anyerSahabat, meneruskan perbincangan komik perjuangan, dari Medan aku ingin mengejak menyeberang ke Kepanjeng, Malang (Jawa Timur), kota asal Teguh Santosa, komikus komplet. Beberapa kali di blog ini aku menulis tentang Teguh, kali ini aku ingin fokus ke komik perjuangannya.

Selain gemar menekuni genre horor, baik realis maupun mistik surealismenya, Teguh juga gemar membuat komik dengan latar Indonesia lama di masa masuknya negara asing. Ia beberapa kali membuat komik dengan latar sejarah, baik rekaan maupun latar yang memang mengacu pada realitas sejarah yang ada.

Kulihat kekuatannya , antara lain lewat Majapahit Membara, Barong Mataram, dan Anyer Panarukan. Untuk judul terakhir ini, segera terbayang sebuah jalan bersejarah sepanjang sekitar 1.000 km yang menghubungkan kota-kota di Jawa. Jalan dari Anyer (sekarang Provisi Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) dibangun tahun 1809 di masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels. Di latar peristiwa inilah Teguh bermain.

Di antara kebanyakan komikus Indonesia, Teguh Santosa termasuk percaya diri dengan kemampuannya menggambar dan bercerita. Ia ingin karyanya mendapat tempat terhormat. Salah satunya ia mengatakan bahwa karyanya bukan komik biasa, tapi novel cergam roman sejarah: Anyer Panarukan.

***

Layar kisah dibuka dengan kedatangan kapal dagang Perancis yang merapat di bandar Batavia pada tahun 1808. Terjadi dialog antara seorang lelaki paruh baya dengan gadis cantik. Mereka adalah Van Daalen dan keponakannya gadis cantik Valentine.

“Batavia, oh daerah tropis ini membuat kita selalu berkeringat!”

“Panas dalam segalanya, Valentine. Iklim dan situasinya. Tapi demi Michels, mudah-mudahan kau betah di sini”

Michels yang disebut itu adalah perwira berpangkat kapten tunangan Valentine, yang bertugas di Hindia Belanda.

Belum juga sampai tujuan, mereka disandera sekelompok orang. Kelompok orang ini menyandera Valentine dengan tujuan menekan pemerintah agar membebaskan Darul Bule (tokoh utama). Darul Bule – Indo buah percintaan serdadu kompeni  Belanda dengan wanita desa pribumi –  adalah tokoh pemberontak yang ditangkap Michels dan dijadikan tenaga kerja paksa pembangunan jalan AP.

Kisah terus bergulir,  Darul Bule  dibebaskan seseorang lelaki bercadar. Penolong Darul ini baru dibuka Teguh di fase akhir kisah ini,  yang ternyata ayahnya sendiri,  Gerard Van Darell). Darul memimpin perlawanan menentang pembuatan jalan Anyer Panarukan, di sepanjang Jawa Barat sampai di Jawa Timur.

Latar perjuangan ini dibumbui Teguh dengan “peristiwa lain di balik perang” yaitu putusnya pertunangan Valentine-Michels. Ternyata, Michels bukan kekasih dan perwira yang baik. Michels si antagonis kisah ini, digambarkan berhubungan dengan wanita lain di depan mata Valentine. Tidak hanya soal percintaan, dalam kemiliteran pun Michels melakukan per buatan tercela. Ia desersi dan membelot menjadi mata-mata Inggris.

Bumbu lain, Teguh memperlihatkan sisi humanisme  ketika menggambarkan Darul dengan hati tulus merawat Valentine yang jiwanya goncang. Sampai-sampai Darul ditinggalkan sendirian oleh kawan-kawan seperjuangannya. Dalam pengertian rekan-rekannya, Darul mengabaikan perlawanan terhadap Belanda, hanya untuk merawat Valentine.

Namun, sebagaimana kisah epos kepahlawanan, kecurigaan rekan seperjuangan  Darul ini terbukti salah. Darul terus melakukan perlawanan. Di akhir kisah Teguh menutup dengan narasi: Perjuangan memang menuntut pengorbanan. Dan Darul telah memberikan segala-galanya untuk bumi pertiwi ini. Sebab pada suatu pertempuran di pesisir pulau Jawa, Darul tertembak dan tewas.

Sebelum mengakhiri kisah AP yang digarap tahun 1978 ini, Teguh  membangun klimaks dengan perkelahian antara Darul dan Michels. Ending perkelahian ini disampaikan Teguh dalam sebuah surat yang ditulis Darul untuk ayahnya. Peluru yang dilontarkan Michels telah menembus Valentine sampai mati. Akhirnya, Darul berhasil menewaskan Michels. Komik setebal 672 halaman dalam 14 jilid itu pun selesai.

* * *

Selayaknya komik berlatar kisah nyata, Teguh menautkan kisahnya dengan realitas yang ada.  Tokoh Kapten Michels dikisahkan sebagai anak buah Daendels yang ditugaskan untuk mengawasi proyek jalan Anyer-Panarukan itu.  Berbaurnya unsur sejarah dan fiksi ini, membuat Anyer Panarukan lebih dekat dengan pembaca. Kisahnya menjadi seolah nyata.

Cergam roman sejarah Teguh juga memperlihatkan,  Teguh kaya referensi. Dalam Anyer Panarukan, Teguh teliti memperhatikan kurun waktu. Di halaman 39  ketika mengenalkan tokoh Michels, Teguh membuat narasi, “Kapten Michels, seorang perwira yang masih muda, tapi reputasinya dalam kemiliteran menanjak dengan pesat. Daendels yang baru setengah tahun bertugas di Pulau Jawa, telah menaruh simpati padanya.”

 Di tahun 1808, Daendels memang baru saja mulai memimpin Jawa. Buku sejarah menuliskan, Daendels tiba di Batavia 5 Januari 1808 menggantikan gubernur jendral Albertus.

Teguh menggambarkan tokohnya sebagai sosok yang cerdas.  Saya kutip percakapan Valentine  pada Darul, “Kalau kau mengenal tokoh Juliet dari karangan Shakespeare, kau akan tahu bahwa kesetiaan cinta wanita Barat ada yang sekokoh karang.”

Dari sini terlihat, Teguh juga meminati sastra dunia. Sebagaimana kita tahu, Romeo-Juliet merupakan salah satu karya puncak sastrawan dunia William Shakespeare yang hidup ditahun 1564-1616. Dengan demikian, dialog yang disampaikan Valentine menjadi masuk akal.

Kembang Larangan, 15 Agustus 2013

 

           

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*