya ditambah kecenderungan karyanya, Radjien masuk dalam fase yang disebut Bonneff ‘Kembali ke Sumber Kebudayaan Nasional.’ Sebagaimana terutulis dalan risalah komik, periode awal komik Indonesia ditandai dengan karya komik yang terpengaruh oleh Barat (antara lain Sri Asih, Siti Gahara karya RA Kosasih yang lahir tahun 1954, Putri Bintang, Garuda Putih karya John Lo dan komik lain yang dipengaruhi kisah Flash Gordon.)

            Kala itu, komik jenis ini mendapat tantangan dan kritik keras dari para pendidik. Penerbit Melodie dari Bandung menjawab kritik ini dengan menerbitkan komik wayang karya Kosasih dan John Lo di tahun 1954 dan 1955. Muncullah kemudian genre wayang yang sangat mewarnai komik Indonesia masa itu, dengan Melodie sebagai penerbit terdepan dan menjadi sang pelopor.

            Selanjutnya, selain kisah wayang Kosasih dan komikus yang muncul belakangan juga menggarap kisah-kisah panji. Kita mengenali karya Kosasi seperti Ande-Ande Lumut, Damar Wulan, Panji Semirang, dan seterusnya. Masyarakatnya menyebutnya sebagai babad, sebuah kisah karya pujangga lama yang berbasis pada kisah nyata di masa kerajaan zaman itu. Lakon babad berhubungan dengan kisah-kisah seputar kerajaan. Hadir pula lakon komik berlandaskan dongeng.

            Komik yang bernapaskan “kebudayaan nasional” ini begitu disukai masyarakat. Oleh karena bertumpu pada kisah-kisah yang tumbuh di negeri sendiri, tak ada alasan dari penentang komik untuk menolaknya. Komik pun tumbuh subur.

            Terinspirasi kesuksesan penerbit Melodie Bandung, pada waktu itu, banyak tumbuh penerbit dari Surabaya dan beberapa kota lain. Tampak benderang, Radjien tumbuh dalam masa setelah Kosasih, namun masih dalam napas yang sama. Ia masuk dalam wilayah komik panji. Seiring proses kreatifnya, lakon bernapas kesejarahan (bukan panji) juga menjadi wilayah garapan Radjien.

Salah satunya terlihat dari lakon sejarah yang terjadi di masa Surakarta Hadiningrat di akhir abad 19. Judulnya Hardjotani Robinhood Indonesia yang disebut sebagai kisah yang sungguh-sungguh terjadi. Ini kisah tentang ksatria yang menjadi pencuri para orang kaya yang berselingkuh dengan pihak kolonial Belanda. Sebagaimana kisah maling budiman yang terserak di berbagai wilayah, Hardjotani juga membagikan harta jarahannya kepada rakyat jelata.

            Bila menyimak dari karya Radjien yang diterbitkan beberapa penerbit, yang bisa kita lihat adalah, ia termasuk komikus yang berpengaruh di Surabaya. Karya-karyanya (sangat mungkin) adalah karya yang laku dan di masanya punya penggemar tersendiri (setidaknya penggemar di Jawa Timur.) Ia (tampak) termasuk komikus yang menjadi andalan para penerbit.

            Menyimak karya-karyanya seperti Sri Tanjung, Radjien sebenarnya pantas menjadi komikus bermutu. Gambarnya pun punya karakter tersendiri dengan bidang gambar yang jarang dibiarkan kosong. Ia begitu telaten mengisi panel-panelnya dengan latar yang sering dekoratif. Tentu, ini membutuhkan ketekunan tersendiri.

            Ingin pula saya tuliskan, Radjien berkarya ketika format komik baik ukuran maupun panelnya “belum seragam” dengan dua panel itu. Komik Radjien berukuran 14 x 19,5 cm, 14,5 x 20,5 cm, 15 x 20,5 cm, bahkan berformat lebar 18,5 x 26,5 cm. Dengan format ini, Radjien mengisi tiap lembar halamannya dengan multi panel. Kadang satu halaman berisi 3 panel, 4 panel, 5 panel, dan 6 panel, dan di komik lebarnya ia membuat satu halaman dengan 12 panel.

            Dari catatan selintas ini, saya ingin mengatakan ada sosok nama yang

karya-karyanya pantas dikenang: Moh Radjien.

Karya-karya Moh Radjien

1.    Maling Caluring, cerita Poerwadhi atmodihardjo, Fa Usaha Modern, Surabaya, 30 halaman, 1961

2.    Hardjotani Robinhood Indonesia, Penerbit Warga, Surabaya, 30 halaman

3.    Putri Indreswari, Usaha Modern, Surabaya, 30 halaman, 1963 (catatan pemilik awal)

4.    Gambuh Asmara, Usaha Modern, Surabaya, 30 halaman

5.    Sri Tanjung, Pustaka Harapan, Surabaya, 1962, dua buku masing-masing 30 halaman

6.    Timun Emas, bagian pertama, Fa Warga, Surabaya, 1962 (catatan pemilik awal), 30 halaman

7.    Timun Emas, bagian kedua, Fa Warga, Surabaya, 1962 (catatan pemilik awal), 30 halaman

8.    Ketek Ogleng (lanjutan Timun Emas), Fa Warga, Surabaya, 30 halaman

9.    Dewi Limaran, Warga, gabungan trilogi Timun Emas

10.  Dalang Gambuh Asmara, Usaha Modern Surabaya, 30 halaman

11.  Keris Sakti Kyai Sengkelat, Grip Surabaya, 30 halaman

12. 17 Agustus 1945, Grip, 32 halaman, 1963

Kembang Larangan, 30 Januari 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*