ilusAcara KosasihDay Jakarta berlangsung sejak 4 l – 12 April di Galeri Serrum, Jl. Gurame, Rawamangun, Jakarta. Menutup acara ini, berlangsung acara ngobrol komik bertema Perlukah Mengenang Kosasih? Dalam acara yang kebetulan saya moderatori ini, tampil menjadi pembicara sastrawan Mas Yanusa Nugroho, penggagas acara Beng Rahadian, dan C uryo Laksono, kreator muda yang terlibat dalam acara. Acara diskusi santai ini juga diikuti oleh belasan anak muda dimana masa depan komik dan karya budaya Nusantara diletakkan.

Banyak perbincangan menarik dari acara diskusi ini. Mas Yanusa banyak memberi pencerahan karena kapasitasnya sebagai sastrawan yang komplet, pergaulan yang luas dan akrab dengan para dalang, keterlibatannya dalam berbagai proses kreatif wayang dan pentas budaya lainnya. Beliau juga melahirkan banyak karya baik cerpen maupun  novel yang diangkat dari kisah wayang seperti Di Batas Angan (2003), Manyura (2004) dan Boma (2005).

Diskusi ini teramat sayang untuk dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Itu sebabnya, saya mencoba merekonstruksinya, agar dapat juga dinikmati para sahabat yang tak sempat hadir.

Di sesi pertama, Yanusa mengisahkan perkenalannya dengan komik Kosasih, bahkan sebelum dia bisa membaca. Lewat komik Ramayana, semasa berumur lima tahun, ia sudah mengenal Rama, Sinta, Kumbakarna, Rahwana dan seterusnya. Kesukaannya pada kisah wayang berlanjut, di masa kecilnya ia suka sekali melihat pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Dan, kesukaannya pada cergam atau komik Indonesia pun semakin bertambah. Ia membaca karya-karya cergamis seperti Ardisoma, Taguan Harjo, Wid NS, Hasmi, Ratmoyo, Tati, Muh Radjien dan seterusnya.

2Cergam  wayang dan hikayat karya Kosasih pun ia lahap habis. Sampai sekian tahun kemudian ketika Yanusa kuliah di Fakultas Sastra, UI, seorang dosen mata kuliah Sastra Lama bertanya kepadanya, “Dari mana Anda mengetahui kisah Ramayana?” Dengan cepat Yanusa menjawab, “Dari komik wayang-nya RA Kosasih.”

Tak disangka, jawaban Yanusa membuat dosen perempuan itu marah. “Saya kaget. Saya tak mengerti mengapa pada waktu itu, akademisi menggap bahwa  komik itu merusak. Ada satu hal yang membuat saya meyakini, pasti ada yang salah ketika muncul persepsi yang menganggap komik merusak,” ujar Yanusa.

Untuk membela komik Indonesia, tak tanggung-tanggung Yanusa membawa cergam wayang Kosasih ke kampus. Ia menunjukkannya kepada bu dosen. Ia membandingkan teks Mahabharata dan Ramayana versi Melayu, versi Betawi, dan versi komik Kosasih yang berlandaskan versi India dan paduan Sunda. Yanusa meyakinkan dosennya bahwa komik wayang Kosasih sama pentingnya dengan teks versi Melayu atau Betawi. Argumentasi Yanusa ternyata membuka mata batin bu dosen. “Beliau manggut-manggut dan malah bertanya, komik wayang ini kamu beli di mana? Ya sudah, komik ini buat ibu saja,” jawab Yanusa.

Dari ilustrasi kisah yang disampaikan Yanusa membuatnya meyakini bahwa Kosasih dan karyanya memang pantas dikenang. “Dan, yang lebih penting lagi bagaimana kita mengambil semangat beliau ketika menggarap karyanya. Observasi dan penelian Kosasih tidak main-main. Ia membaca naskah dan nonton wayang golek, dan menuangkannya dalam karyanya.”

Apa yang dilakukan Kosasih, menurut Yanusa juga dilakukan oleh cergamis Medan, Taguan Harjo. Ketika menggarap karyanya yang antara lain berjudul Setangkai Daun Sorga dan Hikayat Musang Berjanggut, Taguan juga melakukan riset mendalam. “Taguan banyak menggali cerita tradisional dari akar Melayu.”

Setangkai Daun Surga  bersetting Arab. “Ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, Siti Hawa sempat mengambil daun surga itu untuk kenang-kenangan., yaitu daun emas, daun perak, dan daun tembaga.  Namun dalam perjalanan ke bumi, daun itu lepas dan jatuh. Menurut tradisi Arab barang siapa bisa mengumpulkan ketiga daun itu, dia akan langsung masuk surga.”

Cergam yang disampaikan Yanusa, merupakan cergam yang berhasil dan akan terus dikenang. “Setiap langkah proses kreatif Kosasih patut diikuti. Baik riset maupun kesungguhannya. Dia tidak membuat komik asal jadi. Bertahun-tahun dia dengan tekun konsisten menggarap karya,” ujar Yanusa.

Bagi Yanusa, sosok-sosok cergamis seperti Kosasih, Taguan, Wid NS, Hasmi – para cergamis yang berintegritas itu – “Mereka adalah pejuang kebudayaan. Mereka berkarya tanpa pamrih, tanpa pretense bakal jadi orang hebat. Dan, Kosasih sudah menggali kisah wayang yang sudah jadi mitologinya Nusantara dan kisah rakyat . Beliau dalam keheningannya terus berkarya. Itu luar biasa,” tandas Yanusa.

.(Bersambung…)

Kembang Larangan, 12-4-2014

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*