ilus1Tahun 2015 baru saja berlalu. Ada beberapa peristiwa penting yang melibatkan komik Indonesia alias cergam . Beberapa event digelar. Mulai dari Pameran Komik Superhero dan Silat Indonesia di Museum Mandiri pada bulan Februari, Pasar Komik Bandung (Pakoban) di bulan Mei, Mangafest di Jogja bulan Oktober, Festival Komik dan Animasi, November di Semarang, sampai Retrospektif Komik Indie di Bentara Budaya Jakarta.

Tak ketinggalan, pelaku komik Indonesia terlibat meriah di acara Popcon Asia pada Agustus lalu. Di ajang ini ada sesi pengumuman dan penyerahan Kosasih Award, sebuah penghargaan untuk komik yang dianggap terbaik. Barangkali, yang paling membahagiakan adalah komik Indonesia diperkenalkan ke publik dunia lewat acara Frankfurt Book Fair, lengkap dengan kehadiran para pelakunya di sana.

***

Sebagai kolektor cergam, saya hanya sanggup berkontribusi dengan cara  mengoleksinya. Sepanjang tahun 2015 dan tahun sebelumnya, saya berusaha untuk terus mengumpulkan cergam.  Koleksi saya bertambah 302 komik yang terbit sepanjang 2015 itu. Dibandingkan tahun sebelumnya, saya menyebut sebagai gerakan komik yang melompat luar biasa. Sebab, tahun 2014, saya hanya berhasil mengumpulkan sekitar150-an judul., yang berarti ada kenaikan 100 persen lebih.

Tentu, saya tidak sanggup mengoleksi semua komik yang pernah terbit karena beragam keterbatasan. Dalam taksiran saya, komik yang lolos dari rak koleksi saya, dalam kisaran 30-50 judul. Namun, saya meyakini,  setidaknya koleksi saya bisa menjadi salah indikator pertumbuhan cergam beberapa tahun belakangan ini. Saya berharap ada data pembanding dari teman atau lembaga penggiat cergam.

***

ilus2Pertumbuhan cergam secara kuantitas memang memberi kesegaran. Namun, apakah sudah menggembirakan di sisi industri? Saya rasa masih belum meski ada harapan. Salah satu indikatornya adalah cergam yang terbit massal dalam pengertian dipajang di rak toko buku besar masih tenggelam di lautan komik asing.

Dari 302 cergam koleksi saya menunjukkan, kurang dari 50 persen yang sanggup menembus toko buku. Selebihnya, terbit terbatas, terbit dengan semangat indie, tapi sisi positifnya: saya melihat semangat luar biasa dari para kreator untuk berkarya. Hal ini terlihat dari ajang Popcon 2015, dimana sebagian besar pengisi stand adalah mereka yang menerbitkan komiknya secara mandiri.

Khusus Popcon 2015, saya melihat kegairahan luar biasa. Di event ini, dari hasil memelototi satu demi satu stand, saya mendapatkan sekitar 80 judul cergam.

Tahun 2015 menunjukkan, penerbit yang “menguasai” pasar cergam adalah penerbit di bawah naungan Mizan. Sebagai penerbit besar, Mizan sanggup mengisi toko buku dengan cergam terbitannya. Mereka bahkan memproduksi nyaris setengah dari peredaran komik di toko buku.

Keberhasilan kelompok Mizan adalah karena sanggup mencari dan menciptakan pasar, terutama cergam untuk anak-anak dan remaja.  Serial komik KKPK (Kecil Kecil Punya Karya) sudah terbit lebih dari 100 judul. Komik dengan label Fantasteen sudah terbit –dalam koleksi saya- 30 judul. Ini pun masih muncul dengan turunannya seperti  Fantasteen Urban, Fantasteen Karnaval, Fantasteen The Series, dan Mixed Fantasteen. Penerbitan yang rutin dari seri ini menunjukkan, Fantasteen sudah punya pasar tersendiri.

Selain itu, kelompok Mizan juga menerbitkan serial lain yang juga sudah muncul dalam banyak judul. Yang menonjol antara lain seri Gang Samad, Ghost School Days, Roro Penjaga Laut, Anak Muslim, Eri Chan,Princess Academy, Komik Ibadah. Kelompok Mizan juga berhasil menarik komik kompilasi Wook Wook dan Garudayana. (Khusus Mizan, saya akan coba tulis khusus di artikel lain).

Untuk komik yang masuk pasar luas, kelompok Gramedia terlihat jauh ketinggalan dibandingkan Mizan. Bila tahun sebelumnya mereka berusaha fokus ke komik lokal dengan Koloni-nya, tahun 2015 hanya segelintir yang terbit. Di antara yang segelintir itu misalnya saja komik berjudul Tiap Detik, Zombie Ngehe, Komik Hadits, Grey dan Jingga, Arigato Macaroni.

Selain Mizan dan Gramedia, penerbit Bentang juga mulai rajin menerbitkan komik. Moga saja, tiga penerbit besar ini, makin rajin menerbitkan cergam di tahun 2016 ini.

Oh ya, ada terlihat penerbit baru yang memproduksi cergam, terutama komik kartun dengan warna Islami. Namun dibandingkan tahun 2014, tahun lalu komik jenis ini mengalami penurunan yang rada tajam.

Di luar penerbit besar, penerbit Wahana Inspirasi Nusantara lewat Re:On paling mencuri perhatian. Mereka sudah berhasil meraih pembacanya-bahkan-  dalam sebuah komunitas. Re:On dalam desain komik kompilasi, sanggup terbit berkala dan telah sampai seri ke-17. Tahun 2015 ini, Re:On juga mulai fokus menerbitkan komik utuh: Galau Man (Ockto Baringbing dan Ino Septian), Tawur (C. Suryo Laksono), The Grand Legend Ramayana (Is Yuniarto). Keberhasilan Re:On menjaring pembacanya, setidaknya terlihat  dari keberhasilan mereka memacetkan Jl Margonda Raya ketika mereka secara tunggal menggelar acara Re:On Convention! di Margo City pada bulan April. Ini jelas fenomenal.

Penerbit Cendana Art Media juga masih terlihat konsistensinya menerbitkan komik secara massal. Tahun 2015, mereka menerbitkan Teroris Visual (Aji Prasetyo), 101 Kesalahan di Balik Berita (Ockto Baringbing dan Bagus Seta), Yuk Berinternet (Valens Riyadi, Kurnia Harta Winanta,  A. Osa), dan bersama Frank Komik menerbitkan Setan Jalanan 2 (Franki Indrasmoro dan Haryadhi.)

Dari Yogyakarta, meski dengan terbit terbatas, Metha Studio juga tak kehilangan energi untuk terus berkontribusi untuk perkembangan cergam. Dengan pilihan gaya realisnya, Metha tahun 2015 menerbitkan Drama Boy (Sungging dkk), Trah (Trie Hendrayana), Kukuh dalam Kemelut (Jink), dan menuntaskan Lentera dari Selarong (Jink).

***

Menyusul Re:On, tahun 2015 juga ditandai dengan munculnya “media” kompilasi komik yang diterbitkan secara berkala. Yaitu Wook Wook, Shonen Fight, Roket, dan Kosmik. Di antara mereka, saya meramal Kosmik bakal menjadi magma komik Indonesia. Indikasinya sudah terlihat ketika di ajang Popcon saja, Kosmik yang kabarnya dicetak ribuan, habis dalam beberapa hari acara. Kosmik memang menyimpan bara karena didukung kreator muda potensial seperti Ockto, Erfan Fajar. Alex Irzaqi, Faza Meonk dengan Si Juki-nya.

Shonen Fight juga punya potensi kuat dengan segemen khusus-nya. Apalagi, Shonen juga mengetengahkan karya kreator kuat seperti K. Jati dan Azisa Noor. Meski saya memberi catatan khusus pada Kosmik dan Shonen Fight, saya tidak mengesampingkan Wook Wook dan Roket.

Komik dengan konsep antologi yang direncanakan untuk terbit berkala, juga banyak digarap kreator dengan semangat indie. Hanya saja, mereka perlu konsistensi dan semangat lebih. Banyak di antara mereka yang masih “proses belajar” dan perlu mematangkan garis gambar dan memperkuat ceritanya.

Akan tetapi, dalam jalur indie ini, saya melihat banyak nama yang karyanya apik dan mereka punya potensi menjadi cergamis kuat. Salah satu yang produktif berkarya dengan kualitas karya memadai antara lain Hide Hidayat, Ajon Purwo, Endar Novianto, dan mereka yang bergabung dalam terbitan Neo Paradigm Comics.

Moga tahun 2016 ini mereka akan terus berkarya dan komik Indonesia makin menunjukkan gairahnya.

Kembang Larangan, 2 Januari 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*