aan2Perjalanan ke Jawa Timur mengantarkan saya berjumpa dengan Ardian Syaf . Sosok komikus yang rendah hati ini memilih tinggal di kampung halamannya di Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Tulung Agung, bersama istri dan seorang anaknya. Dari kampung halamannya, karya Aan, sapaan akrabnya, mampu menembus dunia. Bahkan, ia disodori kontrak eksklusif sebagai penciller  oleh penerbit raksasa Amerika, DC Comics.  Artinya, ia tidak boleh membuat ilustrasi selain di DC.

Tentu, Aan tidak meraihnya dengan gampang. Lulus kuliah tahun 2004 di Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Malang, ia sempat bekerja sebagai tukang lay out dan illustrator sebuah penerbitan.

“Sejak tahun 2005, saya mulai melamar untuk menjadi illustrator penerbit dunia. Caranya, saya memasang lowongan pekerjaan untuk illustrator di berbagai web, dengan dilengkapi ilustrasi terbaik karya saya. Tapi, lama sekali enggak dapat order. Paling hanya order membuat komik tanpa imbalan. Meski begitu, tetap saya kerjakan, sambil mengasah kemampuan menggambar,” kata Ardian

Pelan-pelan Ardian mulai mendapat order kecil-kecilan. “Awalnya, per halaman dibayar 25 dolar. Itu pun komik pendek 8 halaman. Selama dua tahunan, saya hidup dari order-order kecil. Saya yang waktu itu sudah menikah, sempat putus asa. Sempat ingin bekerja di kota besar,” jelasnya.

 

SIKAP PROFESIONAL

Selanjutnya, Aan mendapat  informasi dari Ketty, seorang penulis Irlandia. Sebuah  penerbit tengah mencari ilustrator komik untuk proyek komik berjudul Dresden Files. Ia segera memasukkan lamaran dengan melampirkan karya terbaiknya. “Esoknya saya langsung dapat jawaban. ‘Selamat Anda akan kami kontrak.’ Bahkan, saya dapat kontrak eksklusif dari penerbit Dabel Brother di AS dalam jangka waktu tertentu. Total saya mengerjakan sekitar 12 jilid, masing-masing setebal 22 halaman. Satu jilid, saya kerjakan selama sebulan. Hitungannya, satu hari satu halaman. Honor per halaman 100 dolar,” kata Aan, seraya mengatakan komiknya terbit tahun 2008.

Menjadi ilustrator untuk penerbit asing, menurut Aan, butuh sikap profesional. Mereka disiplin soal waktu. Dalam sehari, Aan mesti menyelesaikan satu halaman. Kata Aan, sebenarnya bukan persoalan berat. Naskah yang ditulis oleh Mark Powers ini, cukup rinci. “Dari deskripsi yang ditulis sang penulis, saya memindahkannya dalam bahasa gambar. Ternyata, mereka suka dengan karakter gambar saya,” kata Aan.

Semakin lama, gambar Aan makin matang. Apalagi, ia sangat menikmati pekerjaannya. Proyek pertama ini pun sanggup ia selesaikan dengan baik. Aan cukup berbangga ketika mendapat kabar, Dresden Files masuk peringkat keempat komik terlaris. Bahkan, masuk nominasi penghargaan komik di AS. Otomatis nama Ardian ikut terangkat. “Sayang, penerbit Dabel Brother, akhirnya bangkrut.”

Meski begitu, Aan sudah menancapkan taring sebagai ilustrator mumpuni. Katanya, penerbit komik dunia itu tampaknya luas, tapi sesungguhnya sempit. Seorang ilustrator yang bagus di satu penerbit, akan, gampang dikenali penerbit lain. Itulah yang dialami Aan. Lepas dari Dabel Brother, Aan diajak bergabung oleh sebuah agency yang berkedudukan di Spanyol.

Sang agency menawarkan gambar Anto ke penerbit di Amerika. Tak tanggung-tanggung, Anto mendapat kontrak dari Marvel. Ia mengerjakan komik superhero X-Men. “Saya enggak menyangka bisa bekerja di sebuah penerbit besar.”

aan1Selanjutnya, ia dapat tawaran dari DC Comics. Ia menggarap JLA danTitans. Bahkan, ia menggarap komik Superman, Batman, Green Lantern, Aquaman, superhero legendaris dunia. Mulai honor 200 dolar per halaman, ia dikontrak eksklusif selama dua tahun dengan bayaran 235 dolar per halaman. “Tahun ini kontrak berakhir. Saya harap, sih, nanti akan dikontrak kembali.”

Sebenarnya Aan sering diminta penerbit untuk menghadiri event komik di AS. Di sana, acara komik memang diselenggarakan tahunan. Biasanya, menghadirkan para kreator untuk keperluan launching komik atau book signing. Tahun lalu, Aan sebenarnya juga diundang ke Afrika Selatan untuk acara komik internasional. Uniknya, Aan tak pernah memenuhi undangan. “Saya lebih suka tinggal di desa,” ujarnya tenang.

Omong-omong tidak tertarik membuat komik lokal? “Nanti kalau kontrak eksklusifnya sudah selesai, saya ingin juga membuat komik lokal.”

Kembang Larangan, 8 Maret 2010

 Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Nova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*