Catatan: Muhammad Tanfidz Tamamuddin

 

foto-profilSaat bicara soal komik Indonesia generasi terdahulu, komik-komik apakah yang terlintas dalam pikiran? Kemungkinan besar nama-nama seperti Si Buta dari Goa Hantu, Pandji Tengkorak, atau Jaka Sembung yang biasanya akan langsung terbayang dalam benak kita. Tidak heran, judul-judul tersebut memang termasuk dalam jajaran komik yang paling terkenal di zamannya. Namun, seberapa banyak di antara kita yang mengenal komik Medan? Bila bukan seorang yang benar-benar serius menggeluti komik lokal, boleh jadi kita malah abai akan keberadaan komik jenis ini. Oleh karena itu, buku Lintas Cergam Medan : Catatan Seorang Kolektor yang ditulis oleh Henry Ismono ini menjadi catatan sejarah yang amat berharga mengingat komik Medan juga turut mengisi babak penting dalam perjalanan komik Indonesia.

Bagi kita yang hidup di masa sekarang, mungkin akan berpikir, kenapa komik Medan menjadi penting? Lantas, apa bedanya dengan komik lain yang ada di masa lalu?

2Komik Medan muncul saat terjadi penolakan besar-besaran terhadap komik superhero seperti Sri Asih, Siti Gahara, atau Putri Bintang karena dianggap sebagai biang keladi merosotnya moral anak karena bersifat kebarat-baratan dan mengandung konten yang tidak mendidik. Para komikus Medan melawan tuduhan tersebut dengan mengangkat khasanah lokal, terutama legenda dari ranah Minangkabau, Tapanuli, atau Deli dalam karya-karya mereka dalam rangka membangun kepribadian bangsa dengan semangat progresif revolusioner. Selain mengangkat khasanah lokal, format penerbitan dalam bentuk landscape, serta penyajian dalam bentuk rangkaian gambar yang dijelaskan dengan narasi panjang bernuansa sastrawi yang dipelopori Zam Nuldyn juga turut mengukuhkan identitas komik Medan yang membuatnya berbeda dengan komik lokal lain.

3Tak hanya membahas mengenai sejarah dan identitasnya, buku Lintasan Cergam Medan : Catatan Seorang Kolektor juga mengenalkan kita pada maestro komik Medan seperti Taguan Hardjo, Zam Nuldyn, Bahzar, serta Tino Sidin yang belakangan menjadi pembawa acara Gemar Menggambar yang sangat populer di TVRI periode 80-an. Sebagai buku yang memuat kajian penting dalam sejarah komik Indonesia, saya sangat merekomendasikan buku ini pada para penggiat komik khususnya generasi muda agar tidak meninggalkan sejarah.

 

Tulisan ini diambil dari qubicle.id atas seizin penulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*