putriMeski hanya segelintir, aku merasa beruntung bisa memiliki komik yang pernah menjadi bahan penelitian Marcel Bonneff dalam disertasinya tentang komik Indonesia. Salah satunya dalam bagian tentang fase yang ia sebut sebagai Komik dan Nasionalisme  ala Soekarno. Untuk gampangnya, aku sebut saja komik perjuangan, sesuai tema komik yang kutulis beberapa hari belakangan ini.

Dari koleksiku yang sangat sedikit itu, satu hal yang menarik perhatian adalah komik perjuangan yang mengedepankan sosok perempuan dalam garis depan pertempuran. Bila sebagian kreator menempatkan sosok perempuan di garis belakang perjuangan seperti menjadi anggota Palang Merah Indonesia atau bagian dapur, komik-komik yang ingin kutulis ini perempuan berada di garis depan pertempuran. Antara lain terlihat dalam komik Tuti Pahlawan Putri (Usaha Penerbitan Swan), Putri Cendrawasih, Kisah Kepahlawanan dalam Merebut Irian Barat karya Z. Aziz (CV Pustaka Dian), dan Srikandi Kemerdekaan, cerita Napis Suhaimi dan lukisan Aman (Penerbit Swandaya).

Dari ketiga judul di atas, sosok perempuan ikut angkat senjata dan bertempur di medan peperangan. Dalam Tuti Pahlawan Putri oleh Rian (?, nama komikusnya enggak kebaca) mengisahkan sepasang muda-mudi yang berpofesi sebagai penerbang ulung yaitu Letnan udara Sujono dan Tuti. Dalam sebuah tugas bersama penerbang lainnya, Jono dan Tuti dengan masing-masing mengendalikan pesawat, mereka terbang ke Manado.

Dalam perjalanan penerbangan, mereka berhadapan dengan infiltrasi asing, pesawat-pesawat asing yang memasuki wilayah Tanah Air. Digambarkan, Jono dan Tuti dengan pesawat canggihnya dilengkapi senjata modern, bermanuver di udara. Saling lepas senjata. Pesawat Tuti kena peluru senapa lawan, namun ia berhasil selamat dengan parasutnya. Pada akhirnya Jono dan Tuti bersama pejuang lainnya berhasil memenangi pertempuran.

Kisah Tuti beraroma fantastis. Betapa tidak, sang komikus menggambarkan dalam panel-panelnnya adegan pertempuran udara yang luar biasa. Baku tembak, adu manuver udara dengan persenjataan modern.

Srikandi Kemerdekaan mengisahkan Teti, seorang gadis dusun yang begabung dengan pasukan gerilya di bawah komandan Pak Bewok. Dalam pasukan ini sudah lebih dulu bergabung dua perempuan, Mumui dan Juju. Teti sang gadis desa berlatih memanggul senjata, sampai siap ikut maju ke medan laga.  Pasukan Pak Bewok menyerbut tangsi Belanda yang masih bercokol di Indonesia. Mumui dan Juju gugur dalam tugas, sedangkan si tokoh utama Teti berhasil selamat.

Putri Cendrawasih, menampilkan Murni yang terlibat dalam pasukan yang ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat. Ia ikut melatih kemiliteran kaum wanita Papua.

Pola cerita ketiga komik ini, dan pada umumnya tema komik perjuangan pada masa itu, penokohannya selalu hitam putih.  Pejuang Indonesia sebagai sosok baik, sedangkan  penjajah sebagai sosok buruk. Garis tegas protagonis dan antagonis hanya pada pusaran ini. Tidak ada pengayaan dalam penokohannya.

Satu hal yang kentara tersaji penekanan teks yang mengobarkan semangat kebangsaan, nasionalisme, dan bangga sebagai bangsa. Misalnya saja dalam Srikandi Kemerdekaan, “Perjuangan mereka (para pejuang) tidak pernah sia-sia. Merekalah pahlawan dan srikandi kemerdekaan yang tak akan terlupa sepanjang masa. Makamnya tak diketahui tapi jasanya luar biasa.”

Begitulah, komikus kita berkisah tentang tokoh perempuan pejuang.

Kembang Larangan, 20 Agustus  2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*