bengBergulirnya event komik KosasihDay yang merambah sampai ke beberapa kota tak lepas dari gagasan peggiat komik Beng Rahadian. Dalam acara diskusi tentang RA Kosasih, Beng mengatakan. “Saya dan kawan-kawan tidak ingin lupa pada sejarah dan pada orang yang berjasa memperkenalkan komik.”

Aktivis komik muda seperti Suryo Laksono dan rekan seangkatannya yang tidak kenal langsung dengan RA Kosasih, bahkan baru belakangan membaca karyanya, rupanya punya semangat yang sama dengan Beng. “Kami ingin punya pahlawannya sendiri, sebelum menyebut nama-nama asing. Ternyata, ketika saya menggulirkan nama Kosasih,  yang merespons bukan hanya komikus tapi juga seniman, budayawan, dan mereka yang dulu membaca komik Kosasih,”tutur Beng yang juga mengisahkan persentuhannya dengan cerita wayang.

Semasa kecil, Beng merasa beruntung ayahnya mendongeng untuknya, kisah wayang dan kisah nabi. Perkenalan pertama dengan kisah wayang ini berlanjut ketika di tahun 80-an di masa kecilnya, ia membaca komik wayang Kosasih. “Cerita wayang Pak Kosasih sudah jadi pakem buat saya. Makanya saya terkejut ketika membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma tentang Drupadi. Saya sempat kaget dan tidak terima karena Drupadi poliandre. Saya terguncang karena pemahaman saya sebelumnya, Drupadi hanya bersuamikan Yudhistira. Saya cari referensi lain dan ternyata, kisah wayang itu banyak versinya.”

Bagi Beng, Kosasih sudah memberi pakem yang kemudian ia jadikan pegangan. Kalau ada kisah lain yang berbeda, Beng menganggapnya sebagai “versi”

Soal persentuhan saya dengan Kosasih, Beng mengaku kenal sang Begawan pada tahun 2005 saat ia terlibat dalam acara Pekan Komik. Panitia pekan komik memutuskan untuk memberi  penghargaan kepada Kosasih dalam hal pengabdian pada profesi. “Saya mencari alamatnya dan bertemu dengan Bu Retno dari Elex Media yang saat itu menerbitkan ulang komik Pak Kosasih.”

Selain memberi alamat Kosasih di kawasan Rempoa, Tangerang Selatan, Retno juga mengatakan, “Pak Kosasih sudah sepuh dan sendirian. Mbok ya ditemenin.” Namun, Beng mengaku belum begitu terentuh, sampai akhirnya ia kembali bertemu dengan Kosasih tahun 2007 ketika Kosasih Award akan diluncurkan.

“Saya kembali ke rumahnya dan intens. Sebab, saya sempat kesulitan mendekati Pak Kosasih. Pak Kosasih trauma karena sudah terlalu banyak dimanfaatkan orang. Ada yang mau bikin film dan pinjam property seperti buku dan komik-komiknya. Namun, tk ada yang dikembalikan. Makanya beliau trauma dengan orang yang datang dengan maksud tertentu. Saya sampaikan bahwa Kosasih Award itu peting untuk nama bapak sendiri. Tapi, Pak Kosasih malah bilang ‘kentut’.”

Namun, Beng tidak kapok. Dalam berbagai kesempatan, baik sendiri maupun bersama rekan-rekan pencinta komik, ia tetap menyambangi Kosasih. Pertemuan pun menjadi intens sampai akhirnya Kosasih melunak. Ia tidak keberatan namanya digunakan untuk event penghargaan komik.

Sampai suatu hari di tahun 2008,  putri Kosasih menelepon, “Katanya, Bapak ingin  ketemu saya. Saya pun datang ke rumahnya, Beliau cerita,  ketemu saya dalam mimpi. Dia minta saya meneruskan nama Kosasih untuk kegiatan komik. Bahkan, dia mengusulkan nama Akademi Samali yang saya gagas, diganti dengan Akademi Kosasih.”

Dua minggu menjelang kepergian Kosasih, saat Beng menemani sang pemula yang dirawat di Rumah Sakit, “Hal yang sama diungkapkan kembali. Beliau menyarankan saya agar memakai namanya untuk mengganti nama Akademi Samali atau untuk kegiatan komik,” ujar Beng yang kala itu belum tahu ‘mau diapakan’ nama Kosasih itu.

Ingatan tentang nama Kosasih muncul kembali ketika suatu hari, beberapa kawan ingin merayakan hari komik dan animasi. Beng berpendapat, sebaiknya dipisah, khusus hari komik saja. Nah, untuk menentukan hari komik, “Sebaiknya kita mencari momen yang monumentall. Seperti halnya Hari Musik yang diambil dari hari kelahiran WR Supratman atau hari film yang diambil dari saat pertama kali syuting dilakukan. Kalau hari komik, kita cari sosok yang paling berpengaruh. Mungkin ketokohan Kosasih bisa jadi acuan untuk pengukuhan itu,” jelas Beng.

Sebelum sampai ke sana, Beng ingin menunjukkan dulu ketokohan Kosasih dan arti penting keberadaannya dalam peta komik Indonesia. Yaitu lewat event #KosasihDay. “Saya ingin melihat respons masyarakat.  Jika berhasil, mungkin bisa jadi acuan untuk ke sana. Intinya komikus Indonesia harus punya pahlawannya sendiri dan itu sudah ada. Bukan hanya karena ketokohan Pak Kosasih, tapi spiritnya itu pantas ditiru.

Bagi Beng, spirit Kosasih memang pantas diteladani. Salah satu contoh, betapa Kosasih fokus saat berkarya. “Beliau cerita, saat bikin komik  kamar kerjanya ditutup. Kalau menyediakan makan, sang istri mengetuk pintu. Artinya, saat bekerja Pak Kosasih benar-benar fokus.”

Kembang Larangan, 13 April 2014

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*