menjebak-mataSungguh, tak pernah terbayang di benakku, ada perwira militer yang menjadi seorang komikus. Sampai akhirnya aku menemukan komik berjudul Menjebak Mata-Mata terbitan Percetakan & Penerbit Bandung. Komik tema perjuangan bangsa ini tertulis karya Letda J Suparman. Tidak ada keterangan dari kesatuan mana beliau berasa. Kukira, nama ini juga masih sangat asing bagi penggemar komik.

Suatu saat, aku ingin mencari informasi kepada komikus senior asal Bandung, siapa tahu kenal kiprak Pak Letda J. Suparman. Sebab, di cover tertulis, komik ini merupakan persembahan Ikasti (Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia) Jawa Barat. Dari sini kusimpulkan, Letda Suparman menjalin pergaulan atau setidaknya kenal dengan para pelukis yang tergabung dalam Ikasti Jabar.

Dari cover ini pula, meski tak terbaca tahun terbitnya, kuperkirakan komik ini terbit di kisaran tahun 67 atau 68, ketika Ikasti terbentuk. Kebetulan, di bagian dalam komik ini ada tanda tangan pemiliknya yang mencantumkan tahun 1968. Untuk sementara, kusebut saja komik berukuran 15 cm x 20 cm dan sepanjang 47 halaman ini terbit tahun 68.

Melihat tahun terbit, sebenarnya komik tema perjuangan ini di luar arus besar genre komik yang terbit di masa itu. Seperti pernah kusinggung sebelumnya, tema seperti ini semarak di masa Bung Karno berkuasa yang lebih dikenal sebagai komik di masa nasionalisme ala Soekarno.

Pada tahun 68, yang sedang tren adalah komik genre roman remaja. Periode awal genre ini antara lain diwarnai dengan komik-komik karya komikus muda seperti Budijanto Sudirman yang dalam usia 19 tahun sudah menghasilkan begitu banyak karya. Genre roman remaja juga mencuatkan nama komikus produktif Jan Mintaraga yang di tahun 70 saja sudah menghasilkan seratusan judul.

Dari konstruksi sederhana ini, Menjebak Mata-Mata memberi warna berbeda, dan bisalah dianggap melanjutkan masa keemasan komik berwarna nasionalisme. Bisa jadi, tema nasionalisme digarap Letda J. Suparman karena latar belakangnya sebagai seorang prajurit. Sayang sekali, aku hanya punya satu judul ini. Namun, di sampul belakang ada iklan terbit yang menuliskan sudah terbit komik karya Letda Suparman lainnya yakni Perintis Rimba Kalimantan dan Amelia (kelanjutan Perintis Rimba Kalimantan). Agaknya, tema-tema perjuangan memang menjadi interest J. Suparman. Mudah-mudahan saja kelak ada yang menghibahkan komik karya J. Suparman lainnya kepada henrykomik.

***

Menjebak Mata Mata mengambil setting cerita tahun 1949 ketika pasukan Siliwangi longmarch di wilayah Jawa Barat. Ini masa ketika Sekutu yang dibonceng Belanda (NICA)  masuk kembali ke wilayah Indonesia. Masa sebelum penyerahan kedaulatan kepada Indonesia 27 Desember 1947

Fiksi sejarah J. Suparman mengisahkan ketika nyaris semua gerak perjuangan gerilyawan pasukan Indonesia selalu saja berhasil dicium pasukan Belanda. Salah satunya, basis perjuangan berhasil digempur Belanda dan beberapa pejuang berhasil ditangkap Belanda.

Dari briefing pasukan,  komandan kompi setempat menyimpulkan, ada mata-mata yang membocorkan segala strategi para pejuang.

Tokoh utama komik ini Kopral Pandu dan perjuang lain berhasil melakukan kontra stategi. Seorang perempuan pejuang bernama Lies berhasil disusupkan ke markas Belanda dengan menjadi tenaga kesehatan. Mata-mata dibalas dengan penyusupan mata-mata ke jantung pertahanan lawan.

Strategi militer ibarat permain catur, adu taktik memenangi pertempuran. Mata-mata lawan berhasil ditangkap. Belanda ingin menyerbu desa basis pejuang. Stretegi dilakukan. Desa dikosongkan. Pasukan Belanda yang masuk ke desa kosong itu masuk perangkap. Pasukan Siliwangi pun berhasil memenangi pertempuran.

***

Salah satu hal yang menarik, tampak latar belakang J. Suparman sebagai anggota militer, sanggup memperkaya kisah. Beberapa istilah khas tentara membuat komik ini jadi hidup, seperti komandan regu, kompi, batalyon.

Satu lagi dari sisi artistik, gambar J. Suparman adalah lukisan yang sudah jadi. Kalau dibandingkan dengan gambar karya komikus lain yang terbit di masa itu. Gambar Suparman di atas rata-rata. Kekuatannya antara lain terlihat dari caranya membuat tokoh-tokohnya. Wajah satu tokoh dengan tokoh lain terlihat betul karakternya. Seolah-olah, ia punya model untuk membuat tokohnya.

Kembang Larangan, 21 Agustus  2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*