ilusRA Kosasih sudah membuat komik wayang yang memberi landasan bagi proses perkembangan komik jenis ini.  Beng menyebutnya sebagai komik wayang sesuai pakemnya. Cergamis setelahnya yang menggarap wayang juga sudah sedemikian banyak, yang rata-rata menggarap sesuai dengan kisah wayang yang sudah ada. Lantas, bagaimana ketika cergamis muda mesti menggarap komik wayang? Apakah mereka bisa membuat interpretasi sendiri?

Sastrawan Yanusa Nugroho dalam bincang komik sore itu mengungkapkan tentu saja bisa. Namun, interpretasi yang memiliki pijakan kuat dan tentu butuh referensi yang kuat pula. Sebab, menurut Yanusa, interpretasi dalam kisah wayang sudah dilakukan pujanggan Nusantara lebih dari seribu tahun silam.  Lakon-lakon wayang di Nusantara juga sudah mengalami metamorfosa yang bahkan sudah disesuaikan dengan konteks masyarakatnya.

Sebelum memberi gambaran tentang “interpretasi yang benar”, Yanusa lebih dulu memberi pemahaman tentang beda inti cerita Ramayana dan Mahabharata. Menurut banyak ahli di dunia, tutur Yan, “Ramayana  adalah kisah tentang dharma atau perbuatan. Sedangkan Mahabharata adalah soal karma. Siapa yang berbuat jahat pasti akan menemukan balasannya. Siapa menabur pasti akan menuai. Ketika semua Kurawa berbuat jahat, semuanya juga mati.”

Proses kematian Kurawa juga macam-macam. Misalnya saja Dursasana yang matinya sedemikian mengenaskan, itu adalah buah perbuatannya yang sedemikian dashyat menghina Drupadi. “Ketika Drupadi dipertaruhkan di meja judi, dia berusaha ditelanjangi oleh Dursasana di depan umum.  Hanya karena bantuan dewa, busananya tak habis-habis meski terus ditarik Dursasana. Drupadi dipermalukan sampai menangis dan benar-benar terhina.”

Oleh karenanya, Drupadi bersumpah, tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas darah Dursasana. Pada akhirnya, Drupadi memang berhasil menuntaskan sumpahnya. Dia keramas darah Dursasana yang mati dikuliti oleh Bima.

***

Soal interpretasi, Kosasih pun tidak serta-merta menuruti versi India.  Misalnya saja dia  tidak menggambarkan Drupadi bersuami lima orang yang dikonotasikan sebagai poliandre, tapi Drupadi hanya istri Yudhistira. “Di pedalangan, interpretasi ini namanya sanggit. Kisah yang bukan mengambil dari Mahabharata maupun Ramayana, itu cerita carangan. “

Tentang poliandre nya Drupadi, ujar Yanusa, ada ceritanya tersendiri. Ketika Pandawa kalah main dadu dan harus menjalani masa pembuangan di hutan selama 13 tahun, sang ibu Kunti juga ikut. Suatu kali Kunti mengatakan pada anak-anaknya, “Anak-anakku, apa pun yang kalian peroleh, bagilah dengan rata. Itulah keadilan.  Tentu yang dimaksud Kunti adalah makanan atau rezeki.”

Suatu kali, usai memenangkan sayembara yang beroleh anugerah gadis cantik Dupadi, Arjuna mengatakan,  Ibunda kami datang dan memenangkan sesuatu. Kunti sambil menyisir rambutnya melihat kea rah lain dan tidak melihat Arjuna. Mengatakan, “Bagilah untuk kalian berlima. Kepatuhan pada ibu membuat, Drupadi menjadi istri mereka berlima.”

Sebenarnya, di India sendiri tidak seluruhnya mengenal konsep poliandre. Konsep ini hanya ada di wilayah India Utara yang keadaannya miskin.

***

Yanusa juga memberikan contoh sanggit yang menarik yang dilakukan ki dalang Manteb Sudarsono dalam salah satu pentas wayang tentang Kumbakarna Gugur. Dalam  versi asli, Kumbakarna mati mengenaskan karena tubuhnya “dimutilasi” panah Rama dalam peperangan. Panah pertama memutuskan bahu sebelah kiri. Anak panah kedua dilepas dan memutus lengan kanan Kumbakarna.

Kumbakarna terus melangkah. Anak panah yang ketiga dan keempat kearah kedua kaki Kumbakarna. Dan, panah kelima menembus lehernya. Kematian Kumbakarna begitu mengerikan. Padahal, ia perang melawan kubu Rama bukan karena membela kelaliman tapi lebih membela negara.

Nah, kematian Kumbakarna ini membuat Ki Manteb membuat sanggit. “Saya enggak tega dengan Kumbakarna. Dia orang luar biasa jujur, dia tidak akan bangun kalau negerinya tidak ada persoalan. Kok matinya begitu.”

Maka, Pak Manteb membuat kisah Kumbakarna Gugur dengan menyanggit bagian kematiannya. Bagian tubuh Kumbakarna yang dimutilasi, digambarkan sebagai simbol lima nafsu manusia yaitu aluamah, mutmainah, sufiyah,  dan amarah. “Kalau empat nafsu manusia padam, yang tertinggal hanya detak jantung. Nah, Kumbakarna mati hanya oleh satu panah Lesmana yang diarahkan ke jantungnya,” tutur Yanusa.

Kenapa yang mengakhiri hidup Kumbakarna adalah Lesmana. Sebab, dalam  Ramayana, Lesmana digambarkan sebagai orang suci. Kumbakarna, dalam interpretasi Pak Manteb adalah orang suci.  Inilah dahsyatnya sanggit Pak Manteb, “Orang suci hanya mati oleh orang suci,” tegas Yanusa.

Yanusa menegaskan, “Silakan saja kalau mau membuat sanggit. Tapi, baca betul referensinya. Lantas, nilai apa yang akan kita sampaikan dalam interpretasi itu? Nilai apa yang ingin kita masukkan?

Dalam membuat kisah, Yanusa mengingatkan agar hati-hati menggambarkan tentang tokoh. “Dalam wayang, ksatria itu mewakili masing-masing bidang. Misalnya Bima adalah ksatria gada, dia tidak pernah membawa pedang. Arjuna juga tidak pernah membawa pedang, dia ksatria panah dan keris. Untuk jarak jauh menggunakan panah, ketika bertarung jarak dekat menggunakan senjata keris. Saya pernah mengoreksi  mahasiswa yang menggarap Arjuna menggunakan pedang. Ini tidak benar. Ketepatan karakter ini harus dihormati”

Kembang Larangan, 20-4-2014

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*