Tulisan untuk Katalog Pameran Retro Man 50 Tahun Berkarya

 

ilustrasi1 Sejarah komik Indonesia sudah mencatatkan banyak nama komikus yang mengisi dan memperkaya wajah komik nasional. Salah satu komikus yang menjadi salah satu aktor utama itu- adalah Mansyur Daman. Man, demikian nama populernya, menjadi sangat penting disebut dengan berbagai alas an. Pertama, di zamannya, ia termasuk komikus yang produktif dan sangat populer. Karyanya begitu disukai penggemarnya dan ikut memberi pengaruh di zamannya.

Kedua, dan ini tak kalah penting, sampai sekarang Man dalam usianya yang tahun ini menginjak 67 tahun masih terus berkarya. Tidak sekadar berkarya, dalam tahapan sekarang, Man yang sudah mencapai kematangannya, mampu menghasilkan gambar yang dari sisi artistik begitu indah. Bahkan, dari sisi produktivitas, ia tidak kalah dengan komikus-komikus muda generasi hari ini. Dalam konteks ini, Man seolah ingin menegaskan kepada generasi sekarang, “Usia boleh tua, tapi kreativitas tetap membara.”

Nah, dalam tulisan untuk mengantarkan pameran Retro Man ini, penulis ingin melihat jejak karyanya. Jejak yang begitu nyata, tegas, dan memberi warna. Proses kreatif Man sudah dimulai sejak belia. Di usia 14 tahun semasa masih SMP, Man yang lahir 3 Juli 1946 di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah membuat komik. Komik yang ia beri judul Usman dan Jasin itu ia garap tahun 1960.

Gambarnya masih naïf, sederhana, dan kaku. “Saya masih belajar menggambar. Ceritanya juga masih sangat sederhana. Tentang anak kembar bernama Usman dan Jasin,” ujar Man suatu ketika. Man menggarap komiknya berbau fantasi. Ia menggambarkan binatang yang bisa bicara, petualangan, dan ada unsur heroisme. “Pokoknya ceritanya saya bikin seru,” kenang Man.

Uniknya, komik sederhana itu, “Saya perbanyak, kemudian saya pinjamkan ke teman-teman. Wah, komik itu bergiliran dibaca teman sekolah. Banyak lho yang memuji komik saya. Saya pun jadi tambah semangat,” kata Man yang mengaku sejak kecil sudah suka membaca komik.

Kala itu, ia  ia sudah rajin membaca komik karya RA Kosasih dan Ardisoma dengan cerita wayang dan kepahlawanannya. Dari situlah ia berkehendak untuk membuat komik. Perkenalannya dengan seorang pelukis membuat Man berkesempatan mempelajari teknik menggambar.

***

ilus2Keinginan Man menjadi komikus tak tertahankan lagi. Di usia belasan tahun, ia mendapatkan kesempatan dari Penerbit Rose untuk membuat ilustrasi sampul buku. Selanjutnya, ia mampu menghasilkan komik pertama berjudul Istana Hantu dan disusul dengan Kelelawar Terbang Malam. Dalam ingatan Man, komik ini terbit sekitar tahun 1962. Kedua komik ini bernapaskan horor, genre yang jarang digapai komikus lain.

Istana Hantu oleh Penerbit Rose digambarkan sebagai cerita yang menyeramkan. “Setiap langkah tokoh-tokohnya diikuti oleh hantu yang menakutkan.  Hantu-hantu tersebut mengincar mangsanya. Sangat misterius, mendebarkan, dan mendirikan bulu roma.”

Man mengungkapkan, di awal kariernya ini, ia belum pandai membuat cerita. Itu sebabnya, dalam Kelelawar Terbang Malam, ia mengadaptasi kisah dracula yang tenar di belahan dunia Barat. “Tokoh-tokohnya dan settingnya saya buat terjadi di Eropa,” ujar Man.

Proses berikutnya, Man termasuk gemar membuat komik horor. Karya-karya berikutnya seperti Bulan Merah, Cambuk Pengantar Maut, Misteri Keluarga Jun, Pekikan-Pekikan Histeris, Gondoruwo, Monyet Putih, menunjukkan kekuatannya menggarap kisah seram. Padahal Man mengaku, ia sebenarnya penakut. “Justru karena penakut, saya gampang membuat sesuatu yang menyeramkan,” ujarnya.

Pilihan awal Man di genre horor  menjadi penting karena kelangkaan wilayah cerita seram ini. Pada masa itu, komik Indonesia lebih banyak terkonsentrasi pada hikayat,  cerita wayang, dan kisah humor. Man memang bukan yang pertama menggarap wilayah horor, tapi ia termasuk yang terdepan di kategori ini.

Di periode tahun 60-an, Man juga termasuk laris menjadi “juru gambar” Ia beberapa kali membuat ilustrasi komik yang ceritanya digarap oleh penulis lain. Man menjadi ilustrator dalam komik-komik yang diterbitkan PT Balai Buku Nasional. Tercatat karyanya yang diterbitkan di kurun tahun 66 itu antara lain Isabela Al-Umawijah (dari naskah A.R. Babeheer), Iman (naskah JH Nasution), Isra (cerita JH Nasution), Api Jihad (kisah JH Nasution) dan masih ada beberapa judul lain.

Pijakan penting lain dari proses kreatif Man adalah ketika ia membuat komik dengan setting Batavia. Masa itu, setelah Ganes Th menggarap Si Buta dari Goa Hantu tahun 1967, wajah komik Indonesia dipenuhi genre silat. Man yang sebelumnya juga menggarap komik roman remaja (misalnya saja komik Awan Hitam, Minggu  Terachir), juga membuat komik silat. Dalam bingkai cerita silat itu, Man membuat kisah fiksi sejarah dengan latar Batavia.

Man membuat karya antara lain Tompel Garong Budiman yang diterbitkan M Tjergam tahun 1968. Tompel adalah sosok hero di masa situasi chaos di masa kolonialisme Belanda. Mengambil spirit Robin Hood perampok berhati mulia, Tompel juga digambarkan merampok orang kaya dan hasil rampokannya itu dibagikan kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Man memadu kisahnya dengan elemen kasih nan romantik.

Selanjutnya, tahun 1970, Man membuat komik penting lain berjudul Pecah Kulit. “Saya mengambil latar kisah zaman Belanda ketika ada hukuman yang namanya pecah kulit. Kisah ini memang benar-benar ada di masa itu,” kata Man.Pecah kulit adalah hukuman kejam, dimana si terhukum menjalani eksekusi dengan ditarik beberapa ekor kuda ke berbagai penjuru arah.

***

Nama Man sebagai komikus semakin mengangkasa ketika ia melahirkan tokoh Mandala dengan pertama kali kemunculannya lewat Golok Setan tahun 1972. Nama Mandala ternyata singkatan dari Matraman Dalam. Ini alamat kediaman Djair, sahabat kental Man. Kala itu, Man memang kerap berdiskusi soal proses kreatif dengan Djair dan beberapa sahabat komikus di Matraman Dalam.

Ternyata kisah Mandala yang diterbitkan Rosita, sangat digemari masyarakat komik. Man pun melanjutkan petualangan Mandala. Berturut-turut terbit Selendang Biru (1973), Siluman Sungai Ular (1973), Pusaka Dewa Pedang (1974), Pendekar Pedang Sinar Ungu ( 1975), Bulan Kabangan ( 1976), Iblis Marakahyangan (1977), Bidadari Mata Elang (1977), Iblis Seribu Muka (1979-80), dan Titisan Dewa Petir (1980-82).

Man yang mengaku penggemar cerita silat, mulai dari  karya Chin Yung sampai SH Mintarja, menggarap kisah Mandala selayaknya bangunan yang penulis sebut sebagai “struktur sosial dunia kependekaran”. Dalam dunia cerita silat, secara garis besar stratifikasi sosial terbagi dalam wilayah: golongan putih (protagonis) dan golongan hitam (antagonis), di tengah-tengahnya ada warga masyarakat biasa.

“Strata masyarakat dunia silat” kerap ditandai dengan ukuran tinggi rendah ilmu olah kanuragan. Selain itu, tentu juga stuktur sosial seperti yang ada dalam masyarakat nyata seperti sosial ekonomi, golongan kaya-miskin, saudagar dan rakyat kecil, dan seterusnya.

Untuk menggapai strata atas, bangunan cerita yang kerap diangkat adalah penguasaan ilmu bela diri, memiliki senjata pusaka, dan sebagainya. Itu sebabnya, Man dalam petualangan Mandala juga mengisahkan tentang perebutan kitab pusaka berisi ajaran ilmu bela diri tinggi, juga rebutan pedang pusaka, semisal Golok Setan dan Pedang Sinar Ungu.

Sebagaimana layaknya seorang pendekar, Mandala tentu juga bertugas membasmi golongan hitam yang dalam kodratnya selalu meresahkan masyarakat. Dan, Man berhasil mengolah kisah-kisah menarik. Menarik karena Man tidak menjadikan Mandala sebagai hero yang sangat sakti tak tertandingi. Namun, Mandala juga beberapa kali berhasil dikalahkan lawannya, meski akhirnya dengan berbagai faktor akhirnya mampu mengalahkan kejahatan.

Man menciptakan Mandala dalam sosoknya sebagai pendekar yang manusiawi. Ia bisa kehilangan ilmu andalan, yang membuat kesaktiannya berkurang. Pembaca dibuat geregetan, misalnya saja, ketika Mandala kehilangan ilmu mengosongkan diri dalam kisah Iblis Marakahyangan.

Berkat kepiawaian Man mengolah cerita ditambah goresan gambarnya yang terus meningkat, Mandala pun meroket menjadi karakter pendekar yang bahkan hingga saat ini masih hidup dan lekat di benak penggemarnya. Kepopuleran Mandala yang wajahnya diakui Man terinspirasi aktor Robert Conrad itu, membuat kisahnya beberapa kali diangkat ke film layar lebar.

Sebagai komikus produktif, Man tidak hanya menciptakan karakter Mandala. Beberapa karyanya seperti serial Raksasa dan Braja juga termasuk digemari pembaca.

***

Masa berganti ketika komik surut di era tahun 90-an, Man tetap tak berhenti berkarya. Ia pernah menjadi ilustrator tetap Majalah Bobo. Ia beberapa kali juga menggarap komik strip di beberapa harian terkemuka. Hebatnya lagi, sampai era sekarang, Man masih mampu berkarya. Bahkan, sampai ke tingkat internasional.

Tahun 2008, Man terlibat dalam proyek prestisius, yaitu menggarap komik berjudul New World Order yang diterbitkan Image Comics, sebuah penerbit yang cukup bergengsi di AS.  Dalam komik yang naskahnya ditulis oleh Gustavo Higuera ini, Man mendapat tugas di bagian pencils & inks. “Saya tidak kesulitan menggarap proyek ini,” tutur Man.

Belakangan ini, Man kerap bekerja sama dengan beberapa penerbit. Karya gresnya tercatat antara lain Tumbal (2008) dan Roseta (2010) diterbitkan oleh Penggemar Cergam dan Naskah Cergam Indonesia. Dalam Roseta yang berkisah tentang perbudakan di masa Belanda,  Man menunjukkan kerja seriusnya dengan membaca berbagai referensi dan riset lapangan ke kota tua untuk mendapatkan lanskap yang dimaui cerita.

Oleh penggemarnya, Man juga diminta untuk menghidupkan kembali tokoh Mandala yang legendaris itu. Misalnya saja Kologonggo yang sempat muncul di beberapa edisi Majalah Sequen (2006). Anjaya Books juga menerbitkan Bunuh Mandala, Pedang Mercu Buwana, dan yang belum lama terbit  redraw Golok Setan.

Redraw Golok Setan juga karya mutakhirnya, memperlihatkan kematangan Man menggambar. Teknik gambar Man yang kian sempurna menghasilkan gambar-gambar naturalis yang memukau. Pantaslah, karya Man selalu dinanti para penggemar komik, bukan saja penggemar jadul, tapi oleh anak-anak muda.

Belakangan ini, Man beberapa kali terlibat dalam proyek dari berbagai instansi pemerintah. Misalnya saja Janji Pemuda, Tidak Ada yang Semerah, Mutiara dari Sawah Lunto, Perjuangan Pers Tiga Zaman. Man menggarap komik pesanan dari Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Dalam acara Retro Man ini, Man juga melaunching komik baru. Penggemarnya pun siap dengan suka cita menikmati komik berjudul Dia (penerbit Penggemar Cergam dan Naskah Cergam Indonesia) dan Neraka Borneo (Cendana Art Media).

Sang maestro memang tak pernah berhenti mencatatkan jejak karyanya.

Kembang Larangan, Maret 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*