daerahSahabat, pencinta sastra pastilah paham nama besar sastrawan Toha Mohtar (1926-1992). Karya-karya novelnya banyak mengundang pujian para kritikus sastra seperti A. Teeuw, HB Jassin, maupun Ajip Rosidi. Salah satu kekuatannya adalah kepandaiannya memaparkan konflik batin tokoh-tokohnya. Kehebatannya terbukti dari berbagai penghargaan yang pernah diraihnya, antara lain novel Daerah Tak Bertuan (terbit tahun 1963, sumber lain mengungkapkan terbit tahun 1964) mendapat hadiah sastra Yamin. Novelnya yang lain, Pulang, juga meraih penghargaan sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Dua novel ini, pada masanya diangkat ke layar lebar.

Di tahun 70-an semasa masih SD, aku kenal Toha Mohtar sebagai pengasuh majalah sastra anak Kawanku. Dulu, aku langganan majalah ini, selain karena cerpen-cerpennya sedemikian bagus (aku kenal para sastrawan, salah satunya lewat majalah ini), juga karena majalah ini banyak komiknya. Aku pun sekian lama lebih kenal Toha Mohtar sebagai sosok sastrawan.

Beberapa waktu lalu, lewat seorang kawan, aku mendapatkan dua komik berjudul Dari Daerah Tak Bertuan dan Pahlawan Kalisosok karya M. Lessy. Kedua komik ini merupakan satu kesatuan cerita tak terpisahkan. Tentu saja aku jadi penasaran. Apa hubungannya antara M. Lessy dengan Toha Mohtar? Apakah M. Lessy mengomikkan karya sastra Toha Mohtar.

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku mencoba mencari tahu dengan berselancar ke dunia maya. Lewat bantuan mbah google, aku mendapatkan kenyataan yang membuatku terpana. Lewat tulisan di blognya, Puji Santosa menuliskan biografi pendek tentang Toha Mohtar. Dalam salah satu bagian tulisannya, Puji mengatakan, “Mula-mula Toha Mohtar menuliskan identitas dirinya mengguna­kan nama samaran, seperti Badarijah U.P., Matulessy, M. Lessy, Tati Mohtar, Elly, Gutomo, Wahjudi, dan Ridwan. Namun, setelah ia merasa mantab menjadi seorang sastrawan, meskipun karier ini tidak menjanjikan materi yang berlimpah, Toha dengan mantab menuliskan namanya sendiri.”

Terjawab sudah pertanyaanku, M. Lessy pencipta komik Dari Daerah Tak Bertuan dan Pahlawan Kalisosok adalah nama pena Toha Mohtar. Selanjutnya aku menelisik lebih dalam tentang karya-karya Toha Mohtar. Kedua komik M. Lessy ini diterbitkan oleh PT Interpress pada tahun 1961. Dari komik, pria yang menyelesaikan sekolahnya di Kediri tahun 1947 ini  mengembangkannya menjadi cerita bersambung yang dimuat di majalah Warta Dunia dengan judul Tuntutan dan Gugurnya Ganda. Babon cerita ini berkembang lagi menjad novel dengan judul  Daerah Tak Bertuan.

 Karya sastra Toha Mohtar ini rupanya menarik minat pekerja film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Pada waktu itu, film Daerah Tak Bertuan cukup laris di pasaran. Situs

www.digilibsinematek.com menyebutkan, film ini disutradarai oleh Alam Surawidjaja dengan penulis skenario Alam Surawidjaja dan Toha Mohtar. Film ini dibintangi antara lain Zainal Abidin dan Dicky Zulkarnaen. Situs ini menyebutkan film yang diproduksi PT Sangga Buana Film Studio, “Menurut ingatan sutradara, kisahnya diambil dari komik Pahlawan Kalisosok karya M. Lessy alias Toha Mohtar.

Fakta ini sangat menarik. Komik Dari Daerah Tak Bertuan dan Pahlawan Kalisosok buatku menjadi sangat penting. Dari data sementara yang kuperoleh (yang bisa saja berubah setelah mendapatkan fakta baru) inilah komik pertama yang diangkat ke layar lebar.

***

Toha Mohtar sebagaimana diungkapkan oleh Puji Santosa pernah berprofesi menjadi guru menggambar di Taman Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta (1953-1959). “

Banyak sketsa dan ilustrasi Toha Mohtar menghiasi majalah Roman, Aneka, Ria, Terang Bulan, Tegang, Nasional, Warta Dunia dan Kawanku.”

Paduan jago menggambar dan kemampuannya menulis karya sastra bermutu membuat kedua komik karya Toha Mohtar memang terasa berbeda. Ia membuat sebuah cerita komik berbobot sastra. Dan, komik bertema perjuangan ini sangat berbeda dengan model komik perjuangan yang sudah kutulis sebelumnya. Salah satu ciri dari komik perjuangan baik fiktif maupun yang diangkat dari kisah nyata, kerap menghadirkan pertempuran antara pahlawan negeri ini menghadapi kolonialisme.

Akan tetapi, kedua komik M. Lessy ini menampilkan kisah berbeda. Ia banyak berbincang tentang konflik antara pelaku-pelakunya. Dalam komik lebar berukuran 19 cm x 25,5 cm ini, M. Lessy alias Toha Mohtar seperti yang sudah sering ditulis, mengisahkan tentang sebuah kondisi Indonesia ketika Sekutu yang diboncengi NICA dan tentara Gurka masuk ke Indonesia.

Terkisah, tokoh Kaelani berhasil lepas dari tahanan Inggris di penjara Kalisosok dan pulang ke desa. Kedatangannya membuat Item dan gerombolannya merasa cemas. Mereka khawatir kejahatannya bakal dibongkar Kaelani. Gerombolan Item tak lain adalah gerombolan yang mencari keuntungan pribadi di tengah perjuangan kemerdekaan.

Tertera pula konflik tokoh-tokohnya antara menjadi pahlawan atau pecundang. Kaelani dan kawan-kawannya memilih jalan perjuangan.

Aku merasa beruntung mendapat komik karya Toha Mohtar. Ia begitu mahir membuat tokoh-tokohnya berkarakter. Kemampuan gambarnya yang apik juga di atas rata-rata.

Ya, selain sastrawan besar, Toha Mohtar adalah juga komikus andal.

Kembang Larangan, 19 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*