pusakaSekian waktu yang lalu, saya berkesempatan berbincang dengan Mbak Anggi Minarni, direktur Karta Pustaka, salah satu lembaga kebudayaan Belanda di Yogyakarta.  Mbak Anggi juga tokoh penggiat kebudayaan. Bersama rekan-rekannya, Anggi ikut mendirikan Jogja  Heritage Society (JHS). Ia mengisahkan, salah satu aktivitasnya di JHS adalah melestarikan dan mengembangkan pusaka budaya. “Ada pusaka benda, misalnya saja candi, bangunan bersejarah, keris, dan semua yang terlihat. Ada pula pusaka nonbenda, antara lain kesenian tradisi, kebiasaan masyarakat. Ada lagi pusaka alam dan pusaka saujana, ,” katanya.

JHS dan beberapa lembaga kebudayaan di Yogyakarta berupaya memeta pusaka budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Mereka menjaga agar pusaka ini tidak punah, bisa dikenali kembali, bahkan direvitalisasi. Kegiatan kongkret yang mereka lakukan antara lain melakukan diskusi dengan para guru SD. “Para guru SD ini menuliskan tentang pusaka budaya yang ada di wilayah mereka masing-masing,” tutur Anggi.

Menariknya, kisah tentang pusaka budaya para guru SD ini selanjutnya muncul dalam bentuk komik. Komik pusaka budaya ini diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bekerja sama dengan Erfgoed Nederland dan Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Komik seri Pendidikan Pusaka Budaya ini untuk melengkapi bahan ajar materi Pendidikan Pusaka untuk murid SD di Indonesia.

Saya beruntung mendapat hadiah serial komik Serial Pendidikan Pusaka untuk Anak DIY dari sahabat Yudha Sandi, seorang penggiat komik di Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, ada 21 judul komik. Baru membaca judulnya saja, semua komik yang naskahnya ditulis para guru SD se-DIY memperlihatkan betapa kayanya pusaka budaya kita. Mulai dari kekayaan kuliner, permainan tradisi anak-anak, riwayat sebuah tempat, dan beragam kekayaan budaya lainnya. Dari khasanah kuliner ada bakpia, tiwul, kipo, tempe, geplak, juga belalang makanan khas Wonosari.

Kisah ini digarap oleh illustrator dan penggiat komik antara lain Yudha Sandy (yang aktif membuat komik alternatif), Prihatmoko Moki (karya komik alternatifnya serial Babak Belur Komik), dan beberapa nama lain yang rata-rata memang penggiat komik.

Dalam kata pengantarnya, Laretna T Adishakti, Ketua Tim Pendidikan Pusaka BPPI mengungkapkan, “Penerbitan seri ‘Pendidikan Pusaka Untuk Anak‛ merupakan salah satu upaya untuk mempromosikan keragaman pusaka Indonesia agar anak-anak lebih mengenal, memahami, dan peduli pusaka.”

Karena memang diperuntukkan untuk pelajar SD, komik ini disampaikan dengan cara bertutur sederhana, ringan, tapi menarik. Sebagian illustrator menerjemahkan cerita dengan kisah fabel, dan yang lain dengan gambar bergaya naif.  Kisah sederhana dengan pilihan gaya gambar ini memang menjadi kombinasi yang pas. Mudah dicerna, enak diikuti pembaca kanak-kanak, dan oleh karenanya bisa meresap. Pesan pun tersampaikan dengan baik.

Tentu saja, upaya penerbitan komik ini pantas mendapat pujian. Bagi pembaca kanak-kanak, mereka sanggup mengenali kebudayannya. Bagi orang dewasa yang melirik, komik ini juga segera mengingatkan betapa kayanya pusaka budaya kita. Upaya ini sekaligus bisa menjadi model bagi daerah lain untuk menggarap tema serupa.

Mumpung Jakarta punya gubernur baru, sungguh menarik bila komunitas komik Indonesia mengompori Pak Jokowi atau dinas terkait untuk membuat komik serupa.  Bukankah menarik bila terbit serial komik tentang pusaka budaya Betawi? Misalnya saja kerak telor, roti buaya,  lenong, keroncong Tugu, wayang atau silat Betawi, gambang kromong, tari cokek, tradisi palang pintu, dan masih banyak lagi.

Yuk, sama-sama ngompori.

Kembang Larangan, 23-9.2012

Seri Pendidikan Pusaka Anak

  1. Geplak, penulis Darojah, S.Pd illustrator Imam Nazarudin, 2010, 17 halaman
  2. Kipo, penulis Niken Ambarwati, S.Pd, ilsutrator Mulyo Gunarso, 2010, 25 halaman
  3. Makanan Tradisional Gunung Kidul, penulis Ganang M.A, S.Pd, illustrator Ign. Ade, 2010, 17 halaman
  4. Belalang Makanan Khas dari Wonosobo, Penulis Ganang M.A, S.Pd, illustrator Artadi, 2010, 17 halaman
  5. Bakpia Kelezatan dari Jogja, Penulis Sari Wulandari, ilustrator Anggun Yurnia Nudesia & Anang Saptoto, 2010, 18 halaman
  6. Tiwul Makanan Kesukaanku, Penulis Suharni, S.Pd, illustrator Ign. Ade, 2010, 17 halaman
  7. Tempe Makanan Bergizi Kesukaanku, penulis Sari Wulandari, illustrator Ign Ade, 2010, 17 halaman
  8. Gumbregan, Penulis Puji Lestari, illustrator Imam Nazarudin, 2010, 21 halaman
  9. Sejarah Masjid Syuhada, penulis Wahyu Nugraeni, S.Pd, MSi, illustrator Yudha Sandi, 2010, 17 halaman
  10. Sejarah SD Ungaran, penulis Wahyu Nugraeni, illustrator Yudha Sandi, 2010, 20 halaman
  11. Taman Siswa, penulis Fatona Diah Utami, illustrator Prihatmoko Moki, 2010, 24 halaman
  12. Selokan Mataram, penulis Sari wulandari, illustrator Mulyo Gunarso, 2010, 13 halaman
  13. Gobag Sodor, penulis DS Nugrahani, illustrator Prihatmoko Moki, 2010, 17 halaman
  14. Dakon, penulis Puji Lestari, illustrator Artadi, 2010, 13 halaman
  15. Jelajah ke Bukit Turgo, penulis Ani Sulistyawati, illustrator Restu Widianto, 2010, 14 halaman
  16. Jumputan (Seni Celup Ikat), penulis Puji Lestari, illustrator Ign Ade, 2010, 13 halaman
  17. Panatacara, penulis Kasminingsing, illustrator Mulyo Gunarso, 2010, 13 halaman
  18. Ayo Belajar Membatik, penulis Sofhanah, S.Pd.I, illustrator Ign Ade, 2010, 19 halaman
  19. Aku Dapat Menganyam, penulis RR Rumiyati, S.Pd, illustrator Imam Nazarudin, 2010, 21 halaman
  20. Apotik Hidup, penulis RR Nuryanti, S.Pd, illustrator Anang Saptoto, 2010, 25 halaman
  21. Tari Keraton Putri, penulis Anastasia Melati, illustrator Mulyo Gunarso, 2010, 16 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*