pertempuranSahabat, malam ini menyambung malam kemarin, aku ingin melanjutkan cerita tentang komik perjuangan. Malam ini, aku ingin bercerita tentang komik  yang beredar di kota Medan. Kita pencinta komik sudah paham, dalam suatu masa, Medan pernah menjadi “arena penting” pertumbuhan komik Indonesia. Ada beberapa penerbit di sana seperti Harris, Casso, PP Musi, dan beberapa penerbit lain. Menurut  disertasi Marcel Bonneff, yang kemudian diterbitkan KPG dengan judul Komik Indonesia, ada sekitar tujuh penerbit. Karena terbit di Medan, kita terbiasa menyebutnya sebagai komik Medan.

Kata Bonneff, periode Medan disebutkan tahun 1960-1963. Bisalah tahun ini disebut sebagai periode keemasannya. Namun, periode Medan berlangsung tak lama. “Karena enggak ada generasi penerus, tahun 1963 sedikit sekali komik yang terbit, sampai akhirnya tahun 1971 terbitan Medan mati,” katanya. Masih kata Bonneff, awalnya penerbit Casso mencoba untuk mengikuti pergerakan komik di Jawa dengan menerbikan komik wayang, tapi kurang mendapat sambutan. Kondisi ini menyebabkan penerbit meminta komikus membuat komik dengan warna local seperti legenda Minangkabau, Tapanulis, atau Deli Kuno. Hasilnya, sukses besar.

Ah, Bonnneff tampaknya hanya mengacu pada komik dalam wujud buku. Padahal, data lain seperti disebutkan Arswendo, komikus Medan sudah berkarya beberapa tahun sebelumnya di surat kabar. Sebelum dibukukan, Taguan Harjo membuat Mencari Musang Berjanggut di harian Waspada tahun 1958. Zam Nuldyn membuat komik pertamanya di harian Warta Berita Majalah Waktu pada Mei 1955. Bahkan, menurut Zam Nuldyn pada Arswendo, komikus M. Nur sudah membuat komik di Majalah Waktu sekitar tahun 1952/53, kurun waktu ini hampir berbarengan dengan pertumbuhan komik di Jawa.

Komik periode Medan mengalami zaman keemasan dengan para kreator tangguhnya. Selain Taguan dan Zam, ada nama-nama penting lainnya seperti Bahzar, M. Ali’s, Jas, Si  Gayo, Arry Darma. Tidak hanya komik dengan warna lokal seperti disebut Bonneff, tapi periode Medan melahirkan banyak ragam, yang menurutku sangat kaya raya. Ada komik humor, horor, superhero, komik anak-anak, dan komik perjuangan.

Bicara komik perjuangan, dari koleksi komik Medan yang masih sedikit kumiliki, ada judul Melati di Tapal Batas (Arry Darma), Kembalinya Pahlawan yang Hilang (Si Gayo), Kisah Kurir Diponegoro (M. Ali’s), serta banyak judul lainnya. Dan, yang ingin kukisahkan dalam tulisan pendek ini adalah Kisah Pertempuran Sungai Ular yang naskahnya ditulis Edi Saputra dan digambar oleh M. Ali’s.

***

Sahabat, kita tahu, dalam peta perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan, kota Medan juga memiliki riwayat sejarah yang penting. Pernah dengar pertempuran Medan Area? Ya, ini adalah sebuah kisah perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Medan. Ringkasnya, usai Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, tentara Sekutu yang diboncengi Belanda kembali masuk Indonesia, termasuk mendarat  ke Medan 9 Oktober 1945 di bawah kepemimpinan TED Kelly. Kehadiran Sekutu dan konconya ini pada akhirnya menimbulkan peperangan di wilayah Medan dan sekitarnya. Terjadilah perlawanan pemuda dan Tentara Keamanan Rakyat.

Dengan latar sejarah inilah kisah komik Pertempuran Sungai Ular (bukan Mandala Siluman Sungai Ular, lho).  Ohya, Sungai Ular adalah sungai yang memisahkan Kabupaten Serdang Bedagai dengan Kabupaten Deliserdang. Penulis naskah tidak hanya asal tempel saja. Ia tampak memahami dan referensi yang kuat tentang sejarah perjuangan di Medan dan sekitarnya. Sungai Ular dalam sejarah memang pernah menjadi arena pertempuran antara pahlawan bangsa dengan Sekutu danNICA. Dalam konteks ini aku jadi paham, bahkan di tahun 1961 tatkala komik ini diterbitkan Firma Harris, penulis lakon sudah melakukan riset dan mencari referensi. Ini pula yang menurutku, membuat karyanya menjadi kontekstual, bukan karya yang ngawang-awang.

M. Ali’s sebagai pelukis, juga tampak maksimal menerjemahkan teks dalam gambar. Kisah dibuka dengan tokoh utama Rohana bersama anak kecil bernama Derita, berdiri di jembatan Sungai Ular. Dialog awal antara Rohana dan Derita sedemikian puitis.

“Bu, mengapa Ibu menangis?”

“Derita, Ibu tak dapat menjawab pertanyaanmu. Lihat sungai yang mengalir deras itu. Ia seperti air mata ibu yang banyak mengandung peristiwa yang tak mudah dilupakan.”

Dialog ini dilanjutkan, panel-panel gambar yang membawa kisah dalam flash back, ketika terjadi pertempuran tanggal 27 Oktober 1946 di bawah komando Laskar Rakyat Medan Area. Para patriot melancarkan serangan terhadap Sekutu di kota Medan dari berbagai penjuru. Di front Medan selatan, tokoh Johan bersama pasukannya terus maju di bawah hujan peluru musuh. Dalam arena perang, turut serta tiga perempuan Palang Merah Indonesia di bawah pimpinan Rohana. (Penulis naskah cermat, ia tidak asal sebut PMI karena PMI memang sudah ada sejak Belanda menduduki wilayah RI).

Arena peperangan senantiasa memunculkan drama dan kisah-kisah humanis. Ada perasaan kasih tak terucap antara Rohana dan Johan, Bibit cinta di tengah apinya revolusi.

Penulis naskah pintar memasukkan fakta dalam fiksinya, yang diterjemahkan pelukis dengan baik. Terbukti, menurutku tak ada adegan yang tersendat. Alur kisah mengalir lancar. Ada adegan Bung Karno menyemangati pejuang, “Pertahankan tiap jengkal tanah sampai tetes darah penghabisan.”

Adegan berikut dikembalikan ke suasana peperangan. Kisah makin mencekam. Perlawanan rakyat tak putus meski dalam amukan peluru lawan. Di sisi lain penduduk terpaksa mengungsi ke tempat aman. Salah satunya ibu muda dengan anak lelakinya yang masih balita. Sang ibu terkapar kena tembakan, si putra tercinta selamat. Johan menolong anak itu dan meminta Rohana untuk merawatnya.

Perang telah memisahkan Johan dan Rohana. Rohana dan anak lelaki dalam gendongannya, pada akhirnya selamat bersama pengungsi lain. Selanjutnya, panel gambar memvisualkan adegan 10 tahun setelah kejadian itu. Demikianlah kenangan Rohana di jembatan Sungai Ular, kenangan yang hanya ada dalam angannya. Kenangan tentang perjuangan, kenangan tentang Johan yang tak pernah lagi ditemuinya sejak pisah di masa perang itu.

Saat kenangan usai, Rohana yang masih melajang melihat rombongan upacara ziarah panitia untuk memperingati hari kemerdekaan, 17 Agustus. Upacara di sisi Sungai Ular untuk mengenangkan pertempuran di sungai itu, yang menggugurkan putra terbaik bangsa. Rupanya, salah satu anggota panitia itu adalah Johan, pemuda pejuang yang tangan kirinya harus diamputasi karena terkena tembakan. Maka, terjadilan pertemuan tak terduga antara dua muda-mudi yang saling mencinta meski tak pernah terucap itu. Pada akhirnya, kisah berakhir manis.

***

Lewat komiknya ini, M. Ali’s seolah ingin memberi contoh bagaimana membuat komik yang baik. Ia bekerja sama dengan penulis yang mampu membuat cerita yang bagus. Lalu, mengolahnya menjadi lukisan, yang kala itu diwujudkan dalam tiga panel di satu halaman.

Edi Saputra sang penulis lakon juga memberi pelajaran bagaimana membuat cerita yang menarik. Referensi kuat, memanfaatkan warna lokal, dan membuatnya kisahnya kontekstual di segala zaman. Bukankah semangat cinta Tanah Air diperlukan di masa apa pun? Komik yang mudah-mudahan relevan kuceritakan menyambut peringatan 17 Agustus kali ini.

 Kembang Larangan, 15 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*