henky

Moch. Heryanto. Mungkin  tak banyak penggemar cergam alias komik Indonesia yang mengenalnya.  Pria kelahiran Pati 18 April 1949 ini di panggung komik nasional lebih dikenal dengan nama Henky. Nah, Henky termasuk komikus yang banyak memberi warna dalam perjalanan dunia komik. Henky yang meninggal dalam usia relatif muda (wafat 16 November 1998), populer lewat tokohnya yang bernama Jaka Tuak.

Penggemar komik Indonesia lama tentu ingat karakter tokoh Jaka Tuak. Ia seorang pemuda berambut panjang dan senang bertelanjang dada. Ia kerap membawa guci berisi tuak. Guci ini, bahkan, juga menjadi semacam tameng baginya. Salah satu aksinya juga lekat di benak penggemarnya: Ia menenggak tuak di guci, kemudian menghadapi lawan dengan senjata pedang dan gucinya.

Pembaca cergam – untuk menyebut komik Indonesia – juga mengenang aksi Jaka Tuak yang begitu perkasa dengan menunggang burung rajawali. Karakter Jaka Tuak digarap Henky tahun 1971 lewat lakon berjudul Tuak.  Ia melanjutkan petualangan Jaka dalam judul Cadas Siluman, Mata Setan, Pembalasan Mata Setan I & II, dan Bisikan Iblis.

Dalam serial Jaka Tuak, muncul sosok Teja Si Mata Setan. Keduanya adalah protagonis dalam kisah ini. Teja adalah pendekar kribo yang sakti mandraguna. Selain punya kemampuan sihir, ia juga punya ilmu beladiri yang dahsyat.

Selain Jaka Tuak, Henky juga termasuk produktif membuat karya lain seperti serial Pengemis Kusta dan Kumala. Namun, di antara sekian banyak karyanya, yang paling populer adalah Jaka Tuak. Bahkan, petualangan pendekar pemabuk ini  juga menarik minat orang film dan mengangkatnya ke layar lebar dengan judul  Jaka Tuak. Sayang, film yang disutradarai SA Karim ini tidak seberhasil tokoh komik lainnya yang pernah difilmkan seperti Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, atau Jaka Sembung.

***

Dari sisi cerita, Henky banyak mengadopsi dari cerita silat Cina.  Jaka Tuak, menurut Erwan Sofyan, kolektor cerita silat yang juga penggemar komik, adalah saduran dari cersil Pendekar Pemabuk karya Kho Ping Hoo. “Tuak ambil plek dari Pendekar Pemabuk,” tutur Erwan.

Bila Jaka Tuak diambil dari Pendekar Pemabuk, tokoh Teja Si Mata Setan, “Sebagian idenya diambil dari Pendekar Super Sakti juga karya Kho Ping Hoo. Tapi, enggak sama persis.”

Erwan juga mengamati bahwa cergam Henky Pendekar Bangau Sakti terpengaruh cersil Bangau Sakti karya Woo Leng Seng. “Tapi, Henky kemudian mengembangkannya sendiri.. Kecenderungan sebagian komikus saat  itu memang banyak menyadur cersil,” kata Erwan.

Dalam cerita Henky,  cerita silat Mandarin itu menemukan panggung baru. Tokoh-tokoh dan setting mencoba “dilokalkan”, meski sebenarnya tidak merujuk tempat tertentu yang benar ada. Misalnya saja dalam seri Pemabuk dari Gunung Kidul, Henky hanya meminjam nama Gunung Kidul, tanpa merujuk dan menyelami Gunung Kidul sebagai sebuah nama kabupaten di tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat.

Nama-nama tokohnya pun, meski sebagian memakai nama-nama populer dalam sejarah di Tanah Jawa, tak ada kaitannya dengan karakter tokoh yang namanya dipinjam itu. Salah satu contoh bisa kita lihat dari komik berjudul Tuak. Henky menamai salah satu tokohnya: Empu Sedah seorang pertapa dari Penataran.

Sejarah meriwayatkan, tokoh  Empu Sedah adalah pujangga besar Tanah Jawa yang menulis kakawin Bharatayudha dalam bahasa Jawa Kuno. Empu Sedah hidup di masa pemerintahan Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri.

Dengan demikian, setting lokal Henky- sebenarnya hanya sebuah latar- yang tidak perlu dihubungkan dengan riwayat Nusantara. Sebut saja, itu adalah latar dunia kependekaran yang ada dalam semesta kisah Henky. Namun, justru karena itulah, Henky jadi bebas mengembangkan imajinasinya. Ia bisa membuat tokoh-tokohnya berblangkon atau berbusana ala kaum ningrat Jawa, yang bisa dibenturkan dengan tokoh dari Manchuria. Semua menjadi sah.

Kisah komik-komik Henky, di masanya punya penggemar sendiri. Bahkan, sebagai komikus ia punya pengaruh  yang cukup kuat. Model ceritanya yang  “ringan” tapi “kaya drama” menyedot banyak perhatian. Tak heran bila Jair, komikus yang sesungguhnya lebih senior dari Henky, dalam halaman depan komiknya berjudul Raja Sihir dari Kahyangan menyebut Henky sebagai salah satu guru. Jair menyebut Henky sebagai master of adoldescent feeling.

***

Salah satu keunggulan Henky adalah dari sisi gambar. Di zamannya, dialah komikus yang paling banyak memberi pengaruh kuat pada komikus lain.  Gaya gambarnya, banyak diikuti komikus lain. Tarikan “satu garisnya”- bahkan – juga sempat mempengaruhi komikus seangkatannya.

Pada masa itu, hanya Henky yang sanggup membuat sebuah “imperium komikus” dalam sebuah wadah bernama Henky & Co. Kala itu, tidak ada komikus yang secara resmi punya lembaga. Henky & Co menghimpun beberapa nama komikus. Menariknya, di Henky & Co ini, semua style gambar komikusnya mengacu pada Henky. Bahkan, tokoh-tokoh populer karya Henky seperti Jaka Tuak, Soma, Pengemis Kusta, Kumala (untuk menyebut beberapa contoh), sosoknya  juga dipinjam anak-anak Henky & Co ini.

Salah satu komikus yang “bernaung” di bawah sindikasi ini adalah Yoyo Soenaryo yang menggunakan nama panggung Yanthi Shiu. Dalam deretan nama-nama Henky & Co, Yanthi terbilang paling produktif. Bahkan, di satu masa produktivitasnya melampaui Henky. “Waktu itu, saya termasuk produktif banget. Sampai-sampai saya disebut teman-teman sebagai pabrik komik. Dalam sebulan, saya bisa menyelesaikan empat jilid,” tutur Yanthi.

Yanthi mengakui, Henky berpengaruh besar dalam kariernya. “Ia tenar dengan tokoh Jaka Tuak. Gaya gambarnya cukup mempengaruhi cergamis waktu itu, terutama anak-anak muda yang usianya di bawah Henky. Semula, saya membuat komik berjudul Huru Hara di Jenggala dengan gaya Teguh. Tapi, baru beberapa jilid,  penerbit menyarankan saya agar meniru gaya gambar Henky. Soalnya Henky sedang naik daun.”

Usai menyelesaikan Huru Hara Jenggala tahun 1976, Yanthi menemui Henky. Tujuannya adalah belajar dari Henky. Yanthi menemui Henky di rumahnya di kawasan Menteng Dalam. Henky rupanya seorang yang ramah. Keinginan Yanthi untuk belajar disambut dengan tangan terbuka. Namun, Henky tidak secara langsung mengajar teknis membuat komik. “Awalnya saya melihat cara kerjanya. Juga meniru gaya gambarnya. Terus terangnya, gambarnya enak sekali saya ikuti,” kata Yanthi.

Sebelum kedatangan Yanthi, sudah ada beberapa nama anak muda yang “belajar” padanya. Gaya gambarnya juga sudah mengacu ke Henky. Antara lain Arie (Rusmin) dan Pros. Hanya saja, nama Henky & Co belum terbentuk. Yanthi mengaku, dari sebuah perbincangan dengan teman-temannya ini, terbetik ide untuk membuat semacam kelompok, meski nonformal, namanya: Henky & Co. “Saya lupa tahun persisnya. Mungkin sekitar tahun 77.”

Perkiraan Yanthi tentang tahun kemunculan Heny & Co tepat. Saat menelusuri karya Henky, label Henky & Co Production sudah dipakai Henky dalam komik Pedang Iblis yang terbit tahun 1977.

Mereka pun berproses bersama dengan mengontrak sebuah rumah di kawasan Kwitang. Di rumah kontrakan itu, mereka membuat meja kerja, sama-sama berkarya. Mereka pun dalam komik-komiknya memberi label Henky & Co. Ternyata, sambutan penerbit lumayan bagus. Karya-karya mereka pun lancar terbit. “Henky & Co ini sebenarnya organisasi non formal. Tidak ada aturan yang mengikat kami. Ya, sekadar have fun saja, berkarya bersama-sama,” papar Yanthi.

Proses berikutnya, makin banyak komikus yang bergabung. Sebut saja nama-nama seperti Arie, Yanthi Shiu, Pros, Abby, Yonky, Adhi, Hanny, Sindhu, Prisma. Selain mereka, “Sebenarnya ada beberapa komikus yang terpengaruh gaya Henky, tapi mereka enggak bergabung dengan Henky & Co,” ujar Yanthi.

Beberapa hal menarik bisa dicatat dari kelompok komikus yang kemudian mewarnai jagat komik kita di periode tahun 80-an. Beberapa karya mereka dengan label Henky & Co ini, di sampul depan tertulis cerita oleh Henky. Padahal, sebenarnya ini adalah semacam endorsement. Kira-kira, nama Henky menjadi jaminan komik mereka bakal diminati pembaca. “Cerita, sih, kami sendiri yang membuat. Label Henky & Co dan cerita oleh Henky ini atas permintaan penerbit. Ini, kan, strategi bisnis. Saya dan teman-teman, sih,enggak keberatan.”

Hanya saja, anak-anak Henky & Co ini mengacu pada Henky, baik dari sisi gambar maupun cerita yang mengambil kisah dari cersil. “Memang tidak semua teman mengambil cerita dari cersil. Saya sendiri, beberapa cerita saya ambil dari cersil, sebagian lagi saya buat sendiri,” kisah Yanthi seraya mengatakan Henky punya referensi buku cersil.

Dari sisi fashion busana tokoh-tokohnya, “Kadang kami mengacu pada film silat Mandarin yang saat itu memang sering diputar di gedung-gedung bioskop kita. Tapi, untuk gerakan silat, saya sendiri pernah belajar ilmu bela diri. Begitu pula dengan Henky, dia juga pernah belajar bela diri,” lanjut Yanthi.

Strategi menggunakan nama Henky & Co ternyata membuahkan hasil. Penerbit menyambut komik mereka dengan tangan terbuka. Bahkan di masa itu, Yanthi mengaku mereka sanggup bertengger di papan atas jajaran komikus Indonesia. “Bahkan, honor saya dan Henky, bisa lebih tinggi ketimbang komikus lain. Hal ini menunjukkan positioning Henky di mata penerbit memang kuat. Selain itu, bisa jadi produktivitas kami memang menguntungkan penerbit. Rasanya kami seperti dininabobokan penerbit.”

Periode 80-an, bisa dibilang milik Henky. Mereka bertahan sampai titik akhir,  sampai masa surut komik Indonesia.  Memasuki periode 90-an, komik Indonesia tak lagi diminati meski sesungguhnya tidak pernah mati. Komikus senior Hasmi mengungkapkan, di masa tahun 80-an, komik Indonesia tidak lagi seramai tahun 70-an. “Ketika komik mulai surut, di Jakarta justru Henky tengah melejit di tahun 80-an. Saat itu, saya sudah tidak begitu produktif berkarya. Komikus seangkatan saya juga begitu. Tapi, Henky & Co  malah berkibar.”

Paparan di atas menunjukkan, kiprah Henky sungguh tak bisa diabaikan. Kehadirannya dalam peta dunia komik Indonesia telah memberi pengaruh besar.

***

Dunia komik sudah mendarah daging dalam jiwa Henky. Komikus menjadi pilihan profesinya. “Dari komiklah Bapak menghidupi keluarga,” kata Adam Anjasmara, putra sulung Henky. Dari pernikahannya dengan Anita Soraya, Henky memiliki empat anak. Yaitu Adam Anjasmara (lahir tahun 1974), Rino S. Gautama (lahir 1977), Puspa Pelangi (kelahiran 1983) dan Puspa Miranti (kelahiran 1985).

Adam mengungkapkan, Henky belajar dan membuat cerita komik secara otodidak. Komik sudah menjadi tumpuan hidup keluarganya. “Kalau enggak ngomik, keluarga kami ya enggak makan,” tutur Adam.

Dalam pandangan Adam, ayahnya adalah sosok seniman. “Seingat saya, Bapak selalu membuat komik di malam hari. Hidupnya kayak kalong. Malam bekerja, pagi tidur. Saat bikin komik, Bapak selalu ditemani rokok dan kopi. Makanya Bapak sering batu-batuk. Karena itulah, Bapak jadi hobi minum obat batuk.”

Sebagai sosok seniman yang tidak mau diatur, kata Adam, ayahnya tidak mau terikat aturan dalam sebuah institusi. “Makanya ketika enggak bikin komik karena sudah tidak ada permintaan dari penerbit, Bapak tetap tidak mau kerja sama orang lain. Saat itu, banyak teman-teman Bapak yang kerja di dunia advertising, tapi Bapak enggak mau kerja kantoran.”

Henky tetap menumpukan hidupnya dari dunia gambar. Selanjutnya, ia sering membuat ilustrasi untuk buku-buku cerita. Untuk menyalurkan hasrat kesenimanannya, Henky membuat sanggar lukis di Ancol. “Bapak tidak menjual mahal lukisannya. Yang penting laku untuk menafkahi keluarga. Ohya, Bapak pernah juga dapat order bikin poster pembangunan.”

Sosok seniman komik itu sudah pergi. Namun, jejak karyanya akan tetap abadi dalam ruang imajinasi penggemarnya.***

 

Komik karya Henky, antara lain

 

  1. Eva (1969)
  2. Affair
  3. Puteri Alas Roban (1971)
  4. Kembalinya Naga Percona (1971)

 

Serial Jaka Tuak

  1. Tuak (UP Sumber Djaja 1971)
  2. Jaka Tuak Pemabuk dari Gunung Kidul (Pancar Kumala 1972)
  3. Cadas Siluman (1973)
  4. Mata Setan (1975)
  5. Pembalasan Mata Setan I (1976)
  6.  Pembalasan Mata Setan II (1980)
  7.  Bisikan Iblis (1982)

Serial Pengemis Kusta

  1. Pendekar Seruling Gembala (1974)
  2.  Pengemis Kusta (1978)
  3.  Kembalinya Pengemis Kusta (1980)
  4. Tenaga Ganda Iblis (1981)

 

Serial Pedang Iblis

  1.  Serial Pedang Iblis (1977)
  2.  Bangau Sakti (1979)
  3.  Tabib Dewa Sesat (1980)
  4. Pendekar Sesat (1987)

Serial Kumala

  1. Busur Kumala (1979)
  2.  Peri Harpa Emas (1982)
  3. Kisah Sepasang Malaikat (1983)
  4. Pendekar Rajawali (1984)
  5.  Asmara Rajawali (1985)
  6.  Jodoh Rajawali  Sakti (1987)

Komik Lebar

  1.  Kisah Si Burung Nazar

Keterangan foto:

Henky di tengah para sahabat yang sebagian armada Henky & Co. 1. Henky, 2. Adhi (Lukman), 3. Hanny (Yuyun). Mereka mendapat job bikin baliho setelah era keemasan komik Indonesia.

Foto ini kiriman Pak Dedi Sugianto yang mendapatkannya dari Pak Lukman. Terima kasih.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*