ilus1Mungkinkah terbitan cergam alias komik Indonesia menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan yang bisa mempererat hubungan dua negara? Jawabannya tentu saja bisa. Ini bukan premis tanpa data. Setidaknya indikasi ini saya temukan dalam sebuah komik dwibahasa berbahasa Indonesia dan Tionghoa. Komik ini berjudul Gugur di Selat Bali karya cergamis yang namanya masih sangat asing yaitu Oentoeng. Cergam yang diterbitkan oleh PT Meutia Press ini diterjemahkan ke dalam bahasa Cina oleh HD Liu.

Saya beruntung mendapatkan kopian cergam ini berkat kebaikan hati sahabat saya, Pak Setyawan Pangumiharja. Sayang, kata Pak Setyawan, cergam koleksinya ini tanpa cover. Sayangnya pula, cergam ini tak menerakan tahun terbitnya.

Saya ingin mencoba menelusuri jejak cergam berharga ini dan konteks penerbitannya. Cergam dengan format memanjang ini mencantumkan kata pengantar yang secara gamblang menunjukkan niatan penerbitnya. Saya akan kutip seutuhnya:

“Menurut sejarah, baru kali ini dalam dunia penerbitan menerbitkan buku bergambar yang memakai bahasa Indonesia/ Tionghoa. Mengingat pula setelah terjalinnya persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok dalam lapang kebudayaan, maka untuk lebih mempererat tali persahabatan tersebut terutama dalam memperluas kesusasteraan kedua bangsa ini, kini diterbitkan Buku Cerita Bergambar yang melukiskan gelora revolusi Indonesia yang sengaja oleh penerbit menggunakan bahasa Indonesia/ Tionghoa. Semoga dengan adanya penerbitan yang sederhana ini, persahabatan kedua bangsa akan lebih akrab.”

Kata pengantar ini jelas mengungkapkan respons terjalinnya jalinan hubungan kedua negara. Menilik sejarah hubungan kedua negara, Akbar Nanda, sarjana Hubungan Internasional UGM yang menulis buku Transformasi Besar China mengatakan, “Untuk relasi ekonomi, hubungan Indonesia dengan bangsa Tiongkok, tentunya sudah berlangsung lama. Namun, sebagai bangsa modern, hubungan diplomatik Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Indonesia terjadi secara resmi tanggal 13 April 1950.”

Hubungan kedua negara pernah mengalami masa pasang surut. Masa kemesraan terjadi di tahun 50-an, tatkala Perdana Menteri Zhou Enlai ikut terlibat dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Dan, tahun 1956 Presiden Soekarno mengunjungi Tiongkok. Masa berikutnya, 1 April 1961, kedua negara menandatangani perjanjian persahabatan dan persetujuan kerja sama kebudayaan bilateral.

Masa mesra diperteguh  ketika Bung Karno tahun 1964 membentuk poros Jakarta-Peking. Namun, poros ini lebih untuk kepentingan politik, bukan lagi sekadar hubungan kebudayaan.

***

ilus2Dari referensi singkat ini, cergam Gugur di Selat Bali ini, tampaknya mesti diletakkan dalam hubungan kebudayaan, meski juga besar kemungkinan ada muatan ideologis di dalamnya. Cergam ini mengisahkan Tomo, seorang pemuda yang memenuhi panggilan menjadi heiho dan kemudian menjadi laskar PETA. Ia telibat dalam perjuangan bangsa melawan Belanda yang mencoba kembali menduduki RI.

Pantaslah kiranya, penerbit menyebutkan cergam ini bermuatan ‘gelora revolusi Indonesia.”

Bisa jadi bukan karena kebetulan, periode itu juga ditandai komik terjemahan asing dari daratan Cina ke dalam bahasa Indonesia.  Saya menemukannya dalam komik Desa Strategis, Perang Kotor Yankee di Vietnam Selatan yang disusun oleh Sino  Buono yang diterbitkan UP Karya Bandung.

Akan tetapi, komik ini telihat lebih politis. Ia mengungkapkan Vietnam Utara dengan tatanan  sosialis, membuat masyarakatnya sejahtera. Berseberangan dengan Vietnam Selatan, dimana imperialis Yankee dengan bonekanya berlaku sewenang-wenang untuk menekan perjuangan rakyat.

Desa Strategis, tampak benar ideologi sosialisnya, yang kalau diletakkan dalam kondisi politik Indonesia masa itu, memang sedang kuat sosialismenya.

Hanya sayangnya, telaah cergam dalam konteks Indonesia-China itu, menjadi sulit ditelusuri karena bencana G30S PKI. Bahkan, Boneff pun ketika meneliti komik Indonesia, sudah tidak menemukan komik jenis ini karena sudah dibakar. Eh, secara kebetulan, komik Desa Strategis saya, juga tampak selamat dari upaya pembakaran.

***

Lepas dari muatan ideologi, sejarah komik Indonesia yang panjang ini pernah menerakan: ada jenis cergam yang diupayakan dalam jalinan diplomasi kebudayaan dua bangsa. Mudah-mudahan kelak, saya bisa menemukan cergam jenis ini.

 Kembang Larangan, 18 Maret 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*