ilus1Sahabat, saat diwawancarai rekan Sihar Ramses Simatupang dari harian Sinar Harapan kemarin, ada sebuah pertanyaan, “Kapan komik perjuangan tumbuh subur?” Kujawab, dari sekian koleksiku, aku menduga muncul di era 60-an di masa bangsa Indonesia di bawah kepemimpina Presien Soekarno. Di tahun 60-an, memang tumbuh banyak judul komik bertema perjuangan bangsa.

Lalu, kubuka lagi buku Komik Indonesia-nya Marcel Bonneff.  Dalam bahasannya tentang periode komik Indonesia, ia menuliskan tahun 1963 – 1965 sebagai Komik dan Nasionalisme ala Soekarno. “Pada masa di bawah Soekarno, Indonesia bergerak dengan semangat nasionalisme dan seterusnya…” kata Bonneff.

Bung Karno kala itu tampak anti Barat. Salah satunya, ia memenjarakan kelompok music Koes Bersaudara yang dianggap membawa musik kebarat-baratan ngak ngik ngok yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

Dari berbagai judul komik yang diteliti Bonneff pada masa itu memperlihatkan kecenderungan yang membentuk himpunan yang utuh,, tampak garis merah gagasan politis zaman itu. Tampaknya, gagasan ini juga mempengaruhi penerbit dan komikus pada masa itu dengan membuat komik perjuangan, komik dengan semangat nasionalisme

***

Sahabat, aku membongkar koleksi komikku. Tema-tema perjuangan memang hadir di masa 60-an itu. Bahkan, aku menemukan komik perjuangan yang lahir sebelum tahun 63 yang disebut Bonneff, yaitu Pahlawan Kalisosok karya M. Lessy yang terbit tahun 1961. Oh, bukan berarti Bonneff salah menuliskan data. Mungkin yang ditulis Bonneff adalah masa semaraknya komik nasionalis itu.

Lewat penelitian kecil-kecilan, koleksi komikku memperlihatkan, semangat nasionalisme itu tumbuh di penerbit dari berbagai kota di Indonesia. Tidak hanya Jakarta, tapi juga Surabaya bahkan Tasikmalaya. Judul komik yang diterbitkan pun sudah langsung terlihat semangat perjuangan itu.

Lihat saja judul Srikandi Kemerdekaan lukisan Aman dan cerita Napis Suhami (Penebit Swandaya, Tasikmalaya), Menuntut Balas karya Hendy, Tiada Ampun Bagi Penjajah oleh A. Sofyan Anwar (Eka Sakti, Jakarta), Hardjotani Robinhood Indonesia lukisan Moh Radjien (Penerbit Warga, Surabaya), Pemberontakan Peta di Blitar juga karya Moh Radjien (Fa Grip, Surabaya, tahun 61), Asap Mesiu di Irian Barat karya A. Chamid  dan cerita Adi Ws (Toko Mawar Surabaya, 1964), Semarang 15 Oktober 1945 karya Amyr Baid (Surya Kencana Jakarta, th 1965). Tentu juga komik terbitan Medan yang sudah kutulis sebelumnya.

Usai tragedi G30S PKI  juga ada komik perjuangan. Judulnya Sejarah Revolusi Indonesia I dan II, karya Wahyu Hidayat dan Rafli Idris (Kementerian Penerangan RI Direktorat Visuil 1966). Lalu, Terror Subuh, naskah Mustafa Baisa dan pelukis Alyson SR (Penerbit Japi Surabaya) yang mengisahkan peristiwa G30S PKI, khususnya mengenang kepergian Ade Irma Suryani.

Namun uniknya, bersamaan tumbuh suburnya komik nasionalisme, khusus komik periode Medan, tumbuh subur komik fantasi alias superhero, jenis komik yang di tahun 50-an sempat ditentang kehadirannya. Padahal, jenis komik ini pernah dianggap kebarat-baratan, tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Bahkan, penerbit Harris punya seksi khusus terbitan komik superhero ini. Ada superhero Kapten Halilintar, Johan Teruna, Indra Manusia Ajaib. Juga tumbuh subur komik-komik yang mengadaptasi Tarzan, seperti Zenga dan Mala.

***

ilus2Sahabat, dari komik-komik perjuangan itu, tersaji latar kisah yang beragam. Ada kreator komik yang mengangkat tokoh-tokoh pahlawan semisal Trunojoyo, Pangeran Diponegoro, ada kisah yang mengambil latar belakang peristiwa penting negeri ini seperti pembebasan Irian Barat atau pemberontakan PETA di Blitar, perlawanan laskar Medan Area. Selain itu, banyak pula kisah-kisah fiktif berlatar kepahlawanan melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Di fase ini, pada umumnya terbentang jelas siapa pahlawan dan siapa lawan, sosok protagonist dan antagonis. Tentu saja tokoh-tokoh pejuang Indonesia ditempatkan sebagai sosok protagonis dan Belanda, Sekutu, atau Jepang diposisikan sebagai antagonis. Dan kecenderungan hampir semua kisah, pihak Indonesia keluar sebagai pemenangnya.

Gambaran kisah juga ada yang realis, namun kebanyakan lagi berlebihan. Bayangkan saja, dalam operasi pembebasan Irian Barat, terkisah pejuang bangsa sudah dilengkapi pesawat tempur nan canggih, peralatan senjata modern dan seterusnya.

Saat berakhirnya era Bung Karno, tema perjuangan masih ada. Namun, karena setelah era silat yang dibawa Ganes TH tahun 1967, kebanyakan komik perjuangan berbingkai silat. Para komikus yang getol dengan tema kepahlawanan adalah Ganes TH, Djair, Teguh Santosa, dan Mansyur Daman.

Dari pengamatan sepintas, komik perjuangan tampak paling semarak di masa Bung Karno. Entah kenapa, komik perjuangan tak lagi diminati, meski sebenarnya banyak isu penting perjuangan dalam format lain seperti perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan kekuasaan yang menindas.

Kembang Larangan, 16 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*