(Catatan untuk pengantar komik “Dia” karya Man

 

man Sejarah komik Indonesia telah membuktikan betapa kaya warna, baik dari ragam gambar maupun genre. Tak ada data pasti, tapi jelas sudah ada ribuan judul komik pernah terbit di negeri kaya budaya ini. Telah hadir pula ratusan komikus dengan berbagai keragamannya. Dari sisi genre – kalau boleh disebut begitu –  komik Indonesia juga menunjukkan kekayaan corak.

Sejak awal kelahirannya di tahun 30-an, beragam genre sudah hadir. Diawali dari komik humor satiris ala Put On karya Kho Wang Gie, selanjutnya hadir genre-genre lain. Mulai dari genre wayang dan hikayat yang begitu dominan lewat karya begawan komik RA Kosasih, genre roman remaja lewat Jan Mintaraga, Zaldy, Sim, superhero dengan tokoh utama Hasmi, Wid NS, juga Kus Bramiana, sampai ke genre anak-anak yang di masa 70-an lebih dikenal sebagai komik HC Andersen.

Meski tidak begitu mendominasi, perlu dicatat pula kehadiran komik humor yang di masa kejayaan komik Indonesia, banyak diwarnai komik model Petruk-Gareng. Di antara sekian ragam genre, yang paling dominan di masa itu tentu saja genre silat  dengan tokoh pentingnya Ganes TH (Si Buta dari Goa Hantu), Jair (Jaka Sembung), Man (Mandala Siluman Sungai Ular.)

Perkembangan komik Indonesia di masa sekarang juga makin menunjukkan variasinya. Warna-warna baru yang sebelumnya tidak dikenal, kini juga hadir. Misalnya saja “genre curhat” yang menceritakan kehidupan sehari-hari kreatornya. Atau setidaknya komik yang menceritakan persentuhan komikus dengan lingkungannya, mulai dari sisi keluarga, pergaulan, dan kesenangannya.

***

Kekayaan lain dari komik Indonesia juga menghadirkan apa yang disebut komik horor. Komik jenis ini juga memiliki kreatornya. Penggemar komik Indonesia mungkin ingat nama-nama komikus masa lalu yang teguh dengan genre ini seperti Abuy Ravana. Sebagian besar karya Abuy terlihat fokus di genre ini. Salah satu contohnya terlihat dari karyanya berjudul Perjanjian dengan Setan. Sebuah kisah – yang dibangun dari realitas yang pernah ada di masyarakat agraris kita –  tentang seorang yang ingin kaya mendadak dengan cara instan yaitu bekerja sama dengan sebangsa iblis.

Abuy kerap pula berfantasi dengan menggabungkan alam manusia dengan alam lain dalam bingkai genre silat yang pada masa itu begitu dominan. Maka dalam dunia komik horor Abuy, muncul berbagai makhluk seram.

Komikus lain yang lebih menonjol dengan “komik horornya” adalah Teguh Santosa.  Teguh yang juga menonjol dengan komik fiksi sejarahnya- tampil dengan dua gaya: horor realis dan surealis. Dalam sebuah artikel yang pernah saya tulis, yang saya maksud dengan mistik realis, adalah kisah-kisah mistis yang digali dari realitas yang ada dalam masyarakat. Misal soal mencari pesugihan, tenung, ilmu hitam, dan makhluk dunia gaib yang oleh masyarakat diakui keberadaannya. Mistik surealis yang saya maksudnya adalah upaya Teguh memanfaatkan dunia gaib itu untuk mengeksplorasi kreativitasnya.

Dalam mistik surealis Teguh, tidak hanya berpijak pada kisah mistis yang berkembang di masyarakat, namun ia lebih jauh mengeksplorasinya. Pijakan fenomena mistis itu dibumbui hal-hal fantastis. Sehingga sah-sah saja di dunia gaib ada kendaraan serupa piring terbang atau makhluk-makhluk ajaib seperti jangkrik, belalang, atau makhluk-makhluk aneh sesuai keinginan Teguh, tidak semata gambaran pocong, sundel bolong dan sebagainya.

Komik mistik surealis Teguh, misalnya saja, saya temukan dalam sequel sepanjang 10 judul mulai dari Dewi Air Mata sampai Istana Darah, dengan kisah yang paling dikenang yaitu Kuil Loncatan Setan dan Mata Siwa.

Di genre lain, komikus papan atas yang sangat menggemari tema mistik adalah Wid NS. Godam punya musuh abadi Doktor Setan, petualangan Godam banyak diwarnai perjumpaan dengan hal-hal gaib. Komik lepas Wid banyak juga yang mengambil tema mistik seperti terlihat dalam Pengantin Rumah Kubur, Tangan Sunthi. Hanya saja, Wid menjalin kisahnya tidak hanya menampilkan hantu-hantuan, tapi lebih menampilkan unsur-unsur ketegangan yang mengedepankan rasionalitas.

Belakangan ini, komik jenis horor bahkan cukup disukai para komikus muda.  Bahkan, Comical Magz di edisi 017 pernah membuat “liputan khusus” tentang komik horor. Yang menarik, komik horor di tangan generasi komikus muda hari ini, dipadukan dengan unsur humor. Hantu dipandang tidak lagi dalam kesan menyeramkan tapi menjadi “bahan guyonan.”

Beng Rahadian dalam catatannya memberi istilah “mencandai hantu” . Kata Beng, “Para hantu muncul dalam bentuk yang lebih ceria, gaul, dan konyol. Pocong Pinky-nya Faza Meonk, kuntilanaknya Dannie Faizal lewat Manjali, adalah representasi bagaimana komikus saat ini mengelola ketakutan pada makhluk gaib dengan gaya baru yaitu humor.”

Di rak koleksi komik saya juga tersimpan beberapa komik guyonan hantu seperti yang disebutkan Beng. Antara lain From Kijing With Love karya Kevin van Embis yang habis-habisan mengolok-olok pocong. Atau Parade Hantu Galau karya Maulana Faris yang antara lain mencandai sosok sundel bolong. Hantu-hantu itu tidak lagi menakutkan tapi menggelikan.

Kecenderungan komik horor-humor ini-tampaknya- bersanding dengan novel remaja dan juga film. Beberapa waktu lalu, rak di toko buku cukup banyak diwarnai novel guyonan pocong yang diledakkan lewat novel Poconggg juga Pocong. Setelah itu, muncul novel senada seperti Kisah Kunti-Ting Mencari Alamat Palsu Si Pocong karya Tj Marlee.

Kemunculan kisah-kisah seram (baik komik, novel, atau film) itu dengan berbagai variannya menunjukkan, genre horor disukai (sebagian) masyarakat. Dalam hal komik, indikasi ini ditunjukkan komik 101 Hantu Nusantara karya “trio hantu” karya Yudis, Broky dan Pak Waw. Komik terbitan Cendana Art Media ini sudah beberapa kali cetak ulang dengan tiras belasan ribu eksemplar.

***

man2  Perbincangan komik horor ini akan saya fokuskan pada komik-komik karya Mansyur Daman yang populer dengan nama Man. Dalam proses kreatifnya, Man memang tidak hanya fokus pada cerita horor. Namanya menjulang lewat komik silat dengan tokohnya Mandala yang begitu melegenda. Begitu populernya, kisah Mandala beberapa kali diangkat ke film layar lebar.

Meski begitu, genre komik humor tidak bisa dipisahkan dari Man. Di awal kariernya, Man pertama kali berkreasi dengan komik horor berjudul Istana Hantu. Iwan Gunawan dalam majalah komik Sequen edisi pertama (tahun 2006) menulis, komik yang diterbitkan Penerbit Rose ini mengangkat kisah horor dengan setting modern.

Penerbit Rose dalam iklan di komik Man yang terbit sesudahnya berjudul Kelelawar Terbang Malam menuliskan, “Istana Hantu merupakan cerita yang menyeramkan. Setiap langkah tokoh-tokoh pelakunya diikuti oleh hantu yang menakutkan. Mereka terkepung di sebuah gedung tua yang merupakan istana bagi hantu-hantu-dimana pintu serentak terkunci sendiri. Mulailah hantu-hantu tersebut mengincar mangsanya. Sangat misterius, mendebarkan, dan mendirikan bula roma!”

Catatan ini menunjukkan, Istana Hantu merupakan kisah horor realis yang dibangun untuk memancing “syaraf takut”  pembacanya. Dan, Man di awal karier yang masih mencoba menemukan style gambarnya ini, sudah menunjukkan bakatnya menjadi seorang pencerita yang baik.

Man muda dalam komik berikutnya Kelelawar Terbang Malam masih dengan Penerbit Rose, juga membuat komik horor. Dalam Kelelawar Terbang Malam, Man membuat model kisah tentang tokoh Dracula, yang populer di belahan Barat sana. Setting kisah dibangun Man dengan lanskap Eropa. Tokoh-tokoh utamanya seperti Van Helsing, Arthur, dan seterusnya serta lokasi tempat seperti Stasiun Whitby, ditambah busana para tokohnya, memang memperlihatkan Man bercerita tentang Eropa.

Tentang komik awalnya ini, Man mengatakan, “Dalam Kelelawar Terbang Malam, saya memang mengadaptasi cerita tentang Dracula. Saat itu, saya belum pintar membuat cerita,” ujarnya.

Sayang, komik ini tak menuliskan tahun terbitnya. Dalam ingatan Man, Istana Hantu dan Kelelawar Terbang Malam dibuat tahun 1962, saat Man berusia 16 tahun.

(Man lahir 3 Juli 1946). Pada periode ini, genre horor masih jarang menjadi lahan garapan para komikus. Komik Indonesia masa ini diwarnai genre wayang, hikayat, dan humor. Tahun ini juga dalam embrio hadirnya komik berwarna cergam remaja. Bahkan, Marcel Bonneff dalam penelitiannya tak menemukan komik horor yang beredar  antara April  dan Juli 1971.

Dengan menelusuri peta genre komik Indonesia pada masa itu, saya berani mengambil kesimpulan (meski agak tergesa) bahwa komik horor tidak menjadi perhatian serius komikus kita.  Bahwa Man di awal kariernya membuat komik jenis ini, berarti dia telah menerobos kekosongan genre horor. Apakah Man bisa disebut salah satu pelopor genre horor? Saya meyakini “hipotesa” ini. Setidaknya Man sudah menjejakkan kakinya dan mencatatkan diri sebagai komikus yang menaruh perhatian pada komik horor di tengah kesepiannya.

Man mengatakan, “Pada waktu itu, komik horor tidak saya temukan. Yang banyak memang komik wayang dan hikayat. Komik Medan yang lagi ramai juga banyak mengangkat hikayat lokal. Saat itu juga banyak komik humor karya Sopoiku.”

Uniknya, ketertarikan Man mengangkat humor justru karena ia seorang yang penakut. “Iya, saya ini sebenarnya penakut. Nah, karena itu, saya malah gampang membayangkan hal-hal yang seram dan menuangkannya dalam komik. Suatu saat saya pernah ke kamar mayat, wah malah membayangkan yang seram-seram,” kata Man. Dari sinilah Man justru sanggup membuat imajinasi tentang kisah-kisah menyeramkan.

 

***

Selanjutnya, Man juga membuat komik roman remaja, misalnya saja Awan Hitam (Sumber Karya, 1966) dan Minggu Terachir  (Penerbit Surya Kencana, Bandung) . Pada masa ketika ladang komik Indonesia banyak bersemi genre silat, Man juga membuat komik jenis ini.Penggemar komik Indonesia tentu paham, Man meledak dengan tokoh Mandala yang diawali dengan Golok Setan yang terbit tahun 1972.

Meski begitu, pada masa ini, dalam bingkai genre silat. Man masih beberapa kali membuat tema horor, seperti Pekikan Histeris (1971), Monyet Putih (1972),  Gondoruwo (1972), dan Misteri Keluarga Jun (1974). Beberapa beberapa penggemar komik Indonesia dalam perbincangan di media sosial Face Book, bahkan menempatkan Misteri Keluarga Jun sebagai komik seram yang paling membuat bulu roma berdiri.

Misteri Keluarga Jun mengisahkan sebuah drama yang terjadi di keluarga mendiang Jun, seorang saudagar kaya. Kisah diawali dengan gambaran kediaman saudagar Jun yang mewah tapi suram. Keluarga ini mempunyai pembantu rumah tangga yang setia, bernama Yuyun dan Gempol. Konflik bermula ketika Mirhad, salah satu anak saudagar Jun pulang setelah “belajar” dari tanah rantau.

Kembalinya Mirhad membuat kegembiraan di keluarga Jun. Selanjutnya, mereka mengadakan rapat keluarga yang intinya membicarakan pembagian warisan. Kakak tertua Mista justru memanfaatkan harta warisannya untuk berfoya-foya. Sepulang dari pesta dalam kondisi mabuk, ia bermaksud mencabuli Yuyun. Selanjutnya, Yuyun dikisahkan mati gantung diri. Inilah awal dari teror. Kematian demi kematian terjadi di rumah keluarga ini. Kematian itu disebabkan tindak pembunuhan yang dilakukan mayat hidup Yuyun!

Kompleksitas horor dibangun Man dengan sangat rapi. Man pandai membuat adegan demi adegan yang begitu mencekam. Misalnya saja mayat Yuyun yang bangkit dari kubur diperkuat gambar dan narasi kuat, membuat pembacanya begitu tercekam. Saya masih ingat betul, di masa kanak-kanak dulu, komik ini membuat saya tak berani tidur sendiri. Juga tak berani  membacanya di malam hari.

Man juga pandai menyimpan misteri teror sampai di ujung kisah. Dalang teror adalah Mirhad. Dalam perantauannya, ia rupanya belajar ilmu gaib membangunkan mayat. Tujuannya tak lain ingin menguasai harta keluarga. Saya mencatat, inilah salah komik horor yang paling mencekam dan berhasil dalam berbagai aspek.

***

Sebagai seorang pujangga komik, Man tak pernah berhenti. Bahkan, di usianya yang tahun 2013 ini menginjak 67 tahun, ia masih tegar berkarya dan produktif. Karyanya diterbitkan beberapa lembaga resmi pemerintah. Ia juga melayani permintaan membuat komik dari penggemarnya. Sejumlah karya barunya memperkaya dan ikut menggeliatkan komik hari ini. Karya anyarnya yang telah terbit seperti Tumbal, Roseta, Bunuh Mandala, Pedang Mercu Buwana, mendapat apresiasi hangat dari pencintanya.

Tahun ini, bersamaan dengan pameran Retro Man yang digagas penggiat komik untuk mengapresisi ketokohannya, sejumlah karyanya akan terbit hampir bersamaan. Salah satunya adalah komik Dia yang sekarang ini ada di tangan Anda.

Lewat Dia, Man kembali membuat komik horor. Hanya saja, berbeda dengan karya sebelumnya, horor Man tidak lagi menceritakan hal-hal gaib. Ia menempuh jalan berbeda, komik mencekam di luar konteks “hantu-hantuan.

Silakan pembaca menikmati komik dalam sebuah lukisan yang menawan ini: karya dari seorang pujangga komik yang sudah mencapai tahap empu.

 

 

Kembang Larangan, 10 Februari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*