sejarahSahabat, hari-hari kemarin aku menceritakan komik fiktsi perjuangan para kreator komik dengan segala variasnya. Kali ini, aku ingin secara ringkas menuliskan komik bertema perjuangan terbitan Kementerian Penerangan RI Direktorat Visuil tahun 1966. Masa ini sebuah fase semasa Bung Karno masih berkuasa, sebelum nasib menjatuhkannya.

Komik berjudul Sejarah Revolusi Indonesia, dibuka dengan kata pengantar Bung Karno, yang dikutip dari buku Lukisan Revolusi Indonesia. “Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa yang silam dan cakap mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar. Menyusun dan melaksanakan buku Sejarah Revolusi Indonesia menjadi suatu tuntutan sejarah,” kata Bung Karno.

Yang disajikan komik karya  Wahyu Hidayat Rafli Idris (illustrator) ini adalah gambaran kronologis masa-masa penting, cuplikan-cuplikan  dari sejarah perjuangan. Buku Sejarah Revolusi Indonesia jilid I, diawali dengan cuplikan dari kiprah para pahlawan perjuangan di masa ketika perjuangan masih bersifat lokal, yaitu Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Hidayat, Teuku Cik Di Tiro, Sultan Hasanudin, dan Patimura.

Satu panel gambar menceritakan satu topik peristiwa, misalnya saja: Pangeran Diponegoro 1775 -1835. Perlawanan Diponegoro ialah perlawanan rakyat. Diponegoro berjuang bukan untuk kepentingan golongan, tapi untuk keseluruhan rakyatnya. Narasi ini dengan visual gambar Pangeran Diponegoro.

Hanya tokoh-tokoh itu yang ditampilkan. Tampak masih terasa kurang bila mengingat masih banyak nama-nama pahlawan nasional, seperti RA Kartini, Cut Nya Dien, Sisinga Mangaraja, dan seterusnya.

Dari babakan ini, langsung masuk ke masa tahun 1945.  Nukilan peristiwa ditampilkan lebih detail. Diawali Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, sidang Panitia Kemerdekaan Indonesia, pelantikan Bung Karno sebagai presiden, pembentukan cabinet, dan seterusnya. Kemudian, masuknya Sekutu yang diboncengi NICA dengan dalih melucuti tentara Jepang. Ternyata, mereka membawa misi lain yang membuat rakyat angkat senjata. Perlawanan rakyat Surabaya, Semarang, Ambarawa, dan kota-kota lainnya.

Jilid pertama komik setebal 36 halaman ini ditutup dengan Jendral Sudirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) 18 Desember, dan tanggal 30 Desember 800 prajurit Belanda mendarat di Tanjung Priok.

Lanjut ke Sejarah Revolusi Indonesia jilid 2 mengisahkan masa penting di tahun 1946. Halaman pertama menuliskan: 4 Januari, pusat pemerintahan pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Presiden dan wakil presiden dengan beberapa menteri hijrah ke Jogja. Jilid ini menyajikan kisah penting sepanjang tahun 1946.

***

Sahabat, hanya dua jilid ini yang kumilki. Sebenarnya, komik ini didesain dalam irama yang panjang. Tertulis dalam halaman belakang yang intinya Sejarah Revolusi Indonesia disusun dalam berbagai bab. Bagian pertama adalah Periode Revolusi Fisik yang rencananya akan terdiri dalam 6 jilid, yaitu periode tahun 1945, 46, 47, 48, 49, dan 50, dengan disertai keterangan satu tahun satu jilid.

Direncanakan akan terbit periode revolusi selanjutnya, yakni Periode Survival 1950-1955, Periode Investmen atau Periode Challenge dan Response Terhadap Demokrasi Terppimpin, Periode Pancawarsa Manifesto Politik, dan Mahkotanya Pada Tahun 1965: bebas di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkerpibadian nasional di bidang kebudayaan.

Melihat jadwal penerbitan, tentu saja sama sekali tidak menduga bakal ada peristiwa G30S PKI.  Ada kemungkina, proyek penerbitan ini tidak berlanjut karena perubahan situasi negeri kita.

Selayaknya apa pun proyek pemerintah termasuk komik ini, biasanya selalu terkandung muatan untuk kepentingan penguasa. Namun, karena masih berhenti di jilid 2, terlalu dini menyimpulkannya. Sebab, dalam kedua jilid ini, peran Bung Karno masih disajikan tak berlebihan.

Setidaknya lewat komik ini aku jadi paham, komik dianggap sebagai media komunikasi yang juga penting oleh penguasa, untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Saya kian meyakini, sejak dulu pun komik tidak bisa dianggap sebagai karya budaya yang remeh

Kembang Larangan, 18 Agustus 2013

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*