fb1(1) Komik Medan bukan dan tidak terbatas pada pengertian lokasi (kota Medan), melainkan cakupan wilayah budaya yang lebih luas. Baik kota atau daerah kelahiran komikusnya ataupun lokasi proses kreatif berlangsung.

Sebagai istilah “komik Medan” bisa menginspirasi “komik lain selain Jakarta” semisal Surabaya, Solo atau Tasikmalaya, Cirebon yang pernah jaya- sebagai kota penerbitan, sebagai asal komikusnya, sebagai garapan kreatifnya. Dalam penelitian akan tertemukan kekhasan masing-masing yang pada akhirnya memperkaya budaya komik yang beraneka ragam-tidak seragam, yang benar-benar berbhineka, yang benar-benar saling menghidupi satu gaya dengan gaya yang lain.

Komik itu baik karena berproses menempuh jalan budaya yang salah satu cirinya adalah “ada tanpa meniadakan yang lain”. Komik tak meniadakan novel, puisi, cerpen bahkan bisa bekerja sama. Juga tidak ditiadakan oleh film atau program tv.

Komik itu baik karena ibarat batik, komik adalah karya yang personal dengan tata nilai dan tata krama lokal- sebagaimana peran cecek dalam batik atau penggunaan motif lereng tapi pada saat yang sama ia bagian dari kenasionalan kita, bisa dipergunakan siapa pun atau lebih luas dari cagar budaya setempat.

fb2(2) Komik sejak awal tak mempersoalkan apakah dimulai oleh Kho Wan Gie, sebelum tahun 1930 misalnya. Atau Nasroen AS dengan Mentjari Poetri Hidjaoe atau nama lain. Juga tak ada pemisahan nilai dan tatakrama yang paling benar. Semua memungkinkan berkembang dari berbagai jenis: silat, humor, cerita sejarah, klasik, hero, asal-usul. Bahkan juga seorang komikus seperti Taguan Hardjo, misalnya, mampu menciptakan belasan genre tanpa dibatasi.

Kebebasan kreatif  dunia komik sedemikian luasnya, sehingga apa pun bisa dikomikkan. Tapi, juga sedemikian hebatnya sehingga mampu mewadahi permasalahan tanpa mempertentangkan keberadaannya.

Satu-satunya masalah besar yang menghantam dunia komik Indonesia adalah yang terkait dengan “pendidikan” pakai tanda kutip atau kesusilaan. Yaitu di tahun 1955 ketika jenis lakon Sri Asih mendapat kritik luar biasa, karena “minat pembaca yang besar ini menyebabkan anak-anak malas belajar.” Sesuatu yang tak masuk akal. Sehingga produk komik dirazia dan penerbit menghentikan penerbitannya.

Namun, sejarah membuktikan, justru ketika lakon Sri Asih dicurigai, ketika itulah para komikus dengan sangat jenius – bersama penerbit- menerbitkan jenis yang dianggap berpendidikan, yaitu komik wayang atau classic. Padahal, kalau dari jenis khayalan atau kekuatan super duper, wayang adalah raja semua khayalan yang pernah ada.

Dari inilah yang melahirkan “komik Medan” di mana para komikus, juga pelukis tenar membuat komik wayang. Sebelum kemudian tema dan jenis lain yang memang paling cocok untuk dibuat komik. Tanpa dilarang, mungkin perkembangan komik kita berbeda. Tanpa menggeser ke jenis wayang. Komik Medan mungkin lain bentuknya. Dan, mungkin sekali komik kita pertanda kekalahan dalam proses kreatif.

Nyatanya tidak. Inilah sebabnya ada pameran kali ini.

fb3(3) Catatan-catatan personal ini yang perlu dihidupkan dalam mensyukuri keberadaan komik Indonesia. Seperti yang dengan bagus, mulus, tulus disajikan oleh Henry Ismono secara lengkap dalam mengungkap “Lintasan Cergam Medan”. Yang menegaskan komik bagian dari sastra. Atau punya otoritas sendiri yang tak kalah dengan sastra, atau lukis, atau grafis, atau meme sekalipun.

Komik Indonesia telah membuktikan keberadaannya dalam mewadahi problem sekarang terasa krusial dengan persoalan-persoalan SARA. Dan, komik Indonesia telah membuktikan keberadaannya dengan sangat baik, bijak, dan tidak terjebak di dalamnya. Komik-komik Indonesia dengan tema agama tersaji dengan aman.

(4) Saya pernah mencoba jadi komikus. Pernah diterbitkan tahun 1970- mungkin nanti Henry Ismono bisa menemukan karya-karya tersebut bersama sejumlah novel. Tapi, yang membuat saya bahagia dan bangga, saya sempat berkenalan langsung, berbincang dengan Kho Wan Gie, Nasroen AS, RA Kosasih, John Lo sampai generasi Jakarta. Dan jawara-jawara Medan seperti Taguan Hardjo, Bahzar, Zam Nuldyn, M. Ali’s, Djas. Beliau-beliau ini termasuk Kho, Taguan, Zam, memberikan karya asli yang dibuatnya.

Saya ingin meneruskan kesaktian dan keperkasaan para leluhur komik Indonesia ini

(Arswendo Atmowiloto, catatan untuk diskusi pameran Lintasan Cergam Medan di Bentara Budaya Jakarta, 11 Desember 2016)

Foto-foto: Koleksi Smen New Grow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*