majalah-tjergam Istilah Cergam, kependekan dari Cerita Gambar, ternyata bukan sekadar istilah untuk menggantikan kata komik yang berasal dari Barat. Ia lebih dari makna keseluruhan identitas keindonesiaan. Memang dari pilihan katanya, cergam merujuk pada istilah yang lebih dulu ada seperti cerpen: cerita pendek.

Makna cergam yang lebih dalam itu, saya temukan dalam majalah Tjergam edisi pertama. Sebuah majalah berkala tentang komik Indonesia terbit pertama kali Desember 1961 dan dierbitkan oleh Penerbit ATB Medan. Yang menarik dari majalah Tjergam adalah pengasuhnya yang merupakan para cergamis garda depan periode Medan dengan pemred Zam Nuldyn dan Loethfi AS dan dibantu oleh pengasuh deretan cergamis kenamaan. Antara lain Taguan Hardjo, Djas, Bahzar, Dada Meuraxa, Arry Darma, Utji, dan lain-lain.

Dalam kata pengantar Tjergam dituliskan, “Istilah tjergam begitu dinamis dan revolusioner, karena fungsinya tidak hanya terbatas sebagai majalah berkala ini, akan tetapi lebih jauh dari itu. Tjergam dapat digunakan oleh masyarakat secara luas dan umum sebagai pengganti KOMIK yang bersifat barat yang sudah barang tentu tidak sesuai lagi dengan kepribadian kita.”

Lebih jauh dituliskan, “Sesuai dengan nama Tjergam yang dinamis dan revolusioner, maka hal yang berkenaan dengan isinya sudah barang tentu kami usahakan pada mendapatkannya dengan unsur membangun spirit, moral, dan mental masyarakat, disamping tujuan yang berfungsi mendidik, mecintai keindahan, mencintai keluhuran budaya nasional, yang secara keseluruhan bersumber kepada huruf K daripada kata USDEK.”

Menyimak kata pengantar majalah Tjergam, kentara benar, spirit yang coba digaungkan pengasuhnya bersumber pada kebijakan politik yang digelorakan Presiden Soekarno dengan pidatonya tanggal 17 Agustus 1959. Sebuah pidato yang kemudian tenar dengan Manipol USDEK (Manifesto Politik – UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia. Sebuah penyatuan kekuatan yang ada di Tanah Air yang masih muda itu.

Lantas, dengan pengertian Tjergam di atas, bagaimana pengasuh Tjergam menerjemahkannya dalam tiap edisinya? Jawabnya, benar-benar cergam yang bernapaskan Indonesia. Misalnya saja Zam Nuldyn menggarap kisah berlatar Tapanuli Tengah dengan lakon berjudul Hikayat Puti Runduk. Ada juga karya Djas yang menggarap Bang Miun, Mengajar Si Tamak, respons terhadap sifat manusia yang mengutamakan kelobaan. Ada pula kisah Sampuraga, karya Loethfi AS, kisah anak durhaka dari Mandailing Natal, ini kisah serupa Malin Kundang dari tanah Minang.

Andai ditarik ke zaman kekinian, bagaimana konsep Cergam diterjemahkan? Bisa jadi sebuah kisah yang menggarap realitas keadaan Indonesia pada masa sekarang, tak sekadar kisah wayang, hikayat, atau legenda yang pernah hidup di masyarakat. Atau kisah-kisah yang bersumber pada respons dari keadaan di sekeliling kita. Tentu, semua berpulang pada para kreatornya.

Kembang Larangan, 10 Maret 2014

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*